Puasa yang Mendidik

Publish

28 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
43
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Puasa yang Mendidik

Oleh: Asman Budiman, Wakil Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Kendari, Bid. Riset, Teknologi & Manajemen SDM

Berapa banyak orang yang berpuasa hanya sekadar menahan lapar dan haus. Mengubah aktifitas makan dan minum di siang hari, menjadi malam hari. Waktu berpuasa berlalu tanpa adanya kontemplasi diri, terhadap keyakinan teologis. Slamet Untung (2022) menyebut puasa seperti ini adalah puasa yang tidak berkualitas. Menurutnya puasa dilakukan dengan memperhatikan aspek jasmani dan rohani, yang dipadukan untuk mengantarkan seseorang kepada puncak spiritualitas.

Jika kita melihat Sejarah puasa pada peradaban terdahulu, maka akan kita temukan bahwa puasa yang dilakukan adalah bagian dari cara seseorang untuk mengendalikan diri, menyucikan jiwa, dan mendekatkan diri kepada sang Ilahi. Di zaman Yunani kuno misalnya menjadikan puasa untuk Kesehatan dan kekuatan fisik. Selain itu, juga dilakukan sebelum melakukan perang dan sebagainya. 

Namun, apakah puasa hanya sekadar memberikan dampak kesehatan dan kedekatan kepada sang Ilahi secara teologis? Ali Syariati mengisyaratkan bahwa Puasa yang dilakuakn adalah penyucian jiwa dengan menahan diri terhadap sikap menindas, yang seharusnya membangkitkan kesadaran sosial. Kesadaran ini muncul dari proses internalisasi nilai ibadah puasa yang mendidik jiwa dan nalar umat manusia. 

Puasa adalah pendidikan rohani yang membentuk kesadaran seseorang agar memahami ajaran agama secara komprehensif. Inilah yang dimaksud oleh Umiarso (2018), bahwa puasa diproyeksikan untuk membangun solidaritas sosial. Nilai ini dibangun di atas pondasi egalitarianism dalam Islam, yang praktiknya semua strata sosial sama di mata Tuhan. Puasa telah mendidik kita semua agar turut ke dalam penderitaan yang sama, dengan orang lain. Sehingga, proses puasa yang dilakukan tidak menghasilkan manusia individu yang bebal.

Orang yang berpuasa, haruslah mendidik jiwanya agar menjadi peka terhadap realitas sosial. Jiwa yang mampu menumbuhkan kesadaran spiritual bisa dilakukan melalui hasil dari puasa sehingga mampu mendidik ruhani manusia. Demikian orang yang berpuasa tidak serta merta melakukan perbuatan yang bisa mengotori jiwanya.

Memahami puasa sebagai pendidikan ruhani, dapat mengantarkan seseorang kepada tiga hal. Pertama, melakukan tazkiyatun nafs yang melibatkan pendekatan spiritual, mengimplemntasikan nilai-nilai Al-Quran, dan menjalin hubungan sosial yang baik. Orang yang melakukan penyucian jiwa, akan melihat puasa tidak hanya secara vertical, namun juga secara horizontal.

Kedua, puasa yang mendidik ialah menumbuhkan kepekaan sosial. Dalam pandangan Ibnu Khaldun, untuk menumbuhkan kepakaaan sosial, ini berkaitan dengan cara berpikir Al-'Aql at-Tamyizi. Hakikat dari cara berpikir seperti ini agar manusia mampu memberdakan hal-hal yang buruk dan baik. Sehingga puasa merefleksikan agar perkembangan akal dasar manusia menurut Ibnu Khaldun dapat berkembang.

Ketiga, memerdekan jiwa dari keterikatan personal dan kebendaan. Puasa adalah ketundukan terhadap Aqidah/tauhid. Ketundukan itu menginsyaratkan bahwa hanya kepada Allah tempat menggantungkan diri dan bukan kepada manusia ataupun benda. Kita melepaskan segala ketundukan kepada manusia, dan mengontrol diri sendiri agar tidak terjerumus kepada keburukan.

Implementasi Puasa

Puasa yang dikatakan mendidik ialah puasa yang dilakukan tidak hanya terkotak pada aspek teologis atau metafisik. Merujuk pada teori sosiologi Auguste Comte, hasil pendidikan yang didapatkan adalah untuk menggeser cara berpikir teologis (gaib) menuju tahap rasional dan berdampak. Puasa seyogyanya bertransformasi dari sekadar berpikir gaib (ritual), menuju realitas sosial. 

Hasil didikan puasa sebagai agen penyeimbang tatanan kehidupan sosial, mencegah seseorang untuk melakukan tindakan buruk dalam kehidupan. Puasa dapat menumbuhkan moralitas dan membangun kesadaran agar seseorang meyakini bahwa ada hal yang lebih penting dari sekadar menahan haus dan lapar. Al Farabi menyebut puasa yang mendidik sebagai pembentukan individu yang berkarakter mulia yang dapat berkontribusi kepada kehidupan masyarakat.

Betapa banyaknya aspek spiritualitas agama berakhir pada ruang kontemplasi diri yang tidak memiliki dampak kepada orang lain. Fiet. H Khaidir (2006) dalam buku “Nalar Kemanusiaan, Nalar Perubahan Sosial” menjelaskan bagaimana masyarakat harus bertransformasi dari pemahaman parsial terhadap agama, menjadi sebuah transformasi perubahan sosial. 

Perubahan pada suatu Masyarakat, begitupun penafsiran agama adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat di tolak. Kita hanya perlu mengarahkan agar perubahan yang terjadi mengarah kepada keberpihakan kaum mustad’afin. Puasa yang dilakukan, sebagaimana yang di kemukakan Khaidir, harus mengarah kepada perubahan sosial.

Olehnya itu, puasa haruslah dimanifestasikan di masa kini, sebab menurut Fazlur Rahman wahyu Al-Quran yang di dalamnya terdapat perintah berpuasa bukanlah teks kaku tetapi wahyu yang menanggapi situasi sosial.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Pembelajaran Tafsir Al-Qur’an Masa Depan Oleh: Tri Ermayani, Mahasiswa S3 Pendidikan Agama Is....

Suara Muhammadiyah

3 June 2024

Wawasan

Bani Israil dan Tanah yang Dijanjikan Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas A....

Suara Muhammadiyah

1 January 2024

Wawasan

Saeyag Sa Eka Praya Oleh: Rumini Zulfikar, Penasehat PRM Troketon "Jika suatu umat memiliki nilai-....

Suara Muhammadiyah

1 October 2024

Wawasan

Memaknai Ahlak dalam Pendidikan Oleh Roehan Ustman: Pengasuh PP Ibnul Qoyim Yogyakarta Dalam dunia....

Suara Muhammadiyah

10 February 2026

Wawasan

Guru Pahlawan Sebenarnya Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

10 November 2025