Ponorogo Menjadi Best Practice Pengembangan Amal Usaha Ekonomi Muhammadiyah

Dialog dan Gala Dinner Workshop Amal Usaha Ekonomi dan Sociopreneurship LPCRPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Foto: Ganjar
Dialog dan Gala Dinner Workshop Amal Usaha Ekonomi dan Sociopreneurship LPCRPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Foto: Ganjar

PONOROGO, Suara Muhammadiyah – Pengembangan amal usaha ekonomi di lingkungan Muhammadiyah perlu terus diperkuat agar mampu menopang keberlangsungan dakwah dan pelayanan umat.

Dalam hal ini, Ponorogo menjadi salah satu daerah yang memiliki praktik baik (best practice) dalam mengembangkan ekonomi berbasis Cabang, Ranting, dan Masjid (CRM).

Hal tersebut disampaikan Ketua Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jamaludin Ahmad, dalam sesi Dialog dan Gala Dinner Workshop Amal Usaha Ekonomi dan Sociopreneurship, Sabtu malam (31/10), di halaman SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo (Muhipo).

Jamaludin menjelaskan, workshop ini merupakan pengembangan dari kegiatan Ekonomi Expo, CRM Award, hingga workshop yang sebelumnya diselenggarakan di Kudus.

"Kali ini, kegiatan dikemas dengan desain yang lebih baik dan komprehensif melalui Workshop Amal Usaha Ekonomi dan Sociopreneurship," ujarnya.

Menurutnya, Ponorogo dipilih karena memiliki praktik baik dalam pengembangan amal usaha ekonomi Muhammadiyah. Selain aktivitas ekonomi PCM Ponorogo yang berkembang, masjid-masjidnya juga menunjukkan pengelolaan dan pemberdayaan yang baik.

"Kenapa Ponorogo? Karena PCM Ponorogo memiliki best practice dalam pengembangan ekonomi. Amal usaha ekonominya baik, masjid-masjidnya juga baik. Ini menjadi pengalaman berharga yang bisa dipelajari dan dikembangkan oleh daerah lain," ungkapnya.

Salah satu contoh disampaikan Suwardi, Ketua Takmir Masjid Baitul Mukhlisin Ponorogo, yang masjidnya meraih Juara I kategori Masjid Unggulan. Masjid tersebut mengembangkan sejumlah unit usaha, antara lain Surya Mart, laundry, BMT, restoran, dan depo air minum.

"Berbagai usaha itu menjadi sumber pendapatan untuk menopang kebutuhan operasional dan kegiatan masjid," tuturnya.

Praktik tersebut menunjukkan bahwa masjid dapat berkembang bukan hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat.

"Kemandirian ekonomi menjadi salah satu kekuatan untuk menjaga keberlangsungan pelayanan masjid kepada jamaah dan masyarakat," terangnya.

Kegiatan diawali dengan makan malam bersama dan penampilan kesenian Reog Ponorogo, kemudian dilanjutkan dialog yang berlangsung dalam suasana akrab dan penuh semangat berbagi pengalaman.

Harapannya tentu semakin banyak Cabang, Ranting, dan Masjid Muhammadiyah yang terinspirasi untuk mengembangkan usaha produktif sebagai penopang dakwah dan kemandirian ekonomi umat. (gsh).