YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 pada Ahad (19/7) di Gedung DPD RI DIY, Yogyakarta. Mengusung tema "Anak Terlindungi, Keluarga Bahagia, Indonesia Maju", kegiatan ini menjadi momentum memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan perlindungan anak berbasis keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Seminar diikuti secara hybrid oleh unsur Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah, organisasi perempuan, majelis dan lembaga PWA DIY, serta perwakilan PDA dan IGABA se-DIY. Kegiatan juga diikuti secara daring oleh kader, guru PAUD, guru sekolah Muhammadiyah-'Aisyiyah, muballighat, dan berbagai unsur masyarakat sebagai bentuk perluasan edukasi mengenai perlindungan anak.
Ketua PWA DIY, Dr. Widiastuti, S.Ag., M.M., dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan dan pengasuhan anak merupakan bagian dari dakwah amar makruf nahi mungkar sekaligus amanah Allah SWT yang harus dijaga bersama. Mengutip Surat At-Tahrim, beliau mengingatkan bahwa setiap orang tua memiliki tanggung jawab menjaga diri dan keluarganya, termasuk memastikan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang.
Menurutnya, tanggung jawab tersebut tidak hanya berlaku kepada anak kandung, tetapi juga kepada seluruh anak di sekitar lingkungan. Karena itu, 'Aisyiyah terus menguatkan berbagai program perlindungan anak, termasuk melalui gerakan literasi dan pendampingan masyarakat sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan lingkungan yang ramah anak.
"Anak bukan hanya anak biologis kita, tetapi juga anak-anak di sekitar kita yang harus kita lindungi bersama."
Dr. Widiastuti juga menekankan bahwa keluarga merupakan madrasah pertama dan utama bagi anak. Keluarga bahagia bukan berarti tanpa konflik, melainkan keluarga yang mampu mengelola perbedaan dengan komunikasi yang baik, sehingga terbangun hubungan yang dilandasi mawaddah wa rahmah dan menjadi tempat pulang yang menenteramkan bagi setiap anak.
Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa ketahanan keluarga merupakan fondasi utama peradaban. Indonesia yang maju hanya dapat diwujudkan melalui generasi yang sehat, tangguh, adaptif, berkarakter Islami, sekaligus memiliki wawasan global.
Sebagai bentuk komitmen bersama, PWA DIY mengajak seluruh peserta untuk memperkuat tiga gerakan utama, yaitu menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap anak, memberikan pendidikan terbaik bagi setiap anak, serta menciptakan lingkungan yang ramah dan aman bagi anak.
Seminar menghadirkan keynote speech, Kepala Balai Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AP2 DIY, Beni Kusambodo, SH., menyampaikan mengenai kebijakan perlindungan anak yang menegaskan bahwa perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, keluarga, dunia pendidikan, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen bangsa. Sinergi lintas sektor menjadi kunci dalam membangun sistem perlindungan anak yang efektif dan berkelanjutan.
Pada sesi panel, peserta memperoleh penguatan dari berbagai perspektif. Materi mengenai keluarga bahagia menegaskan bahwa keluarga adalah madrasah pertama bagi anak. Pengasuhan positif, komunikasi yang hangat, keteladanan, serta kemitraan yang seimbang antara ayah dan ibu menjadi pondasi penting dalam membentuk anak yang sehat secara fisik, emosional, sosial, dan spiritual.
Sementara itu, Dr. Riana Mashar menekankan bahwa pemenuhan hak anak bukan sekadar isu perlindungan, tetapi merupakan fondasi pembangunan bangsa. Anak memiliki hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, memperoleh pendidikan, kesehatan, perlindungan, serta berpartisipasi dalam lingkungan yang menghargai martabatnya.
Pemenuhan hak-hak tersebut merupakan investasi jangka panjang menuju Generasi Emas Indonesia 2045. Beliau juga mengingatkan bahwa anak yang dibesarkan dengan kasih sayang akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu mencintai sesama dan lingkungannya.
Pembahasan mengenai perlindungan anak juga menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan yang bebas dari kekerasan, diskriminasi, perundungan, eksploitasi, hingga kekerasan berbasis digital. Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah, keluarga, sekolah, media, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan anak sebagai subjek utama pembangunan.
Selain seminar, kegiatan juga diisi dengan penyerahan bantuan bagi anak sekolah serta peluncuran Indeks Rumah Ramah Anak 'Aisyiyah sebagai salah satu inovasi PWA DIY dalam memperkuat budaya perlindungan anak di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Melalui peringatan Hari Anak Nasional 2026, PWA DIY berharap seluruh kader, pendidik, orang tua, dan masyarakat semakin memperkuat gerakan bersama dalam menghadirkan keluarga yang kokoh, sekolah yang aman, serta lingkungan yang ramah anak. Dengan demikian akan lahir generasi Indonesia yang sehat, cerdas, berakhlak mulia, bahagia, dan terlindungi sebagai fondasi menuju Indonesia Maju.

