SUKOHARJO, Suara Muhammadiyah - Sebanyak 96 jamaah KBIH Armina PDM Sukoharjo mengikuti praktik umrah sebagai bagian dari rangkaian manasik haji tamattu, Ahad, 20 September 2026, mulai pukul 05.30 WIB. Kegiatan praktik dilaksanakan di SMP Muhammadiyah 1 Sukoharjo. Jumlah kehadiran jamaah pada kegiatan kali ini meningkat dibandingkan pertemuan sebelumnya. Setibanya di lokasi, jamaah dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan pembagian tempat duduk yang telah ditentukan. Setiap kelompok didampingi dua orang pembimbing agar pelaksanaan praktik lebih tertib sekaligus memudahkan jamaah memperoleh arahan secara langsung.
Sebelum praktik dimulai, H. Imam Waladi memberikan penjelasan umum mengenai rangkaian umrah, mulai dari miqat, thawaf, sa’i, hingga tahallul. Kondisi di Madinah dan perjalanan menuju miqat disimulasikan melalui penjelasan lisan, sedangkan sejumlah area di SMP Muhammadiyah 1 Sukoharjo digunakan untuk mensimulasikan tahapan ibadah. Halaman sekolah difungsikan sebagai area thawaf sebagaimana mataf di Masjidil Haram, sementara jalan di depan sekolah digunakan sebagai mas’a atau tempat pelaksanaan sa’i. Selain menjelaskan tata cara ibadah, pembimbing juga menyampaikan berbagai situasi yang mungkin ditemui jamaah ketika melaksanakan umrah di Tanah Suci.
Praktik Miqat, Thawaf, Sa’i, dan Tahallul
Setelah sekitar 30 menit memperoleh pembekalan, jamaah mulai mengikuti praktik umrah secara berkelompok. Simulasi berlangsung sekitar 40 menit dengan pendampingan para pembimbing. Jamaah diarahkan memahami urutan pelaksanaan ibadah secara benar, dimulai dari niat dan miqat, dilanjutkan thawaf dan sa’i, kemudian diakhiri dengan tahallul. Dalam praktik thawaf, jamaah diingatkan bahwa setiap putaran dimulai dari posisi Hajar Aswad. Pembimbing juga memberikan arahan mengenai cara menjaga arah, keteraturan jamaah, serta ketelitian dalam menghitung jumlah putaran.
Pada praktik sa’i, jamaah mendapatkan penjelasan mengenai perjalanan dari Shafa menuju Marwah beserta bacaan dan tata cara yang menyertainya. Tahallul juga dipraktikkan dengan memperhatikan ketentuan dan aspek keamanan, terutama bagi jamaah perempuan. Untuk kepentingan simulasi dan menyesuaikan waktu, thawaf dan sa’i pada praktik kali ini hanya dilakukan sebanyak tiga putaran. Pembimbing menegaskan bahwa jumlah tersebut hanya berlaku dalam latihan, sedangkan pada pelaksanaan sebenarnya di Tanah Suci, thawaf dan sa’i tetap dilaksanakan sesuai ketentuan sebanyak tujuh kali.
Usai praktik, seluruh jamaah kembali ke ruang pertemuan manasik untuk mengikuti evaluasi bersama para pembimbing. Sejumlah hal menjadi perhatian, antara lain masih adanya jamaah yang lupa bacaan tertentu serta kelupaan memindahkan karet di pergelangan tangan yang digunakan sebagai alat bantu menghitung putaran thawaf. Pembimbing juga mengingatkan perbedaan bacaan ketika pertama kali naik ke Bukit Shafa dengan bacaan pada perjalanan berikutnya di Shafa dan Marwah. Tata cara tahallul yang aman bagi jamaah perempuan serta pentingnya menjaga kebersihan setelah memotong rambut turut menjadi bagian dari evaluasi.
Dalam kesempatan tersebut, pembimbing juga mengingatkan bahwa perbedaan pendapat dalam beberapa aspek pelaksanaan ibadah merupakan hal yang wajar dan tidak perlu menjadi perdebatan di antara jamaah. Hal utama yang ditekankan adalah pemahaman terhadap urutan dan ketentuan pokok pelaksanaan umrah dalam rangkaian haji tamattu. Antusiasme jamaah terlihat dari permintaan agar praktik serupa kembali diadakan. KBIH Armina pun telah menjadwalkan latihan lanjutan dalam rangkaian manasik berikutnya. Selepas kegiatan, jamaah menikmati teh hangat dan nasi soto yang telah menjadi sajian khas KBIH Armina setiap mengadakan simulasi dan praktik manasik. (Aris Rakhmadi/Siti Rochmijatun)

