YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Jogja Takbir Festival (JTFest) 2026 inisiasi Angkatan Muda Muhammadiyah Kota Yogyakarta menjadi ruang aktualisasi bakat bagi para kader muda Persyarikatan Muhammadiyah.
Gelaran yang dibuka oleh Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Jumat (29/5) di kawasan Malioboro ini, sukses memantik atensi warga lokal juga internasional.
Diikuti sebanyak 18 kafilah se-Kota Yogyakarta. Dan, 14 di antaranya merupakan perwakilan dari kemantren di wilayah Kota Yogyakarta yang dimulai dari depan Gedung DPRD DIY, menyusuri Jalan Malioboro, dan puncaknya display di sebelah timur Museum Sonobudoyo.
"Dengan bangga, dengan gembira, selamat datang, selamat menyaksikan JTFest 2026," ucap Aris Madani, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta saat membuka acara.
Pekik takbir berkumandang dari para kafilah, sebut Aris, bukan sekadar ucapan di lisan, tapi vibrasi dari hati yang terdalam.
"Yang bersyukur atas kemenangan melawan hawa nafsu hawaniyah," selain daripada vibrasi dari yang berkurban.
Aris mengajak untuk bergembira dalam memeriahkan JTFest 2026. Menurutnya, acara yang mengusung tema "Muhammadiyah Jogja, Songsong Peradaban Hijau Berkemajuan" bukan sekadar menampilkan kreativitas, lebih dalam lagi, ruang merekatkan hubungan kekeluargaan antar sesama.
"Di sinilah ukhuwah dirajut, syiar dikumandangkan, dan semangat kebersamaan warga Yogyakarta menyala," tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Aris membongkar spirit Idul Adha berpokok pangkal dari denyut nadi kehidupan Nabi Ibrahim.
Tampilannya maujudnya yaitu ketaatan Nabi Ibrahim, kepasrahan Ismail, dan kesabaran Situ Hajar hatta di uji demikian besarnya oleh Allah: menyembelih Ismail terkasih itu.
"Dari kisah itu lahir pelajaran besar; cinta kepada Allah harus di atas segala cinta. Dan pengorbanan adalah jalan menuju kemuliaan," bebernya.
Secara khusus, menggarisbawahi tema tersebut, kata Aris, sebagai manifestasi nyata dari semangat pengorbanan tersebut.
"Berkurban bukan hanya menyembelih hewan, tapi juga berkurban untuk bumi yang kita tinggali," seraya mengaksentuasikan peran sentral manusia sebagai khalifah di muka bumi: merawat agar jauh dari kerusakan.
"Manusia adalah khalifah di muka bumi. Khalifah artinya yang tidak merusak, memakmurkan bumi dan isinya," terangnya.

Sementara, kata Hijau Berkemajuan bermakna hijau dalam pikiran, bersih, jernih, terbuka pada ilmu. Pada saat yang sama, hijau dalam hati penuh kasih sayang kepada sesama dan kepada alam.
"Hijau dalam amal, masjid yang teduh, sungai yang bersih, kota yang rindang untuk warga dan masyarakat," tambahnya.
Aris mengajak spirit JTFest 2026 sebagai ruang kesadaran kolektif akan pentingnya merawat lingkungan. "Setelah kita membersihkan hati, mari juga kita membersihkan lingkungan," ucapnya.
Di sisi lain, Hasto Wardoyo mengapresiasi JTFest 2026. "Pertama kali di kawasan Malioboro dan Titik 0 Yogyakarta. Ini luar biasa," singkapnya. Disebutnya, JTFest ditetapkan menjadi kalender tahunan di Kota Yogyakarta.
"Sebagai bentuk kompetisi se-Kota Yogyakarta," ujar Hasto, yang diproyeksikan ke depan, tidak hanya diikuti oleh kafilah di Kota Yogyakarta, tapi juga di luar daerah bisa ikut berpartisipasi dan memeriahkan secara saksama.
"AMM tahun depan akan menyelenggarakan takbir seperti ini tapi diikuti oleh kota-kota dan kabupaten lain tentu bisa mengikuti kegiatan seperti ini," singkapnya.
Hasto bangga dengan JTFest 2026. Pasalnya, acara ini menjadi refleksi bersama karena bisa mensyiarkan dakwah dengan sentuhan damai dan teduh, tanpa adanya pertikaian yang mengoyak esensi keislaman itu sendiri.
"Kita mengadakan kegiatan damai dan bahagia dan juga banyak sekali makna-makna yang bisa kita ambil dalam kesempatan kali ini," tandasnya.
Acara ini memperebutkan Piala Bergilir Gubernur DIY untuk peraih juara umum.
Tidak hanya juara umum, pihak panitia juga menyiapkan penghargaan untuk berbagai kategori terbaik, di antaranya kategori takbir, maskot, musik, display, hingga kostum. (Cris)

