Puasa Menuntun Hawa Nafsu Manusia

Suara Muhammadiyah

20 March 2024

2547
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Puasa Menuntun Hawa Nafsu Manusia

Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasehat PRM Troketon

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan, dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya? Dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta menutup penglihatannya. Maka siapakah yang mampu memberi petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (Q.S. Surat Al-Jatsiyah ayat 23)

Ibadah puasa yang kita laksanakan saat ini adalah sebuah pengejawantahan dari pancaran nilai-nilai tauhid atau keimanan kepada Allah pada umat-Nya yang mendapatkan hidayah atau petunjuk. Pada dasarnya, puasa merupakan bagian dari rangkaian rukun Islam yang ketiga, setelah syahadat dan sholat. Ibadah puasa merupakan metode yang menghubungkan baik secara batin maupun lahiriah.

Jika kita mau introspeksi diri, kadang-kadang secara tidak disengaja, kita menyadari bahwa dalam kehidupan sehari-hari, hawa nafsu kita tidak terkontrol. Hal ini dapat menyebabkan kita menyembah hawa nafsu kita sendiri. Akal budi dan akhlak mungkin telah terkontaminasi oleh bujukan setan sehingga tindakan atau perilaku kita tidak selaras dengan tuntunan agama, baik dalam urusan ekonomi, politik, sosial, budaya, kemasyarakatan, maupun berbangsa dan bernegara.

Kita kadang merasa kuat dalam kehidupan ini, seolah-olah kita adalah penguasa tunggal. Hal ini terjadi terutama ketika memiliki kekuasaan, jabatan, atau materi, sehingga manusia melebihi Tuhannya, seperti contoh Raja Fir'aun, Namrud, dan Abraha. Di era perkembangan ilmu dan teknologi, jika tidak dikelola dengan baik, kita akan menjadi umat yang terjebak dalam kejahilan di era modern.

Surat Al-Jatsiyah menggambarkan orang yang menyembah hawa nafsunya, di mana pendengaran dan penglihatannya dikunci oleh Allah. Allahlah yang memberi Hidayah dengan hak prerogatif-Nya.

Ibadah puasa adalah refleksi dari proses perjalanan nilai-nilai yang luhur, yang menata dan menuntun manusia dengan menyelaraskan hati, pikiran, dan perilaku, sehingga terjadi keseimbangan atau harmoni.

Puasa pada hakikatnya adalah proses mengosongkan hati dan pikiran dari yang kotor, sehingga menghasilkan tindakan yang baik. Dengan menahan hawa nafsu dari terbitnya matahari hingga tenggelamnya, diharapkan akan ada hasil yang positif, yakni menjadi insan yang beradab.

Dengan berpuasa, kita dapat menjaga hawa nafsu dari keburukan dan selalu terjaga dengan kesucian, yang tercermin dalam karakteristik berikut. Sebagaimana petuah dari Buya Hamka yang menyatakan, "Iman akan menghasilkan keikhlasan, ilmu akan menghasilkan amal, akhlak akan menghasilkan keteladanan, dan wawasan kekinian akan menghasilkan semangat berdakwah."

Semoga ibadah puasa, sebuah ritual yang dilaksanakan setiap tahun, memberikan pelajaran tentang ibadah yang berkualitas dalam iman, ilmu, dan amal kita, sehingga kita menjadi manusia yang beradab dan terhindar dari keburukan hawa nafsu. Aamiin.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Ketiga, tertutupnya pintu ijtihad. Perihal ini juga menyuguhkan andil bagi lahi....

Suara Muhammadiyah

12 September 2023

Wawasan

Menuju Kesiapan Hidup Berumah Tangga Oleh: Teguh Pamungkas, Penyuluh Keluarga Berencana Perwakilan ....

Suara Muhammadiyah

5 April 2024

Wawasan

Privilege dalam Perspektif Sosiologi Islam Penulis: Amalia Irfani, Dosen IAIN Pontianak/LPPA PWA Ka....

Suara Muhammadiyah

8 June 2026

Wawasan

Babi, Alkohol, dan Akal Sehat (Bagian 1) Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universita....

Suara Muhammadiyah

27 October 2025

Wawasan

Anak Saleh (32) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

27 February 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah