Ramadhan Pelajaran seperti Air Mengalir

Publish

24 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
88
Ilustrasi

Ilustrasi

Ramadhan Pelajaran seperti Air Mengalir

Oleh: Hening Parlan, Pegiat Lingkungan, Pengurus Muhamamdiyah dan “Aisyiyah 

Ramadhan selalu datang dengan cara yang lembut: ia tidak memaksa berubah, tetapi pelan-pelan memperlihatkan siapa diri kita sebenarnya. Di bulan ini, banyak hal yang biasanya tampak menjadi tidak penting. Yang biasanya dipuji menjadi biasa. Yang biasanya disorot menjadi sunyi. Kita menahan lapar tanpa diketahui orang, menahan emosi tanpa tepuk tangan, dan menahan diri tanpa perlu pengakuan. Ramadhan seperti mengembalikan manusia ke ruang paling jujur — ruang antara dirinya dan Allah.

Di ruang itu, aku belajar memahami perjalanan hidup seperti air. Air tidak berdebat dengan batu. Ia tidak merasa gagal ketika tertahan. Ia tidak berhenti hanya karena jalannya tidak lurus. Ia mencari celah, merendah, lalu berjalan lagi. Kadang hilang dari permukaan, tetapi tidak pernah berhenti menuju laut.

Dalam kehidupan, tidak semua kerja baik mudah dipahami. Ada usaha yang disambut hangat, ada pula yang disalahmengerti. Ada pengabdian yang dipuji, ada pula yang dianggap tidak ada. Pada awalnya, manusia mudah terluka oleh itu. Kita ingin merasa berguna, ingin diingat, ingin diyakinkan bahwa yang kita lakukan berarti.

Namun Al-Qur’an berulang kali menggeser ukuran itu. “Betapa banyak nabi yang berperang bersama pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak lemah karena musibah yang menimpa di jalan Allah, tidak lesu dan tidak menyerah. Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)

Ayat ini tidak berbicara tentang kemenangan, melainkan ketahanan. Tidak tentang pengakuan, melainkan kesetiaan. Sabar bukan menunggu keadaan berubah, tetapi tetap berjalan walau keadaan tidak segera membenarkan kita.

Seringkali kita mengira keikhlasan berarti tidak merasakan apa-apa. Padahal tidak demikian. Ikhlas justru hadir setelah rasa kecewa, lelah, dan ingin dihargai dilewati satu per satu. Ia bukan sifat bawaan, melainkan keputusan yang diulang.

Ramadhan melatih itu setiap hari. Kita berpuasa bukan karena orang lain tahu, tetapi karena Allah tahu. Bahkan ketika tidak ada seorang pun yang memeriksa apakah kita benar-benar menahan diri, kita tetap melakukannya. Di situlah iman bekerja: pada wilayah yang tidak terlihat.

Al-Qur’an juga mengingatkan tentang amanah — bahwa setiap kebaikan bukan milik kita. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (An-Nisa: 58)

Ayat ini sering dipahami dalam konteks kekuasaan, padahal ia juga berlaku dalam pengabdian kecil. Ide, kesempatan, jaringan, bahkan kemampuan membantu orang lain bukanlah milik pribadi. Ia titipan. Ketika kita mulai merasa memilikinya, di situlah kekecewaan mudah tumbuh. Kita berharap balasan manusia atas sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita.

Mungkin karena itu sebagian kebaikan terasa ringan ketika dilepas. Bukan karena tidak berarti, tetapi karena kita berhenti menggenggamnya sebagai identitas diri. Ramadhan mengajarkan bahwa amal tidak perlu selalu menjadi cerita tentang diri kita. Ia bisa menjadi cerita tentang manfaat yang terus berjalan bahkan tanpa kehadiran kita. Seperti air yang menghidupi sawah tanpa perlu disebut namanya.

Dalam perjalanan hidup, ada saat kita harus mengikuti aturan, ada saat kita harus mencari jalan lain. Tidak semua pintu terbuka dengan cara yang sama. Namun selama niatnya menjaga manfaat, arah tetap sama. Air tidak melawan tebing, tetapi hampir selalu sampai ke laut.

Kesadaran ini perlahan menenangkan: bahwa tugas manusia bukan memastikan dirinya dikenali, melainkan memastikan kebaikan tetap hidup. Pengakuan mungkin datang atau tidak, tetapi dampak berjalan dengan caranya sendiri.

Ramadhan akhirnya bukan hanya ibadah ritual. Ia latihan perspektif. Ia memindahkan pusat perhatian dari “aku melakukan apa” menjadi “apa yang Allah hidupkan melalui aku”. Dari kepemilikan menjadi amanah. Dari ingin terlihat menjadi ingin bertahan.

Dan ketika bulan ini selesai, yang tersisa bukan sekadar jumlah amal, tetapi cara pandang baru: bekerja tanpa harus gaduh, memberi tanpa harus memiliki, berjalan tanpa harus didahului tepuk tangan.

Dalam kerja-kerja sosial dan keumatan, pelajaran ini terasa sangat nyata. Tidak semua perubahan lahir dari panggung besar. Banyak yang tumbuh dari ruang kecil: dari dapur tempat keputusan diambil dengan doa, dari pertemuan sederhana para ibu, dari tangan-tangan yang memastikan anak tetap sekolah meski dunia tak mencatatnya.

Seringkali perempuan bekerja tanpa sorotan — merawat, menyambung, dan menjaga agar kehidupan tidak putus. Bukan karena tidak mampu tampil, tetapi karena memilih memastikan manfaat tetap berjalan. Di situlah kekuatan gerakan: ketekunan yang tidak bergantung pada tepuk tangan.

Seperti air yang mengaliri banyak ladang tanpa memilih siapa pemiliknya, pengabdian menemukan maknanya ketika melampaui diri sendiri. Kita hanya bagian kecil dari arus panjang kebaikan — dan tugas kita cukup menjaga agar alirannya tidak berhenti.

Seperti air, seorang hamba tidak perlu dikenal semua orang untuk memberi kehidupan. Ia cukup setia pada arah — dan percaya bahwa Allah SWT melihat setiap aliran kecil yang dijaga oleh perempuan-perempuan yang terus bergerak.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Di tengah riuh rendah jagat sosial, nama Khafid Sirotudin muncul bukan hanya sebagai penulis buku, t....

Suara Muhammadiyah

21 September 2025

Humaniora

Sabri Is Our Martyr: Muhammadiyah Bangga Padamu Oleh: Rektor UMAM, Dr. Saidul Amin Menjelang tenga....

Suara Muhammadiyah

16 July 2025

Humaniora

Sang Burung Pipit; Dari Ruh Para Syuhada (1) Oleh: Babay Parid Wazdi, Kader Muhammadiyah & Akt....

Suara Muhammadiyah

26 January 2026

Humaniora

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah -Di balik sorot matahari yang tak kenal ampun, keluarga PT Syarikat C....

Suara Muhammadiyah

11 September 2023

Humaniora

Kekerasan di Pesantren dan Peran Strategis Menteri Agama Oleh: Abd Aziz, Advokat, Legal Consultant,....

Suara Muhammadiyah

26 April 2024