YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Mahli Zainuddin, M.Si., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Sosiologi Agama, Migrasi, dan Etnisitas pada Sabtu (1/8/2026). Pengukuhan berlangsung di Ruang Sidang Gedung A.R. Fachruddin A Lantai 5 UMY.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul "Etnisitas dan Integrasi Sosial: Orang Kerinci di Malaysia", Prof. Mahli memaparkan hasil riset panjang mengenai sejarah migrasi serta bagaimana identitas budaya menjadi fondasi utama masyarakat Kerinci untuk berintegrasi di negeri jiran.
Ketertarikan Prof. Mahli terhadap topik ini bermula dari pengalaman pribadinya saat pertama kali berkunjung ke Kuala Lumpur pada tahun 2000. Ketika menaiki MRT, ia menemuukan stasiun bernama Stesyen Kampung Kerinchi.
"Ketika naik MRT di KL, saya menemukan stasiun bernama Stesyen Kampung Kerinchi. Hal itu memicu rasa penasaran saya untuk meriset orang-orang Kerinci di Malaysia. Tema riset ini pula yang membawa saya menembus jurnal internasional reputasi tinggi (Q-1) hingga menjadi orasi Guru Besar hari ini," ungkapnya.
Rasa penasaran tersebut berlanjut menjadi penelitian lapangan sejak 2016. Ia melalukan observasi dan wawancara mendalam di tiga desa asal di Indonesia serta tiga kawasan permukiman Kerinci di Malaysia (Hulu Langat, Sungai Buluh, dan Kampung Kerinci).
Menurut Prof. Mahli, kondisi geografis Kerinci yang berada di kawasan pegunungan dan pedalaman membentuk tiga karakter utama masyarakatnya, yakni keras hati, senang dipuji, dan cenderung merajuk ketika menghadapi konflik.
Uniknya, sifat merajuk justru bertransformasi menjadi pendorong utama keberhasilan mereka di perantauan.
"Merajuk adalah sikap tidak senang dengan diam atau menjauhkan diri. Namun, merajuk juga menjadi energi dahsyat yang mendorong anak muda Kerinci merantau dan menundukkan berbagai tantangan di negeri orang," jelas Prof. Mahli.
Selain faktor budaya, tekanan ekonomi turut memicu migrasi massal. Pada era 1970–1980-an, Kerinci adalah produsen utama kulit manis (menyumbang 60% produksi kawasan Sumatera). Namun, harganya anjlok parah bersama komoditas kopi pada awal 2000-an.
"Tahun 2001–2003 adalah masa paling sulit bagi orang Kerinci Hilir akibat anjloknya harga kulit manis dan kopi. Pekerjaan seperti 'ngupan' (buruh) yang dulunya tidak pernah terbayangkan, akhirnya terpaksa mereka jalani," paparnya.
Secara umum, Prof. Mahli mencatat 4 alasan gelombang migrasi masyarakat Kerinci ke Malaysia, yaitu menghindari penjajahan Belanda, perjalanan ibadah haji, kunjungan keluarga, dan alasan ekonomi.
Perjalanan generasi awal pun penuh tantangan. Mereka harus berjalan kaki menembus hutan menuju Jambi, siap bertarung dengan penyamun (sehingga dibekali ilmu silat sejak muda), lalu melanjutkan perjalanan dengan kapal layar ke Semenanjung Malaya.
Kunci Integrasi Tanpa Kehilangan Identitas
Prof. Mahli menekankan bahwa keberhasilan masyarakat Kerinci beradaptasi di Malaysia tidak membuat mereka kehilangan jati diri. Integrasi sosial terbangun berkat kesamaan bahasa, adat, dan nilai budaya; pola permukiman yang berdekatan berdasarkan desa asal untuk memperkuat solidaritas; dan kemiripan geografis (seperti di Hulu Langat) yang membuat mereka merasa seperti di kampung halaman sendiri.
"Integrasi sosial orang Kerinci di Malaysia terjalin oleh rasa memiliki sebagai satu kelompok berdasarkan norma, nilai, dan kepercayaan. Hal ini membuat mereka yang tinggal di Hulu Langat merasa seperti berada di kampung halaman sendiri," pungkasnya. (ZA/Riz)

