Puisi di Hari Istimewa

Suara Muhammadiyah

28 July 2026

118
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Puisi di Hari Istimewa

Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasihat PRM Troketon, Pedan, Klaten

"Aksara demi aksara kupahatkan di atas kertas dengan tinta,
di keheningan sunyinya malam berbalut kabut."

Suatu malam, dalam keheningan di hari istimewanya, yaitu hari kelahirannya, penulis mencoba menuangkan sebuah tulisan berupa puisi yang berjudul "Nara dan Harsa" di Android-nya. Sebagai berikut:

NARA & HARSA

Senja berganti malam
Banyak Nara ingin bercengkerama
Bercengkerama intim dengan Tuhannya
Serta bercengkerama dengan sesama.
Dengan wajah yang menunduk menembus pintu langit.
Dengan menadahkan tangan seraya menggapai rahmat-Nya.
Dengan lara nan nestapa
Banyak Nara mengharap Abhi Praya.
Banyak Nara ingin Harsa yang Kamila.

Sanggar Waringin, 26-07-2026

Dari sebuah tulisan puisi di atas, penulis mencoba menceritakan dengan menggunakan sebuah bahasa Sanskerta, yaitu sebuah tujuan hidup setiap manusia (Nara), yaitu sebuah harapan (Abhi Praya), yaitu Harsa.

Sebuah ungkapan dari sang penulis manakala memasuki usia 47 tahun pada tanggal 17 Juli 2026. Sang penulis mencoba meresapi perjalanan kehidupannya dengan penuh pernik-pernik, baik secara laku spiritual maupun laku yang lainnya.

Judul di atas merupakan sebuah kontemplasi bahwa setiap manusia mempunyai cerita dalam perjalanan kehidupan di dunia ini.

Seseorang menapaki tangga demi tangga dalam kehidupan di dunia ini. Ada dua sisi yang harus kita sadari dan kita harus bisa mengikuti ritme yang sudah menjadi ketetapan-Nya.

Kita banyak melihat dan merasakan di sekeliling kita bahwa kehidupan yang fana ini akan diperlihatkan baik-buruk, hitam-putih, suka-duka, kaya-miskin, berseri-muram, dan lain sebagainya.

Dalam menyikapinya, manusia yang mempunyai nilai budaya memiliki banyak cara untuk mengungkapkannya.

Salah satu cara atau media sebagai penghubung dari satu dengan yang lainnya adalah dengan menuliskan kata-kata dalam sebuah kalimat yang mengandung pesan dari sang penyair kepada khalayak ramai, yaitu sebuah seni sastra yang bernama puisi.

Kalau kita berbicara tentang puisi, puisi adalah seni karya sastra yang mengungkapkan isi hati, pikiran, dan perasaan penyair dengan menggunakan bahasa yang indah, terikat oleh irama, rima, serta penyusunan larik dan bait.

Kalau kita berbicara tentang puisi, dari beberapa referensi, puisi dibagi menjadi dua, yaitu puisi lama dan puisi baru berdasarkan bentuk atau zamannya.

Puisi lama, antara lain:

  • Pantun, yaitu puisi yang terikat aturan: jumlah baris, rima, dan jumlah kata. (Contoh: Buah manggis buah duku, kalau kangen cepatlah temu.)
  • Syair, terdiri atas empat baris, semua isinya, dengan rima a-a-a-a. Biasanya berisi cerita atau nasihat agama.
  • Gurindam, terdiri atas dua baris. Baris pertama sebab, baris kedua akibat. Isinya nasihat. Contoh: Barang siapa mengenal diri, maka mengenal akan Tuhan yang bahari.
  • Mantra, isinya jampi-jampi.

Sedangkan puisi baru, bahasanya lebih bebas, tidak terlalu terikat, dan muncul setelah tahun 1920.

  • Soneta, terdiri atas 14 baris, dua bait pertama masing-masing empat baris, dan dua bait terakhir masing-masing tiga baris.
  • Balada, berisi cerita sedih atau tragis.
  • Himne, berisi pujian kepada Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
  • Ode, pujian untuk seseorang yang berjasa.
  • Elegi, ungkapan duka atau cinta yang sedih.
  • Satire, berisi sindiran atau kritik sosial.

Sedangkan puisi kontemporer atau puisi bebas.

Isinya bebas sepenuhnya. Tidak ada rima, irama, ataupun jumlah baris yang baku. Yang terpenting adalah ekspresi.

  • Puisi bebas, isi dan bentuknya bebas.
  • Puisi konkret, bentuk tulisan menyerupai isi. Misalnya, puisi hujan ditulis menyerupai tetesan air.
  • Puisi mantra, menggunakan pengulangan kata untuk menciptakan efek magis.

Itulah beberapa bentuk puisi.

Jika kita menyadarinya, puisi merupakan sebuah seni sastra yang menjadi media untuk mengeluarkan unek-unek atau perasaan dari sang penulis, baik perasaan sedih, suka, marah, maupun protes. Karena dengan puisi yang dibalut kata-kata yang tersusun rapi, penuh makna dan pesan moral, seseorang dapat menyampaikan isi hatinya.

Sebuah pelajaran bagi penulis adalah:

"Dengan puisi aku belajar kepada Tuhan.
Dengan puisi aku belajar mengenal diriku sendiri.
Dengan puisi aku belajar membangun kepekaan dan rasa."

Ternyata, dengan seni inilah seseorang akan menemukan makna kesejatian dalam hidupnya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Nur Ngazizah “Belajarlah, karena ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, juga keutamaan ....

Suara Muhammadiyah

2 December 2023

Wawasan

MESSI: Sutradara, Aktor, dan Seniman Sepak Bola yang Luar Biasa, Seperti Valentino Rossi di MotoGP&n....

Suara Muhammadiyah

16 July 2026

Wawasan

Uighur Xinjiang, Daerah Kaya di Jantung Asia Oleh: Buya Anwar Abbas  Daerah Otonomi Uighur Xi....

Suara Muhammadiyah

18 May 2026

Wawasan

Menapaki Jejak Wahyu: Menggali Ilmu Al-Qur'an bersama Yasir Qadhi Oleh: Donny  Syofyan, Dosen ....

Suara Muhammadiyah

11 November 2024

Wawasan

Memaafkan Oleh; Dr. Amalia Irfani, M.Si/Dosen IAIN Pontianak dan LPPA PWA Kalbar Waktu berjalan be....

Suara Muhammadiyah

26 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah