Mari Mempersiapkan Buah Amalan Kita Didunia untuk Masa Depan bersama Ustadz Fahrurrozi
PEKALONGAN, Suara Muhammadiyah - Mengawali pembukaan Pengajian Ahad Pagi di lingkungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pekajangan, Pimpinan Ranting Muhammadiyah Podo menjadi tuan rumah pertama Pengajian Ahad Pagi putaran awal bersama Dr. (Cand) KH. Mohammad Fahrurroni, M.Pd. (Mudir Trensains Muhammadiyah Sragen Jawa Tengah) yang diselenggarakan di Masjid Al Ihsan Jl. Saphier no. 19-20 Blok B4 RT 006 RW 005 Perum Pisma Asri (Berlian) Podo Kedungwuni dengan dihadiri sekitar 2.000-an jamaah warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Pekajangan dan Cabang sekitarnya (3/5/2026).
Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Podo, Abdul Rozak, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah meluangkan waktu untuk hadir serta memeriahkan Pengajian Ahad Pagi PCM Pekajangan. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam pelaksanaan kegiatan masih terdapat kekurangan dalam persiapan maupun pelayanan.
“Dalam waktu dekat ini kami mempunyai hajat pembangunan Masjid Villa Asri Berlian sebagai sarana untuk melaksanakan ibadah bagi masyarakat di lingkungan Desa Podo. Oleh karena itu, kami mohon dukungan dan partisipasi donasi dari bapak ibu sekalian,” ujarnya.
Luqman Hakim, S.Pd selaku dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pekajangan menyampaikan pesannya mengingatkan pentingnya kolaborasi dan sinergi di lingkungan Cabang Pekajangan.
"Dua kata ini. sejak tahun 1922 itu akan menjadi cabang-cabang percontohan di Indonesia oleh karena itu bagi siapapun entah itu dari Cabang sampai di Ranting di warga sekitar kolaborasi dan sinergi ini selalu dicanangkan dalam hati saling meminta bantuan saling membantu melengkapi." ujarnya
Ucapan terima kasih kepada pimpinan ranting Muhammadiyah podo ini, perlu kami sampaikan di PCM Pekajangan ada 16 ranting sudah 1 periode pertama pengajian ahad pagi ini dan PRM Podo pilih yang pertama mengawali.
"Dulu pertama kali dari jumlah persiapan jamaah 350 yang hadir 600, putaran kedua di PRM Pangkah menyiapkan 800 yang hadir lebih dari itu, dan menambah seiring berjalannya waktu, dari 350 jadi 2500, harapannya nanti sampai 3000 sampai 6000, sekali lagi bapak ibu yang kami hormati kami yakin ketika ada kegiatan seperti ini sangat antusias karena fitrahnya manusia itu ingin berbuat baik makanya ketika ada pengajian ada yang benar-benar bisa membantu di bidang dan ranahnya masing-masing, mudah-mudahan kebaikan dibalas Allah SWT." Tutup beliau
Dalam tausiyahnya Dr. (Cand) KH. Mohammad Fahrurroni, M.Pd. mengawali hadits penyemangat bawah menuntut ilmu, di setiap tempat, yang terpenting adalah kita sedang dinaungi oleh para malaikat.
Ketika seseorang sakit, padahal tubuhnya masih lengkap, namun ada bagian badan yang tidak bisa digerakkan karena ujian dari Allah, maka itu menjadi bukti bahwa jasad ini sejatinya bukan milik kita sepenuhnya. Jika benar-benar milik kita, tentu kita bisa menggerakkannya sesuka hati. Namun karena semuanya milik Allah, kita perlu menyadari bahwa apa yang ada pada diri kita hanyalah titipan dari-Nya, yang suatu saat akan diambil kembali. Semoga saat itu tiba, kita diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
Karena tubuh ini adalah titipan Allah, maka mari kita manfaatkan sebaik-baiknya. Apapun kondisi yang Allah berikan, hendaknya kita syukuri. Diberi tubuh yang sempurna, bersyukur. Diberi kekurangan, tetap bersyukur. Banyak orang yang memiliki keterbatasan justru bisa sukses dan dikenal luas. Karena itu, jangan mengeluh atas keadaan diri. Semua yang Allah berikan adalah bentuk terbaik dan kesempurnaan menurut hikmah-Nya.
