Pro-Kontra KHGT: Semua Akan Muhammadiyah pada Waktunya

Publish

19 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
905
Gambar Ilustrasi

Gambar Ilustrasi

Pro-Kontra KHGT: Semua Akan Muhammadiyah pada Waktunya

Oleh: Muhammad Zulfi Ifani, Anggota LPCRPM PP Muhammadiyah / Mahasiswa Doktor Kepemimpinan & Inovasi Kebijakan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada / Owner PT IFRAME Solusi Multimedia

“Prosesnya mungkin lama, bisa 10, 50, atau 100 tahun, tapi Muhammadiyah akan sabar menanti,” Prof. Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Ada rutinitas ‘aneh’ menjelang Ramadhan, Syawal (Idul Fitri), dan atau Idul Adha. Dimana umat Islam di Indonesia bahkan di dunia memasuki fase berulang yang penuh ketidakpastian. Grup WhatsApp ramai, Facebook dan media sosial pun ikut gaduh penuh perdebatan. Yaitu, perdebatan klasik berulang: jadi puasanya kapan? Lebarannya hari apa? 

Bahkan di era AI saat ini, umat masih harus menunggu malam hari H-1. Menunggu kepastian dari sidang isbat, rukyat, atau pengumuman yang kadang berbeda satu sama lainnya.

Padahal dunia modern saat ini justru dibangun di atas kepastian. Masyarakat global membutuhkan kalender yang akurat. Maskapai penerbangan tak bisa berkata, “Kita lihat hilal dulu baru tentukan jadwal.” Bursa saham tak bisa menunggu rukyat. Dunia pendidikan, industri, dan birokrasi berjalan dengan sistem waktu yang terukur, konsisten, dan ilmiah.

Di tengah realitas itu, gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dari Muhammadiyah muncul sebagai tawaran solusi. Sebuah ikhtiar menyatukan penanggalan umat Islam secara global berbasis perhitungan astronomi yang akurat. Namun seperti banyak gagasan pembaruan dalam sejarah, KHGT tentu tidak datang tanpa pro-kontra. Menariknya, kita bisa melihat di masa lampu pertarungan pro-kontra semacam ini, déjà vu.

Oleh karena itu, sebagai pembelajar tema kepemimpinan dan inovasi kebijakan, saya akan bercerita singkat menyinggung KHGT dalam tulisan ini.

Kisah Lama: Pelurusan Kiblat

Awal abad ke-20, KH Ahmad Dahlan yang baru pulang dari Mekkah membawa suatu kegelisahan. Ia mempelajari ilmu falak dan ilmu bumi, lalu menyadari bahwa arah kiblat masjid-masjid di Yogyakarta kurang tepat. Selama ini masyarakat shalat menghadap lurus ke barat, padahal arah Ka’bah sebenarnya condong ke barat laut.

Bagi sebagian orang, seharusnya ini hanya persoalan teknis kemampuan mengukur. Tetapi bagi masyarakat waktu itu, hal ini menjadi begitu sensitif karena terkait dengan otoritas agama dan tradisi yang turun-temurun. KH Ahmad Dahlan berdialog dengan para ulama. Ia menjelaskan dengan dalil dan perhitungan ilmiah. Namun penolakan tetap muncul. Bahkan langgar yang dibangun dengan arah kiblat yang ia luruskan secara mandiri sempat dibongkar. Ia pun dituduh membawa ajaran baru – bahkan dianggap akan makar terhadap Keraton Yogyakarta.

Bayangkan saja, tekanan sosial dari sekelilingnya yang begitu keras saat itu. Tidak sedikit yang mencibir, bahkan memusuhi. Ia dan istrinya sempat kecewa berat, bahkan berencana pergi angkat kaki dari Jogja. Namun pada akhirnya, ia tidak mundur & konsisten dengan keyakinan ilmiahnya.

Hari ini, lebih dari seabad berlalu, hampir semua masjid di Indonesia juga bahkan dunia menggunakan arah kiblat berbasis ilmu falak yang akurat. Tak ada lagi perdebatan berarti soal itu. Apa yang dulu dianggap kontroversial kini menjadi standar normal.

Sejarah memberi pelajaran sederhana: pembaharuan yang berbasis ilmu dan data, asalkan berawal dari niat baik seringkali ditolak pada awalnya. Namun, pelan tapi pasti, akan diterima juga pada suatu masa nanti – ketika terasa manfaatnya.

Kisah Baru: KHGT

Kini, Muhammadiyah kembali menawarkan pembaharuan melalui KHGT. Tujuannya jelas: menghadirkan sistem kalender Islam global yang tunggal, sehingga umat Islam di seluruh dunia tak lagi terpecah dalam menentukan awal bulan penting. Satu hari, satu tanggal istilah kerennya.

