Pengasuhan Beradab, Pesantren Muhammadiyah Wujudkan Zero Bullying

Publish

30 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
121
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

KEBUMEN, Suara Muhammadiyah - Upaya menciptakan lingkungan pesantren yang aman, ramah, dan bebas dari kekerasan terus diperkuat. Hal ini terlihat dalam Pelatihan Kepengasuhan Zero Bullying Pesantren Muhammadiyah se-Barlingmascakeb yang digelar pada Selasa (27/01) di Gedung Dakwah PCM Gombong.

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan pondok pesantren Muhammadiyah dari wilayah Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen (Barlingmascakeb). Tercatat sebanyak 35 pondok pesantren ambil bagian dengan total peserta mencapai 90 orang.

Salah satu pondok yang hadir adalah perwakilan dari MBS Wanayasa, yakni Ust. Wahyudin, S.Ag., M.Si. (Mudir), Ust. Nyana Ruasno, S.Pd. (Pamong Putra), dan Badru Tamam, S.Ag. (Musyrif).

Pelatihan ini diselenggarakan oleh Koordinator Wilayah Karesidenan Banyumas Lembaga Pengembangan Pesantren (LPP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah sebagai respons atas maraknya kasus bullying yang belakangan menjadi sorotan di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren.

Ketua Korwil LPP PWM Jawa Tengah, Arif Fauzi, Lc., M.Pd. yang juga Mudir MBS Zam-Zam Cilongok, menegaskan bahwa isu kepengasuhan merupakan faktor kunci dalam keberlangsungan dan kemajuan pesantren.

"Ketika pesantren lengah dalam pengasuhan, di situlah kemunduran bisa dimulai. Terlebih jika bullying dibiarkan, maka pesantren akan kehilangan ruh pendidikannya." tegasnya.

Dalam materi pertama, Arif Fauzi mengangkat tema Kepemimpinan Pengasuhan Pesantren Muhammadiyah Menuju Zero Bullying melalui Penguatan Budaya Asuh yang Beradab dan Rahmah. Ia menekankan bahwa pesantren tidak cukup hanya mencetak santri yang patuh, tapi santri yang utuh secara jiwa dan akhlak.

Menurutnya, disiplin yang dibangun di atas rasa takut hanya melahirkan kepatuhan sesaat. Sebaliknya, disiplin yang lahir dari kepemimpinan beradab akan membentuk akhlak yang melekat seumur hidup.

"Zero bullying bukan berarti pesantren kehilangan ketegasan. Justru di sinilah kualitas kepemimpinan pengasuhan diuji. Memimpin tanpa melukai dan tegas tanpa meninggalkan luka." ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa pemimpin pengasuhan yang berhasil bukanlah yang paling ditakuti, melainkan yang paling dirindukan dan diteladani. Dalam paparannya, Arif Fauzi mengulas sejumlah problem kepengasuhan yang kerap terjadi di pesantren, seperti pola asuh otoriter, kekerasan yang dibungkus atas nama disiplin, tradisi senioritas berlebihan, minimnya literasi psikologi santri, hukuman yang mempermalukan, ketiadaan sistem aduan, hingga burnout pengasuh.

Ia menekankan bahwa Zero Bullying hanya bisa terwujud melalui kepemimpinan pengasuhan yang beradab, visioner, dan konsisten. Pesantren yang aman, menurutnya, adalah bagian dari amanah dakwah.

Materi kedua sekaligus penutup disampaikan oleh Rosyid Ahmad Faruq, S.Psi. yang membahas Pencegahan dan Penanganan Bullying di Pondok Pesantren. Sesi ini berlangsung intens dengan penekanan pada pemahaman terkait bullying yang kerap dianggap lumrah dalam keseharian setiap orang.

Rosyid mengungkapkan bahwa banyak kasus bullying tidak tertangani dengan baik karena dianggap bercanda atau bagian dari tradisi. Padahal, tanpa batasan yang jelas, candaan bisa berubah menjadi kekerasan psikologis maupun fisik.

Ia juga menyoroti fakta lapangan bahwa sebagian pelaku bullying justru merupakan korban di masa lalu. Ketika tidak terdeteksi sejak awal, trauma tersebut dapat berubah menjadi siklus balas dendam di lingkungan pesantren.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pesantren memiliki data kepribadian santri, sistem aduan yang aman, serta penanganan yang tegas dan adil. Ketidakadilan hukuman, terutama yang merugikan korban, justru membuat bullying terus berulang.

"Bullying sering membesar karena penanganannya terlambat, menunggu parah, atau hanya fokus pada korban bukan sistem dan pelaku tidak dibina melainkan dihukum." jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa korban kerap memilih diam karena takut ancaman, dan jika hal ini dibiarkan, pesantren bisa kehilangan kepercayaan masyarakat.

Rosyid menegaskan bahwa sistem pengasuhan pesantren harus bersifat preventif, bukan reaktif, konsisten, berkelanjutan, mendidik alih-alih menghukum, berbasis nilai dan keteladanan, serta melibatkan seluruh elemen pesantren.

Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah nyata pesantren Muhammadiyah di Barlingmascakeb untuk membangun lingkungan pendidikan yang aman, beradab, dan bebas dari bullying, demi melahirkan generasi santri yang kuat secara akhlak dan mental. (Badru Tamam)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PULANG PISAU, Suara Muhammadiyah – Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazism....

Suara Muhammadiyah

3 September 2025

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Program Studi Ilmu Keolahragaan S1 Fakultas Kesehatan Masyaraka....

Suara Muhammadiyah

27 June 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar tengah bersiap meny....

Suara Muhammadiyah

7 April 2025

Berita

TARAKAN, Suara Muhammadiyah - Alih-alih banyak berdebat masalah hakikat atau pun batasan toleransi a....

Suara Muhammadiyah

28 December 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks, berbagai ....

Suara Muhammadiyah

18 February 2025