Pendidikan Tanpa Teladan, Niscaya Kehilangan Makna

Suara Muhammadiyah

Penulis

1
100
Prof Dr Haedar Nashir, MSi

Prof Dr Haedar Nashir, MSi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa pendidikan yang berhasil tidak cukup hanya mengandalkan aspek kognitif dan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi harus ditopang oleh keteladanan nyata dari para pemimpin, pendidik, dan seluruh elemen bangsa.

Dalam pandangannya, Indonesia memiliki cita-cita besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi. Namun, upaya tersebut tidak sekadar membangun kecerdasan intelektual, melainkan juga membentuk manusia yang utuh—berakhlak mulia, berintegritas, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

“Pendidikan harus bersifat holistik, tidak hanya menekankan nalar dan sains, tetapi juga membangun dimensi spiritual, moral, dan tindakan nyata yang luhur,” ujar Haedar dalam Refleksi Hari Pendidikan Nasional pada Sabtu (2/5).

Ia menjelaskan, tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berilmu, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab. Karena itu, pendidikan tidak boleh direduksi hanya pada capaian akademik semata.

Haedar menekankan bahwa salah satu faktor paling menentukan dalam keberhasilan pendidikan adalah keteladanan para elite bangsa, baik di lingkungan pemerintahan maupun masyarakat luas. Menurutnya, keteladanan merupakan acuan utama dalam membentuk karakter generasi.

“Jika para pemimpin menunjukkan keteladanan yang baik, maka masyarakat akan meniru secara positif. Sebaliknya, ketika keteladanan hilang, maka hilang pula rujukan kebajikan di negeri ini,” tegasnya.

Ia mengingatkan pesan pendiri Muhammadiyah, Kiyai Haji Ahmad Dahlan, bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu mengayomi dengan hati yang jernih dan mencerahkan. Selain itu, filosofi pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara juga relevan untuk terus dihidupkan, yakni “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.”

Momentum Hari Pendidikan Nasional, lanjut Haedar, seharusnya menjadi titik refleksi untuk menghadirkan kembali keteladanan dalam dunia pendidikan dan kehidupan berbangsa. Ia menilai, para guru, orang tua, dan pemimpin di berbagai sektor memiliki peran penting dalam memberikan contoh nyata kepada generasi muda.

“Apalah arti pendidikan tanpa keteladanan sebagai role model? Kata-kata dan pidato tentang pentingnya sumber daya manusia akan kehilangan makna jika tidak diwujudkan dalam tindakan nyata,” ujarnya.

Haedar juga mengingatkan bahwa generasi muda saat ini, termasuk Generasi Z dan Alfa, membutuhkan figur teladan yang nyata, bukan sekadar simbol atau retorika di ruang publik dan media sosial.

Ia pun mengajak seluruh komponen bangsa untuk membangun gerakan keteladanan secara kolektif, dimulai dari para pemimpin sebagai pusat pengaruh dalam kehidupan berbangsa.

“Keteladanan bukan sekadar jargon. Kuncinya sederhana: kata sejalan dengan tindakan, yang luhur dan serba utama,” pungkasnya. (PPM)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

WONOSOBO, Suara Muhammadiyah - Lembaga Bantuan Hukum Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Wilayah Aisyiyah....

Suara Muhammadiyah

8 July 2024

Berita

KALASAN, Suara Muhammadiyah – Rangkaian Musyawarah Pimpinan Wilayah (Musypimwil) 1 ‘Aisy....

Suara Muhammadiyah

18 May 2025

Berita

BATU, Suara Muhammadiyah - Bicara soal kondisi sekarang, kehidupan tengah dihadapkan pada tujuan dan....

Suara Muhammadiyah

25 October 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Dr. Achmad Nurm....

Suara Muhammadiyah

24 July 2024

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Da....

Suara Muhammadiyah

17 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah