JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Idul Fitri adalah momentum kembali kepada fitrah. Kata fitrah sebagai representasi dari hati yang bersih, jiwa yang penuh kasih, dan kepedulian terhadap sesama.
"Puasa Ramadhan mendidik kita untuk menjadi manusia yang bertakwa, mendidik kita untuk disiplin, sabar, dan peduli," urai Irwan Akib, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Sejurus dengan itu, Qs Al Maidah ayat 2, menjadi basis fundamental di sini. Secara redaksional, ayat ini mengaksentuasikan hal ihwal tolong menolong dan hidup saling menguatkan satu dengan lainnya.
"Ada dokter yang berusaha menyembuhkan pasien, ada perawat yang dengan sabar merawat orang sakit, dan ada keluarga yang setia menunggu kesembuhan orang yang mereka cintai," ujarnya.
Betapa mulianya pekerjaan yang membantu orang yang sedang kesusahan. Demikian ditegaskan Irwan saat Khutbah Idul Fitri 1447 H di Lapangan Parkir RS Islam Jakarta Pondok Kopi, Duren Sawit, Kota Jakarta Timur, Jumat (20/3).
"Kepada para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan, semoga pengabdian Anda menjadi amal jariah di sisi Allah," ucapnya.
Di titik vital itu, Irwan mengingatkan bahwa periode kehidupan di muka bumi sangat singkat. Tidak ada yang hidup kekal dan abadi.
"Orang yang tahun lalu berdiri bersama kita di tempat ini mungkin hari ini sudah kembali kepada Allah," bebernya.
Karena itu, Irwan mengajak agar jangan menunda-nunda untuk berbuat kebaikan (Ihsan). Demikian pula, jangan menunda untuk meminta maaf kepada sesama umat manusia.
"Jangan tunda untuk memperbaiki hubungan dengan sesama, jangan tunda untuk menolong sesama," tegasnya.
Kini, Ramadhan telah berlalu. Hal yang patut direnungkan: Apakah kita benar-benar kembali kepada fitrah? Apakah hati kita lebih bersih dari pada sebelum Ramadhan? Apakah kita lebih sabar? Apakah kita lebih peduli kepada sesama manusia?
"Semoga Ramadhan menjadikan kita manusia yang lebih lembut hatinya, lebih peduli kepada sesama, dan lebih dekat kepada Allah," tukasnya. (Cris)
