Oleh: M. Saifudin, Mudir PPM Sangen Weru, Sukoharjo
Biasanya, kunjungan studi antar-lembaga seringkali terasa sebagai formalitas: datang, melihat, mencatat, lalu pulang. Namun, kunjungan MBS Purworejo ke Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen (PPM Sangen) Weru, Sukoharjo, menghadirkan nuansa perjumpaan sesama perintis yang sedang menata arah tumbuh dan menyatukan persepsi tentang hakikat pesantren.
Rombongan dipimpin oleh pimpinan pondok, Ustadz Ali Ashgar Al Husein, kepala SMA Muhammadiyah Pituruh, tim kurikulum dan para asatidzah. Hadir pula tiga santri pengabdian asal PPM Sangen yang kini bertugas di MBS Purworejo. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antar-pesantren tidak berhenti hanya pada seremonial semata, melainkan tumbuh dalam pengabdian nyata.
Agenda utama kunjungan ini adalah berbagi pengalaman dan bersama-sama belajar untuk tumbuh lebih baik dan berkemajuan. MBS Purworejo berdiri sejak tahun 2013 dan kini mengelola jenjang SMP dan SMA. Meski lebih dahulu berdiri, hal itu tidak menghalangi mereka untuk terus belajar, bahkan kepada pesantren yang lebih muda.
PPM Sangen yang berdiri pada tahun 2017 telah berkembang dengan jenjang MTs dan MA, dengan jumlah santri mencapai 400an sangtri. Setiap pesantren memiliki fase tumbuhnya masing-masing dengan dinamika dan tantangannya sendiri.
Penyambutan di PPM Sangen juga menunjukkan bahwa sesama pesantren Muhammadiyah adalah saudara seperjuangan, bagian dari puzzle besar gerakan Muhammadiyah dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Dalam penyambutan ini, hadir Ketua PCM Weru, Ketua PRM Krajan, Mudir, Wadir 2, Kepala MA Pontren Sangen, bagian kurikulum, pengasuhan, humas, keputrian, hingga para pembina santri teladan pengabdian. Ini menegaskan bahwa pesantren tidak pernah berdiri di atas satu figur saja, tetapi di atas kebersamaan yang kuat.
Dalam diskusi, muncul kesadaran yang sama bahwa pesantren tidak cukup dibangun dengan manajemen, kurikulum, atau fasilitas saja, melainkan dibangun di atas anasir-anasir mendasar berikut:
Rukun Pesantren. Adalah fondasi klasik yang tetap relevan hingga hari ini. Rukun pesantren terdiri dari kiai (mudir), santri, masjid, dan kitab kuning. Empat unsur ini tidak sekadar sebagai simbol, tetapi penopang ruh pesantren: kiai sebagai pusat keteladanan, santri sebagai subjek pembinaan, masjid sebagai jantung spiritual, dan kitab kuning sebagai tradisi keilmuan. Tanpa keempatnya berjalan selaras, pesantren akan kehilangan keseimbangan.
Misi Dakwah. Pesantren merupakan sekelompok umat yang terorganisir dalam menjalankan misi dakwah amar makruf nahi munkar, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)
Para mufassir menjelaskan bahwa ayat ini adalah perintah untuk menghadirkan kelompok terorganisir yang menjalankan fungsi dakwah secara berkelanjutan. Bukan sekadar individu yang baik, tetapi komunitas yang memiliki visi, sistem, dan kesinambungan. Dalam konteks ini, pesantren dapat dipahami sebagai manifestasi konkret dari perintah tersebut: pesantren tidak hanya mendidik, tetapi juga menyiapkan kader dakwah, menjaga ilmu, dan membentuk karakter secara berkelanjutan.
Ayat ini selama ini dikenal sebagai salah satu fondasi gerakan Muhammadiyah. Namun pada saat yang sama, Ia juga menjadi landasan bagi eksistensi pesantren. Pesantren adalah bentuk praksis dari “umat yang menyeru kepada kebaikan”, bukan hanya melalui ceramah, tetapi melalui pendidikan, keteladanan, dan pembiasaan hidup yang baik.
Pesantren tumbuh di atas kepercayaan. Sebab, pesantren itu bukan perusahaan, tetapi legacy untuk umat. Maju mundurnya bukan hanya karena dana, kurikulum, SDM, atau bangunan. Banyak yang megah dan berlimpah dana, tetapi tetap bubar.
Kuncinya adalah kepercayaan. Kepercayaan lahir dari kebersamaan dalam pengorbanan, kesabaran, keteladanan, dan ketulusan. Jangan merasa paling berjasa, juga jangan merasa sudah banyak berbuat. Allah sudah tahu. Tulus dan jalan saja. Insya Allah, saatnya akan berbuah dan kemudahan akan datang.
Pertemuan dua pesantren, MBS Purworejo dan PPM Sangen, bukan hanya dalam kerangka studi banding, melainkan menjadi momen saling menguatkan, menggali kebaikan, dan merajut kemajuan bersama bagi kedua pesantren khususnya, dan pesantren pada umumnya.
Juga dalam rangka penguatan dan pemahaman bahwa membangun pesantren adalah kerja panjang yang melampaui hitungan angka, yang menuntut istiqamah, kesabaran, dan kebersamaan yang terus dirawat.
Sebagai penguat niat dalam berjuang di jalur pendidikan ini, kita patut merenungkan kembali pesan legendaris Kiai Ahmad Dahlan: "Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”
Sebagaimana ditafsirkan oleh Prof. Haedar Nashir, (Muhammadiyah.or.id, 09/2021). Bahwasanya adagium itu artinya orang harus punya etos kehidupan di Muhammadiyah sehingga dia tidak menjadi tangan di bawah, tetapi harus tangan di atas.
"Kalau toh di antara kita ini (bekerja) di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tidak apa-apa, itu tidak mencari penghidupan. Tapi ingat, di AUM itu tidak hanya mencari nafkah. Kalau hanya mencari nafkah, Anda salah alamat,”