Selain itu, manusia adalah makhluk indrawi, yaitu mudah percaya dan memahami sesuatu melalui apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Karena itu, ketika Allah menjelaskan perkara gaib yang tidak terlihat, seperti surga dan neraka.
Lebih lanjut, Ustadz Fahrurrozi menyampaikan bahwa agar seseorang bisa tertarik dalam beribadah, maka perlu menumbuhkan rasa di dalam hati. Beliau mencontohkan ketika seseorang melaksanakan shalat dan membaca bacaan, assalāmu‘alaika ayyuhan nabiyyu... apakah hanya sekadar dibaca, atau benar-benar diresapi dan dirasakan maknanya.
“Jadi, ibadah itu bukan sekadar ritual, tetapi juga harus menghadirkan rasa,” ujar beliau.
Surat Ibrahim ayat 24–25 mengajarkan bahwa amal kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain diibaratkan seperti pohon yang baik: akarnya kuat, cabangnya menjulang ke langit, dan buahnya terus memberi manfaat. Sebaliknya, manusia kelak di akhirat akan menyesal dan berharap dikembalikan ke dunia agar dapat beramal saleh. Itulah perkataan orang-orang yang menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan hidup.
Hal penting yang juga perlu diperhatikan adalah setiap manusia pasti mendapat peringatan. Salah satu bentuk peringatan itu adalah syaibun atau uban. Bapak-Ibu sekalian, uban bukan sekadar tanda usia bertambah, tetapi pengingat agar kita semakin mendekat kepada Allah, memperbaiki diri, dan memperbanyak amal saleh.
Dalam beramal, kita juga perlu mengingat filosofi ibadah haji dan umrah, yaitu perjalanan antara Bukit Shafa dan Marwah. Dahulu, Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwah untuk mencari air bagi putranya, Nabi Ismail. Namun, ternyata air yang dicari justru muncul dari hentakan kaki putranya, menjadi air zamzam yang penuh berkah.
Filosofinya dalam beramal adalah:
- Shafa melambangkan kejernihan hati, niat yang tulus, dan tujuan yang baik.
- Marwah melambangkan usaha, harapan, dan semangat untuk meraih sesuatu yang diinginkan.
Artinya, setiap amal harus diawali dengan Shafa, yaitu hati yang bersih dan niat yang ikhlas. Setelah itu, disertai ikhtiar sungguh-sungguh sebagaimana Siti Hajar berusaha tanpa putus asa.
Hasil akhirnya adalah zamzam, yaitu keberkahan dan hasil baik yang kita harapkan. Misalnya, kesalehan anak-anak kita. Maka, ikhtiarkan dengan ikhlas, dorong mereka menuntut ilmu, dan jangan takut berkorban untuk pendidikan serta perkaderan mereka. Insya Allah, dari pengorbanan itu akan lahir generasi saleh yang bermanfaat.
Terakhir, perlu kita ingat bahwa kelak di akhirat setiap langkah hidup kita akan dimintai pertanggungjawaban. Di antaranya, kita akan ditanya:
1. Umur kita dihabiskan untuk apa – apakah digunakan untuk kebaikan, ibadah, dan hal yang bermanfaat, atau justru terbuang sia-sia.
2. Ilmu yang dimiliki dimanfaatkan untuk apa – apakah diamalkan, diajarkan, dan memberi manfaat bagi sesama, atau hanya disimpan tanpa diamalkan.
3. Harta diperoleh dari mana dan diinfaqkan untuk apa – apakah didapat dengan cara halal dan digunakan di jalan kebaikan, atau sebaliknya.
4. Tubuh dan masa muda digunakan untuk apa – apakah dipakai untuk taat kepada Allah, beramal saleh, dan menjaga kesehatan, atau justru digunakan untuk maksiat dan hal yang merugikan. (Shofani)

