Pendidikan Muhammadiyah dan Tantangan Kecerdasan Buatan

Suara Muhammadiyah

5 August 2026

127
Istimewa

Istimewa

Pendidikan Muhammadiyah dan Tantangan Kecerdasan Buatan

Penulis: Dr. Hasbullah, M.Pd.I., Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu, Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PNF PWM Lampung

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah hampir seluruh sendi kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Pada tahun 2026, AI bukan lagi sekadar wacana futuristik, melainkan sudah menjadi bagian dari keseharian: mulai dari mesin pencari cerdas, asisten penulisan, analisis pembelajaran, hingga sistem rekomendasi dalam berbagai platform digital. Dalam konteks ini, pendidikan Muhammadiyah menghadapi tantangan sekaligus peluang besar. Sebagai gerakan Islam berkemajuan, Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi penonton dalam arus perubahan, tetapi harus tampil sebagai pelopor dalam memanfaatkan teknologi secara cerdas, etis, dan berorientasi pada kemaslahatan.

Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah menempatkan pendidikan sebagai salah satu instrumen utama dakwah dan pencerahan. Sekolah, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi Muhammadiyah telah menjadi ruang penting untuk membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan beramal saleh. Pendidikan Muhammadiyah bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses pembentukan manusia seutuhnya yang berakhlak, mandiri, dan memiliki kesadaran sosial. Prinsip inilah yang membuat pendidikan Muhammadiyah tetap relevan di tengah perubahan zaman. Namun, kehadiran AI menuntut pembaruan cara pandang, strategi, dan praksis pendidikan agar misi pencerahan itu tidak tertinggal oleh derasnya arus digital.

AI menawarkan berbagai kemudahan dalam proses pendidikan. Guru dapat memanfaatkannya untuk menyusun bahan ajar, menganalisis perkembangan belajar siswa, membuat evaluasi, hingga mengembangkan pembelajaran yang lebih personal. Siswa pun dapat menggunakannya sebagai teman belajar yang membantu menjelaskan konsep, menerjemahkan teks, atau memberi latihan tambahan. Dalam arti tertentu, AI dapat meningkatkan efisiensi dan memperluas akses terhadap pengetahuan. Di negara dengan sebaran geografis luas seperti Indonesia, teknologi ini juga berpotensi membantu pemerataan mutu pendidikan, terutama jika digunakan untuk mendukung sekolah-sekolah yang sumber dayanya masih terbatas.

Meski demikian, kehadiran AI tidak bebas dari tantangan. Tantangan pertama adalah tantangan etika. Di banyak tempat, AI mulai digunakan secara berlebihan bahkan tidak bertanggung jawab. Siswa dapat tergoda untuk menyerahkan seluruh tugas kepada mesin tanpa proses berpikir yang memadai. Guru pun bisa tergantung pada hasil instan tanpa lagi melakukan perenungan pedagogis yang mendalam. Jika tidak dikendalikan, AI dapat mendorong budaya plagiarisme, menurunkan kejujuran akademik, dan melemahkan daya kritis. Dalam pendidikan Muhammadiyah, persoalan ini sangat penting karena kejujuran, amanah, dan tanggung jawab merupakan bagian dari pendidikan akhlak yang tidak boleh dinegosiasikan.

Tantangan kedua adalah perubahan peran guru. Di era sebelum digital, guru sering dipandang sebagai sumber utama informasi. Kini, informasi tersedia melimpah di ujung jari, dan AI mampu menjawab banyak pertanyaan dengan cepat. Ini tidak berarti guru kehilangan peran, tetapi peran guru harus bergeser. Guru Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi penyampai materi, melainkan harus tampil sebagai fasilitator, pembimbing, penanam nilai, dan teladan hidup. AI bisa menjelaskan rumus, tetapi tidak bisa menanamkan adab. AI bisa memberi jawaban, tetapi tidak bisa menggantikan kasih sayang, keteladanan, dan sentuhan kemanusiaan yang menjadi jiwa pendidikan.

Tantangan ketiga adalah lemahnya literasi digital dan literasi AI. Tidak semua guru, siswa, dan pengelola sekolah Muhammadiyah memiliki pemahaman yang memadai tentang cara kerja AI, manfaatnya, risikonya, serta etika penggunaannya. Akibatnya, teknologi sering dipakai secara dangkal, sekadar mengikuti tren, atau bahkan ditolak karena dianggap mengancam. Padahal, sikap yang paling bijak bukanlah menolak mentah-mentah, melainkan memahami secara kritis lalu mengarahkan pemanfaatannya untuk tujuan pendidikan. Muhammadiyah memiliki modal besar berupa jaringan lembaga pendidikan yang luas. Modal ini harus diiringi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar tidak terjadi kesenjangan antara kemajuan teknologi dan kesiapan pengguna.

