SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Muuktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah mengusung tema "Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan."
Diksi Perempuan Muda Berkemajuan di situ disebut Haedar Nashir, "Itulah semangat kelahiran Nasyiatul Aisyiyah," kata Haedar Nashir.
Nasyiatul Aisyiyah menjadi gerakan perempuan yang menampung para perempuan muda berpikiran maju dan konstruktif.
Demikian disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, Jumat (7/8) di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta saat membuka Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah.
"Di tengah saat itu pandangan keagamaan dan budaya sangat domestikasi dan banyak larangannya," ucap Haedar.
Namun, Kiai Dahlan tidak tinggal diam. Ia membuka pintu untuk melakukan pembaruan dan perubahan yang kemudian salah satunya melahirkan organisasi otonom Nasyiatul Aisyiyah. "Lewat proses yang panjang bersama 'Aisyiyah," ujarnya.
Menyigi karakteristik Perempuan Muda Berkemajuan, Haedar merujuk pada dokumen Risalah Perempuan Muda.
Di situ ada tujuh karakteristik; iman dan takwa, taat beribadah, akhlak karimah, berpikir tajdid, bersikap wasatiyah, amaliah salihah, dan sikap inklusif.
"Di tiga ciri utama yang pertama, itu merupakan kekuatan ruhani dan moral," ucap Haedar.
Dalam perspektif eksistensialisme, manusia memiliki eksistensi yang khas dan kokoh karena manusia memiliki kesadaran, jiwa, ruh, serta kemampuan berpikir dan merefleksikan dirinya.
"Karena ruhnya, karena jiwanya, karena pikirannya, karena dirinya," kata Haedar, menukil filsuf René Descartes, "aku berpikir, maka aku ada" (cogito, ergo sum).
Bagi Haedar, iman dan takwa tidak boleh berhenti sebagai norma pasif yang hanya melekat dalam ajaran. Keduanya harus terhunjam menjadi kekuatan ruhani yang mencerahkan kehidupan.
"Jadikan iman-takwa itu sebagai kekuatan ruhani yang mencerahkan hidup kita atas nama Allah," pinta Haedar. Yang itu jika merujuk dokumen Risalah Islam Berkemajuan, hal tersebut disebut dengan tauhid.
"Iman dan takwa, kemudian direpresentasikan tauhid itu akan melahirkan kekuatan ruhani tercerahkan. Karena atas nama Allah, yang segala-galanya," tambah Haedar.
Kedua, taat beribadah. Haedar mengatakan, karakteristik ini telah menjadi ciri khas umat Islam di Indonesia, lebih-lebih di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah-'Aisyiyah, termasuk Nasyiatul Aisyiyah.
"Yang kita harapkan adalah ibadah itu melahirkan kesalehan pribadi, keluarga, kehidupan publik, dan seluruh kesalehan sosial," jelasnya.
Ketiga, akhlak karimah. Haedar menekankan, akhlak itu basisnya adalah ajaran agama. "Nilai utama yang hidup di negara kita adalah agama," tekannya.
Tiga karakter ini menjadi pegangan dalam menggerakkan roda organisasi Nasyiatul Aisyiyah. Lebih-lebih di tempat nun jauh sana, Haedar melihat, kader-kader Nasyiatul Aisyiyah begitu rupa dalam mengabdi.
"Karena tiga nilai ini. Dan kita menggerakkannya karena penuh ketulusan," ucapnya. "Dan kita jaga ini," imbuhnya. (Cris)

