Pertemuan Dua Santri KH Ahmad Dahlan - KH Hasyim Asy'ari
Oleh: Rumini Zulfikar (GusZul), Penasihat PRM Troketon, Pedan, Klaten
"Suatu hal yang harus dirawat oleh para santri atau anggota Persyarikatan/Jami'iyah adalah merawat apa yang telah dilakukan oleh tokoh kita sebagai bentuk ta'dzim (hormat) dari seorang santri pada sang kyainya."
Sebuah keteladanan yang telah diwariskan oleh KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari adalah bagaimana membangun silaturahim. Beliau berdua secara nasab masih dalam satu garis keturunan dari Sunan Giri.
Dalam perjalanan kehidupan dalam rangka mensyiarkan Islam dengan wadah sebuah gerakan Islam, walaupun secara kultur dan metode maupun sasaran berbeda, akan tetapi tujuan sama yaitu membumikan nilai-nilai Islam untuk keluar dari bentuk-bentuk pengekangan dan ketertinggalan.
Kalau kita membaca sejarah lewat beberapa literasi, bahwa KH Ahmad Dahlan menyasar di perkotaan dengan pembaruan (tajdid) dengan teologi Al-Ma’unnya, dengan mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912. Sedangkan KH Hasyim Asy'ari dengan pendekatan secara kultur di pedesaan lewat Pesantren Tebuireng yang berpusat di suatu kampung di Jombang. Lantas pada 31 Januari tahun 1926 bersama KH Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri mendirikan sebuah Jami'iyah diberi nama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama).
Bahwa keduanya beliau ini selain masih satu keturunan, akan tetapi juga di kala nyantri atau belajar ilmu agama Islam juga sama-sama dalam satu guru, yaitu baik di dalam negeri (KH Cholil Bangkalan, KH Sholeh Darat) maupun sewaktu di Makkah al-Mukarramah, Syaikh Minangkabau.
Sebuah pengalaman yang berharga bagi penulis adalah bagaimana ketika membangun sebuah persaudaraan, walaupun beda gerakan, walaupun coraknya beda, akan tetapi misinya sama yaitu gerakan Islam, ketika berinteraksi dengan seorang kyai muda NU yaitu Mas Habaib.
Dalam sebuah obrolan pertama kali beberapa tahun yang lalu, sang kyai muda (Mas Habaib) bertanya kepada penulis (Gus Zul):
Kyai Muda: Jenengan asmane sinten, lan kegiatan menopo, Mas?
Gus Zul: Asmane Rumini, Pak Kyai, itu pemberian orang tua, akan tetapi nama panggilan GusZul itu nama pemberian dari Pak Ganjar Sri Husodo yang memanggil saya Gus Zul (beliau salah satu redaksi di Suara Muhammadiyah), Pak Yai.
Kyai Muda: Berarti jenengan niku penulis, Mas.
Gus Zul: Seneng nulis, alhamdulillah beberapa tulisan dipublikasikan di Suara Muhammadiyah, PWM.com, CakNun.com, Maiyah.id, Pak Yai.
Kyai Muda: Wah bagus itu, karena itu bagian dari bentuk dakwah, apalagi dalam pesantren namanya dawar, yaitu menulis apa yang dialami.
Dua tahun tidak bersua, suatu malam sang anak muda memberi tahu dapat salam dari Mas Habaib (kyai muda). Lantas penulis VC langsung dan terhubung. Dari obrolan itu, sang kyai muda tersebut menguraikan pentingnya umat yang mau berpikir (afala ta'qilun), afala tafakkarun (umat yang bersyukur).
Sebelum mengakhiri, sang kyai muda bilang, mbok jenengan niku buat website, terus aktif medsos, karena tulisan banyak sekali, biar itu bisa menjadi pengingat untuk semuanya, lebih-lebih para pemimpin kita.
