SURABAYA, Suara Muhammadiyah – Dunia ini pasti akan berakhir. Al-Qur’an sudah mengonfirmasi bahwa banyak manusia mengalami penyesalan di kehidupan akhirat.
“Kenapa kemudian tidak melakukan kebaikan-kebaikan?”, kata Muhammad Saad Ibrahim, Kamis (19/2) di TvMu Channel dalam program Tausiyah Kiai Saad Ibrahim.
Penyesalan itu benar-benar dirasakan karena manusia sering memarginalisasikan konteks tersebut selama menjalani hidup di dunia.
“Ketika kita sudah tidak hidup lagi di dunia ini, baru kita memahami nilai nikmat Allah yang berupa hidup,” tutur Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Implikasi dengan puasa mengajarkan tidak makan, minum, dan segala sesuatu yang membatalkan selama satu hari penuh. Yang itu merupakan jelmaan dari semaian nikmat Allah.
Selama satu hari penuh, tentu saja, kesan yang diperoleh nikmat sedemikian rupanya itu, hilang sekejap. Karena, tidak bisa makan dan minum, sebagai bentuk melaksanakan titah Tuhan dengan berpuasa: menahan diri.
Tentu, dengan merasakan kehilangan nikmat-nikmat tersebut selama satu hari penuh, manusia akan lebih menyadari betapa berharganya nikmat itu.
“Ketika nikmat itu sudah tidak ada, ketika tidak kita rasakan lagi (nikmat itu), baru kemudian seringkali menyadari betapa pentingnya kita merasakan nikmat itu,” tegas Saad.
Di sinilah pokok pangkal puasa, yang memberikan hikmah isy’arum bini’matillah (merasakan nikmat Allah). Lebih-lebih, kalau nikmat itu sudah tercerabut dari dalam diri manusia.
“Insyaallah kita akan menghargai ketika nikmat itu masih ada. Dan dengan cara itu kemudian, kita bisa bersyukur setinggi-tingginya,” tukasnya. (Cris)

