YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Berbeda dengan kemarin. Kali ini tidak hanya menjadi ajang formalitas semata, kegiatan Pengabdian Masyarakat dengan skema PKM Reguler UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) yang menyasar Account Officer (AO) PT BPRS BDW itu digadang-gadang menjadi salah satu ikhtiar untuk membekali para AO menghadapi dunia yang tak lagi sama dengan sebelumnya. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut menghadirkan beberapa narasumber kompeten dalam hal manajemen risiko kredit di dunia keuangan (6/2).
Gita Danupranata, Wakil Ketua PWM DIY sekaligus dosen pengabdi dari UMY menegaskan bahwa kegiatan ini sangat spesifik terkait dengan pembekalan manajemen risiko khusus pegawai perbankan yang berkaitan langsung dengan hutang-piutang. Terutama yang terkait dengan kredit, pembiayaan atau hutang.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi mandatory langsung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY kepada seluruh karyawan PT BPRS BDW untuk mengasah pengetahuan serta skillnya terkait manajemen risiko di dunia perbankan. “Seluruh pesertanya ini dari BPRS BDW yang milik PWM itu, dan khusus pegawai yang langsung berhadapan dengan nasabah untuk kredit atau pembiayaan,” ujarnya.
Ia pun berharap melalui kegiatan ini, budaya sadar risiko mulai terbangun. Kemudian seluruh karyawan dapat mempersiapkan diri untuk mengikuti sertifikasi kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Kompetensi. “Kedepannya saya berharap, sebagai Amal Usaha Muhammadiyah jangan sampai nanti terjadi peristiwa yang tidak diharapkan, salah satunya terkait dengan risiko yang tidak terkelola dengan baik,” jelasnya.

Sebagai narasumber, M Khaeruddin Hamsin, Dosen Fakultas Hukum UMY mengatakan bahwa dalam dunia keuangan, segala hal pasti memiliki risiko, termasuk halnya kepatuhan syariah. Hal ini ia sampaikan sebagai peringatan bahwa banyak sekali celah yang dapat mengundang berbagai risiko keuangan di perbankan.
“Kalau kepatuhan tidak berjalan dengan baik, indikasi risikonya tentu akan sangat besar,” tegasnya.

Rizal Yaya, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMY mengungkapkan, bisnis perbankan adalah bisnis risiko. Dengan kata lain, bank merupakan mesin risiko, yang mana bank mengambil resiko, mentransformasikannya, dan kemudian mengemasnya ke dalam produk dan jasa.
Menurutnya, bank yang selalui aktif mengelola risko akan memperoleh keunggulan kompetitif. Begitu pula sebaliknya, bank yang tidak aktif mengelola risiko akan punah, baik itu disebabkan oleh faktor dari luar atau hancur dari dalam. (diko)

