JEMBER, Suara Muhammadiyah - Implementasi ibadah puasa (ash-shiyam), tidak hanya sekadar menjalani tanpa memuat substansi kemanfaatannya.
Jika dibedah lebih mendalam, kemanfaatan itu tidak hanya bersifat secara spiritual, tetapi juga dari sudut pandang kesehatan.
Terkait dengan hal ihwal tersebut, Ahli biologi sel asal Jepang, Yoshinori Oshomi, mengungkapkan fakta menarik tentang konteks ini.
Dalam penelitiannya, sebagaimana diungkap Muhammad Saad Ibrahim, Yoshinori menemukan titik sentral puasa bermanfaat terhadap proses autofagi.
"Dengan mengondisikan fisik dalam kurun waktu setidak-tidaknya 8 jam. Selama 8 jam itu, proses untuk memasukkan (makan minum) dihentikan," kata Saad.
Yang kemudian, ketika tidak mendapatkan asupan makanan dalam jangka waktu 8 jam tersebut, lanjut Saad, berimplikasi pada peran sentral mendaur ulang sel-sel yang rusak.
"Ternyata, proses seperti itu menggantikannya dengan sel-sel baru yang lebih sehat," sambung Saad. Yang dari penelitian tersebut, Yoshinori mendapatkan penghargaan Nobel Kedokteran tahun 2016.
Bahkan hal demikian diperkuat oleh keterangan hadis, "Berpuasalah niscaya kalian akan sehat." Hadis ini diriwayatkan Ath-Thobraniy, yang menjadi penekanan puasa bertautan pada konteks kesehatan.
Sehingga, berpokok pangkal dari penelitian Yoshinori tadi, tarikan napas maknanya, kemaslahatan puasa tidak hanya berdampak positif bagi orang Islam, namun berlaku sifat universal.
"Puasa itu baik. Baik untuk siapa saja, muslim maupun tidak muslim," tegas Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut saat Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Jember, Ahad (8/2) di Kantor PDM Kabupaten Jember, Bondoyudo, Jemberlor, Patrang, Jember, Jawa Timur.
Diposisikan sangat fundamental terhadap kesehatan, tak pelak, implementasi puasa meniscayakan tubuh tidak sekadar hanya istirah dari proses pencernaan, tetapi pada saat yang sama, juga menjalani proses regenerasi. Yang dari situ kemudian dapat meningkatkan daya tahan tubuh. (Cris)

