MAGELANG, Suara Muhammadiyah - SMA Taruna Muhammadiyah (SMA Tarunamu) Gunungpring Muntilan mengawali tahun ajaran baru 2026/2027 dengan Rapat Kerja (Raker), Rabu-Kamis (17-18/6) di ruang aula sekolah. Raker ini tidak hanya mengevaluasi program, tetapi juga memperkuat fondasi karakter melalui konsep unik "Tripola Pendidikan".
Raker ini dihadiri oleh seluruh sivitas akademika, jajaran Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan ‘Aisyiyah (PRA) Gunungpring, pengurus yayasan, serta penasehat ketarunaan, Mayjen TNI (Purn) Agus Winarna.
Kepala SMA Taruna Muhammadiyah Gunungpring, Dwi Ehwanto membuka sesi evaluasi dengan paparan capaian membanggakan selama tahun pelajaran 2025/2026. Ia menegaskan bahwa kepercayaan yang diberikan pemerintah dan persyarikatan adalah amanah besar.
"Kami mendapatkan bantuan pengembangan Laboratorium IPA dan STEM dari Kemendikbud sebagai Sekolah Model. Selain itu, penetapan sebagai Sekolah Unggul Madya oleh Muhammadiyah menunjukkan peningkatan kualitas yang signifikan," ujar Dwi.
Namun, bagi Dwi, prestasi akademik bukanlah satu-satunya tolak ukur. Ia menyoroti keberhasilan lulusan tahun ini yang tersebar di berbagai perguruan tinggi negeri/swasta ternama, serta sejumlah taruna/taruni yang lolos seleksi ketat di Akademi Militer, Kepolisian, dan Institusi Kedinasan lainnya.
"Ini bukti bahwa integrasi nilai keislaman, kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan mampu melahirkan generasi yang siap bersaing. Prestasi ini bukan tujuan akhir, tapi pijakan untuk inovasi lebih lanjut," tambahnya.
Poin paling menarik dari Raker ini adalah materi penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang disampaikan oleh Mayjen Agus Winarna. Ia menekankan urgensi adaptasi terhadap disrupsi teknologi.
“Sekolah tidak boleh terjebak hanya pada transfer ilmu akademik. Tantangan masa depan membutuhkan lulusan dengan karakter baja, mental tangguh, dan spiritual kokoh,” tegasnya.
Mayjen Agus memperkenalkan konsep Tripola Pendidikan yang menjadi ciri khas SMA Taruna Muhammadiyah yakni pengajaran akademik untuk meningkatkan kecerdasan intelektual, pelatihan ketarunaan: untuk membangun ketangguhan fisik dan disiplin serta pengasuhan karakter Islami sebagai landasan kekuatan spiritual dan moral.
"Ketiga unsur ini harus berjalan selaras. Jika salah satu lemah, hasilnya tidak akan maksimal. Kita butuh lulusan yang cerdas otaknya, kuat badannya, dan bersih hatinya," tegasnya.
Dalam lingkungan boarding school dan ketarunaan, Mayjen Agus mengingatkan bahwa keteladanan jauh lebih efektif daripada nasihat lisan.
"Taruna dan taruni adalah peniru ulung. Mereka akan meniru apa yang mereka lihat dari guru dan karyawan setiap hari. Maka, disiplin, etos kerja, dan akhlak guru adalah kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang paling berdampak," ujarnya.
“Guru Harus Jadi Role Model, Bukan Sekadar Pengajar,” tegas Mayjen Agus
Ketua PRM Gunungpring, Ustaz Rohmad, dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi. Ia mengajak seluruh elemen mulai dari guru, karyawan, pamong asrama, hingga orang tua wali untuk bergerak sebagai satu kesatuan tubuh.
"Raker ini adalah sarana memperkuat ikatan batin. Kita tidak bekerja sendiri-sendiri. Keberhasilan SMA Taruna Muhammadiyah adalah keberhasilan bersama umat dan bangsa," kata Ustaz Rohmad. (NA)