Tentu saja pro-kontra tetap muncul. Sebagian khawatir akan menggeser tradisi rukyat lokal. Sebagian lagi mempertanyakan kesiapan umat menerima sistem global. Bahkan ada yang memandangnya terlalu modern. Atau lebih ekstrimnya, pilihan ini dianggap tidak syar’i – tak ada dalilnya.

Namun jika kita jujur, substansi KHGT bukanlah meninggalkan syariat, melainkan memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk memastikan ketepatan. Sama seperti pelurusan kiblat dahulu, ini adalah upaya menghadirkan akurasi berbasis sains.

Sebagai pembelajar tema kepemimpinan dan inovasi kebijakan. Saya melihat kasus KHGT ini dalam dua teori kepemimpinan modern:

Pertama, Transformational Leadership. Bahwa Kepemimpinan transformasional berbicara tentang kemampuan pemimpin untuk mengubah cara pandang dan nilai dari para pengikutnya. KH Ahmad Dahlan tak hanya mengoreksi arah kiblat secara fisik, tetapi juga menggeser mental umat yang sifatnya non-fisik: bahwa agama dan ilmu pengetahuan jangan dipertentangkan – integrasi saja.

KHGT pun berada di rel yang sama. Ia bukan sekadar soal kalender penanggalan, tetapi perubahan cara berpikir umat tentang waktu, modernisasi, globalisasi dan integrasi ilmu. Mereka yang memimpin dengan cara transformasional berani menawarkan visi jangka panjang, meskipun resikonya ditolak dan tidak populer dalam jangka pendek.

Kedua, Evidence-Based Problem Solving. Ahmad Dahlan menggunakan ilmu falak sebagai dasar koreksi kiblat. Ia tidak bertindak atas spekulasi, melainkan ilmu dan data yang ilmiah. KHGT pun sama, ia berdiri di atas perhitungan astronomi yang modern dan akurat. Ini adalah contoh pengambilan keputusan berbasis bukti.

Dalam dunia modern saat ini, kebijakan yang kokoh harus berawal dari data dan riset ilmiah. Bukan yang dengan sebatas insting “kayaknya ini bagus, kayaknya ini penting” apalagi pemikiran ABS (asal bapak senang).

Jika dahulu, ilmu pengetahuan dapat memastikan arah kiblat dengan akurat. Seharusnya hari ini, ilmu pengetahuan juga bisa memastikan kalender Islam secara global.

Semua Akan Muhammadiyah pada Waktunya

KHGT bila dibaca menggunakan kacamata Difusi Inovasi (Everett Rogers) boleh jadi sedang berada di fase awal, yaitu di fase innovator & early adopters yang tergolong masih minoritas. Akan tetapi, Rogers menekankan bahwa adopsi inovasi akan selalu berbentuk kurva S. Awalnya lambat, kemudian cepat, lalu stabil dan menjadi norma umum di dalam masyarakat.

Ada adagium yang populer, sering terdengar di kalangan warga persyarikatan: “Semua akan Muhammadiyah pada waktunya.” Mungkin terkesan sombong, tapi bukan itu poinnya. Adagium ini menjadi refleksi sejarah. Banyak gagasan Muhammadiyah yang awalnya dianggap aneh, kemudian justru menjadi standar normal dalam masyarakat.

Jika dahulu pelurusan kiblat adalah salah satunya. Hari ini, KHGT akan jadi contoh berikutnya. Insya ALLAH.

 


Komentar

Ngasifudin Ngasifudin

Kenapa Isu Hilal Sering Emosional? Karena ia menyentuh: Momentum sakral (Ramadan & Idul Fitri), Simbol kebersamaan keluarga Identitas ormas, Otoritas keagamaan. Jadi bukan murni soal astronomi.

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Dakwah Menjawab Jiwa Zaman: Belajar Dari KH Ahmad Dahlan Keharusan Peta Dakwah Oleh: Saidun Derani....

Suara Muhammadiyah

7 February 2024

Wawasan

Rasa Tanggung Jawab Penulis: Iu Rusliana, Penulis adalah dosen Program MM Uhamka dan Sekretaris Pim....

Suara Muhammadiyah

9 January 2026

Wawasan

Anak Saleh (12) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

10 October 2024

Wawasan

Melawan Kasta, Merangkul Persaudaraan Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas A....

Suara Muhammadiyah

17 September 2025

Wawasan

Muhammadiyah dan Indonesia Emas 2045 Oleh: Amrullah, Dosen Perbankan Syariah Universitas Ahmad Dahl....

Suara Muhammadiyah

21 May 2024