Sebuah Tembang
Sebelum mengakhiri, sang kyai muda tadi meminta pada penulis (GusZul) untuk membuat macapat "Gusti", sebuah tembang Jawa sebagai pengingat. Maka selang sehari, penulis melalui perenungan di tengah malam menjelang dini hari menulis sebuah tembang dari permintaan sang kyai muda (Mas Habaib), sebuah tembang Jawa berjudul "Duh Gusti".
Adapun tembang seperti di bawah ini:
Duh Gusti
Dening: Rumini Zulfikar (GusZul)
Duh Gusti Akariya Jagad
Sejatosipun naming Paduka ingkang Dzat Tunggal ingkang kuasa jagad meniko
Ananging kawulo mboten pitados
Duh Gusti kulo titah sa’wantah, naming katah lepat saha dosa
Duh Gusti Maha Kuasa
Kulo meniko sak gegeman Paduka
Naming kawulo titah ingkang mboten ngrumasani titah ingkang asor
Duh Gusti Paduka ingkang Maha Welas lan Asih
Naming kawulo titah nge’dohi welas asih saking Paduka
Duh Gusti Paduka jereng jagad meniko kanthi takdir Paduka
Ananging kawula mboten rumaos saha tumindak nuruti nafsu setan
Duh Gusti Paduka jereng sak katahe rejeki
Ananging kawula mboten enten raos syukur
Duh Gusti Paduka Dzat ingkang wajib dipun sembah
Ananging kawula nyembah bondo, dunya, lungguhan
Duh Gusti Paduka mbuka mergi ingkang padhang
Ananging kawulo milih dalane nafsu setan
Duh Gusti Paduka paring mergi ingkang kebak rahmat
Ananging kawula malah milih ingkang peteng dedet tebih saking rahmate Paduka
Duh Gusti Paduka paring mergi ingkang kebak rahmat
Duh Gusti kawulo nyuwun dateng Paduka dipun tebihaken laknat saking Paduka
Duh Gusti paringi kawula kesempatan anggenipun ndepepe marang Gusti
Duh Gusti paringi kawula cahya anggenipun mlampah kanthi ati ingkang wening, tumindak ingkang leres, langkung-langkung anggenipun mlampah wonten mergine Paduka
Kula suwun kanthi sanget dipun ijabahi
Sanggar Waringin Seloso Pon Surya kaping 21 April 2026, wanci tabuh 00.30
Makna dari sebuah Tembang Duh Gusti
Dari coretan tersebut mengandung sebuah tadabur atau makna dari setiap bait, yaitu bahwa Tuhan adalah penguasa tunggal dan mutlak. Akan tetapi umat manusia dalam perjalanan tersebut tidak mengetahui "peta kehidupan", walaupun Tuhan sudah memberikan banyak ilmu dan anugerah agar manusia mau berpikir dan bersyukur, karena dengan berpikir dan bersyukur merupakan maqam tertinggi dalam bertauhid pada Tuhan.
Banyak sekali umat manusia lebih menuhankan dunia daripada menyembah Tuhan-Nya. Berbahagialah manusia yang mau refleksi diri dalam kehidupannya agar mendapatkan jalan yang dirahmati, serta memohon pada Tuhan agar terhindar dari laknat-Nya.
Dari sebuah pertemuan dua santri, santrinya Mbah Dahlan dan santrinya Mbah Hasyim ini merupakan potret kecil bahwa kita saling melengkapi, tidak merasa paling. Dengan demikian, kita akan mampu menggapai sebuah kehidupan yang memberi pantulan cahaya (munawaroh) yang membawa kemuliaan (mukarramah). Aamiin.
Semoga ini menjadi bahan refleksi dan titik awal penting persaudaraan, walaupun adanya perbedaan dalam cara dan laku dalam pemahaman beragama. Karena bangsa ini masih membutuhkan sentuhan dari Persyarikatan Muhammadiyah, Jami'iyah NU, dan kekuatan umat Islam lainnya untuk mengawal bangsa ini agar tidak kehilangan kompas kehidupan, sehingga mampu menunjukkan jati diri sebagai seorang Muslim dan bangsa Indonesia yang utuh. Aamiin.