Selain itu, ada tantangan spiritual dan karakter. Pendidikan Muhammadiyah sejak awal dibangun di atas integrasi iman, ilmu, dan amal. Bila AI dimanfaatkan tanpa kendali nilai, proses belajar dapat menjadi sangat mekanis dan kering dari ruh keislaman. Siswa mungkin menjadi cerdas secara teknis, tetapi miskin empati. Mereka bisa mahir mencari jawaban, tetapi lemah dalam ketekunan, tanggung jawab, dan kepekaan sosial. Karena itu, pendidikan Muhammadiyah harus memastikan bahwa teknologi ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pusat tujuan. Yang utama tetaplah pembentukan insan beriman yang berakhlak mulia dan mampu berkontribusi bagi masyarakat.

Lalu, bagaimana arah respons pendidikan Muhammadiyah? Pertama, perlu penguatan literasi digital dan literasi AI bagi seluruh ekosistem pendidikan Muhammadiyah. Guru harus diberi pelatihan agar mampu menggunakan AI secara produktif, kreatif, dan etis. Siswa juga perlu diajarkan cara memanfaatkan AI sebagai alat bantu belajar, bukan alat untuk mencari jalan pintas. Kedua, perlu pedoman etis yang jelas tentang penggunaan AI di sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah. Pedoman ini penting untuk menjaga integritas akademik, melindungi kejujuran, dan memastikan teknologi tidak merusak tujuan pendidikan.

Ketiga, kurikulum perlu terus diperbarui agar selaras dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Pendidikan Muhammadiyah harus memasukkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, literasi data, dan etika digital sebagai bagian dari kompetensi penting abad ke-21. Namun semua itu harus tetap dipayungi oleh nilai-nilai tauhid, akhlak, dan semangat tajdid. Keempat, sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah perlu membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi. Kolaborasi ini akan memperkuat daya saing sekaligus menjaga agar inovasi tetap berada dalam bingkai misi dakwah dan pencerahan.

Pada akhirnya, kecerdasan buatan bukan ancaman jika dikelola dengan bijak. AI hanyalah alat, sedangkan arah pemanfaatannya ditentukan oleh nilai dan tujuan manusia. Di sinilah keunggulan pendidikan Muhammadiyah: ia memiliki fondasi ideologis dan moral yang kuat untuk menuntun teknologi ke arah yang benar. Dengan semangat Islam berkemajuan, pendidikan Muhammadiyah dapat menjadikan AI sebagai sarana untuk memperluas manfaat, mempercepat pembelajaran, dan memperkuat kualitas insan pembelajar.

Era 2026 menuntut pendidikan Muhammadiyah untuk lebih adaptif, inovatif, dan visioner. Namun adaptasi itu tidak boleh mengorbankan nilai dasar yang selama ini menjadi kekuatan utama Muhammadiyah: keikhlasan, kejujuran, kepedulian, dan pencerahan. Jika pendidikan Muhammadiyah mampu memadukan kecanggihan teknologi dengan keluhuran akhlak, maka ia bukan hanya siap menghadapi tantangan AI, tetapi juga mampu menjadi pelita bagi masa depan peradaban bangsa.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Warisan Yusuf Al-Qaradhawi Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Yus....

Suara Muhammadiyah

8 January 2024

Wawasan

Pentingnya Menjaga Warisan Peradaban: Kraton Surakarta Hadiningrat Oleh: Rumini Zulfikar/Penasehat ....

Suara Muhammadiyah

24 April 2025

Wawasan

Menjaga Spiritualitas "Marwah" Muhammadiyah Mayong: Belajar dari tapak semangat sesepuh Mayong dalam....

Suara Muhammadiyah

24 March 2026

Wawasan

Satu Detik di Surga, Seribu Kejutan Baru Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Univers....

Suara Muhammadiyah

29 December 2025

Wawasan

Dari Khalifah Umar hingga Era Digital, Evolusi Kalender Hijriah Global Tunggal Oleh: Najihus Salam,....

Suara Muhammadiyah

23 January 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah