YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Bulan Ramadan selalu menghadirkan momen istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Salah satu yang paling dinantikan adalah datangnya Lailatul Qadar, malam yang dalam Al-Qur’an disebut memiliki kemuliaan lebih baik daripada seribu bulan.
Dosen Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Talqis Nurdianto, Lc., M.A., Ph.D., menjelaskan bahwa Lailatul Qadar merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW. Malam tersebut memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi karena setiap amalan yang dilakukan akan dilipatgandakan pahalanya.
“Allah SWT secara langsung menyebutkan dalam Surah Al-Qadr bahwa Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, satu malam tersebut nilainya dapat melampaui ibadah selama puluhan tahun. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan momentum ini dengan memperbanyak ibadah, seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta memperbanyak doa kepada Allah SWT,” jelas Buya Talqis pada Kamis (12/3) di UMY.
Sejumlah hadis juga memberikan petunjuk mengenai waktu datangnya Lailatul Qadar. Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil.
“Namun para ulama menegaskan bahwa tidak ada kepastian tanggal yang benar-benar pasti. Karena itu Rasulullah SAW mengajak umatnya untuk menghidupkan seluruh malam di akhir Ramadan dengan ibadah, agar tidak hanya berfokus pada satu malam tertentu saja,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Talqis menuturkan bahwa beberapa riwayat juga menyebutkan tanda-tanda yang sering dikaitkan dengan datangnya malam Lailatul Qadar. Meski demikian, tanda-tanda tersebut tidak dapat dijadikan patokan mutlak karena yang paling utama adalah kesungguhan dalam beribadah.
“Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa malam Lailatul Qadar memiliki suasana yang sangat tenang dan menenteramkan. Udara terasa sejuk, tidak terlalu panas maupun dingin, serta menghadirkan ketenangan bagi orang-orang yang beribadah. Bahkan pada pagi harinya matahari terbit dengan cahaya yang lembut tanpa sinar yang menyilaukan. Namun tanda-tanda ini tidak dapat dipastikan secara mutlak,” jelasnya.
Menurutnya, dirahasiakannya waktu pasti Lailatul Qadar justru mengandung hikmah besar bagi umat Islam. Hal tersebut menjadi cara agar umat Islam terdorong untuk meningkatkan ibadah secara konsisten sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadan.
“Jika Allah menentukan secara pasti kapan Lailatul Qadar terjadi, bisa jadi manusia hanya fokus beribadah pada malam itu saja. Dengan dirahasiakannya waktu tersebut, umat Islam didorong untuk bersungguh-sungguh menghidupkan seluruh malam di sepuluh hari terakhir Ramadan. Inilah bentuk pendidikan spiritual agar umat Islam lebih tekun, lebih istiqamah, dan tidak hanya beribadah pada satu momen tertentu,” pungkas Talqis.
Ia pun mengingatkan bahwa pencarian Lailatul Qadar bukan sekadar menunggu tanda-tanda tertentu. Sepuluh malam terakhir Ramadan justru menjadi kesempatan terbaik untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak doa, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. (NF)
