YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Banyak orang merasakan tubuh lebih lemas pada hari-hari awal Ramadan. Kondisi tersebut kerap dianggap sekadar efek lapar dan haus. Padahal, secara biologis tubuh sedang menjalani proses adaptasi metabolik yang kompleks.
Dr. dr. Akhmad Edy Purwoko, M.Kes., dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menjelaskan bahwa ketika seseorang mulai berpuasa dan berhenti makan, tubuh segera memasuki fase transisi metabolik. Dalam beberapa jam pertama, terjadi perubahan kadar hormon yang memicu peralihan sistem energi.
“Ketika kita berhenti makan, dalam 4 sampai 6 jam pertama kadar glukosa darah mulai turun dan hormon insulin ikut menurun. Penurunan insulin ini menjadi kunci karena insulin adalah hormon penyimpanan energi. Saat insulin turun, tubuh berhenti menyimpan energi dan mulai menggunakan cadangan yang sudah ada,” jelasnya saat dihubungi secara daring pada Kamis (26/2).
Dalam kondisi normal setelah makan, insulin membantu memasukkan glukosa ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi atau disimpan sebagai cadangan. Namun, saat puasa, tubuh justru mengaktifkan hormon lain seperti glukagon untuk menjaga kestabilan gula darah.
“Ketika gula darah menurun, glukagon meningkat dan hati mulai memecah glikogen, yaitu simpanan gula. Setelah sekitar 8 sampai 12 jam, tubuh mulai beralih dari pembakaran glukosa ke pembakaran lemak. Proses ini disebut metabolic switching, yaitu peralihan sumber energi dari gula ke lemak,” papar dr. Edy.
Menurutnya, setiap jaringan tubuh memiliki strategi adaptasi yang berbeda karena sel-sel telah mengalami diferensiasi sesuai dengan fungsi masing-masing.
Sel otak pada awalnya sangat bergantung pada glukosa karena tidak memiliki cadangan energi. Namun, setelah tubuh beradaptasi, otak dapat memanfaatkan badan keton sebagai sumber energi alternatif yang lebih efisien bagi kerja mitokondria. Sementara itu, sel otot mula-mula menggunakan glikogen, lalu beralih ke pembakaran lemak. Jika puasa berlangsung terlalu lama tanpa asupan yang memadai, tubuh bahkan dapat memecah protein sebagai sumber energi terakhir.
Setelah tubuh beradaptasi di tingkat sel, pola asupan menjadi faktor penentu agar proses tersebut berjalan optimal. Karena itu, kualitas makanan saat sahur dan berbuka menjadi faktor penting untuk mendukung ketahanan sel selama puasa.
Ia mengingatkan bahwa lonjakan gula dan lemak secara drastis saat berbuka justru dapat memicu stres metabolik dan mengurangi manfaat puasa. Sebaliknya, puasa yang dilakukan dengan pola makan yang tepat dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan efisiensi kerja sel.
“Puasa yang benar dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mendukung mekanisme perbaikan sel. Namun, jika tidak terkontrol, bisa terjadi hipoglikemia, dehidrasi, atau ketidakseimbangan elektrolit. Karena itu, penting dilakukan dengan cara yang tepat,” tegasnya.
Dr. Edy menegaskan bahwa puasa merupakan proses biologis alami yang selaras dengan sistem tubuh manusia. Dengan pemahaman yang baik serta pola makan yang seimbang, puasa tidak hanya menjadi ibadah spiritual, tetapi juga momentum untuk memperbaiki metabolisme dan kesehatan sel secara menyeluruh. (NF)

