Ramadhan Sebagai Jalan Penyucian Jiwa Menuju Kegembiraan Hakiki

Suara Muhammadiyah

20 February 2026

994
Foto Istimewa

Foto Istimewa

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Bandung Dr Zamah Sari MAg mengatakan bahwa Ramadhan merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk menguji dan merefleksikan kegembiraan sejati dalam beribadah puasa, bukan sekadar kegembiraan lahiriah. Hal itu disampaikannya saat mengisi Kajian Ramadan di kanal YouTube Universitas Muhammadiyah Bandung pada Kamis (19/02/2026).

Zamah menjelaskan bahwa masyarakat Islam di Indonesia memiliki beragam tradisi lokal dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Tradisi tersebut menjadi ekspresi kegembiraan kolektif umat yang tumbuh dari budaya, kebersamaan, dan nilai sosial yang mengakar kuat di tengah masyarakat.

Menurutnya, berbagai daerah memiliki cara khas dalam mengekspresikan suka cita Ramadhan, mulai dari pawai obor, makan bersama, mandi ritual, hingga kegiatan sosial. “Tradisi ini menandakan bahwa Ramadhan selalu hadir sebagai bulan yang dinanti dan disambut dengan sukacita,” ujarnya.

Dia mencontohkan tradisi Cucurak di tanah Sunda sebagai simbol kebersamaan dan saling memaafkan, Megibung di Bali yang menegaskan nilai kesetaraan, Marpangir di Sumatera Utara dan Balimau di Sumatera Barat sebagai ritual pembersihan diri, serta Padusan di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai persiapan spiritual menjelang Ramadhan.

Namun demikian, Zamah menegaskan bahwa kegembiraan Ramadhan tidak boleh hanya bertumpu pada hawa nafsu dan kesenangan jasmani. “Kalau kegembiraan itu hanya soal perut dan suasana ramai, maka makna puasa justru hilang, karena puasa mengajarkan kita menahan lapar dan haus,” tegasnya.

Dia juga mengingatkan bahwa kegembiraan yang hanya didasarkan pada akal dan nalar memiliki keterbatasan. Akal dapat memahami manfaat puasa secara fisik, tetapi pada saat yang sama akal kerap menegosiasikan ketentuan syariat sesuai dengan kepentingan pribadi.

Zamah menekankan bahwa yang benar-benar diuji dalam ibadah puasa adalah hati nurani dan iman di dada. “Yang dipanggil Allah dalam puasa itu bukan perut dan bukan akal, tetapi hati kita,” katanya. Oleh karena itu, Ramadhan harus menjadi ruang introspeksi atas perjalanan hidup selama sebelas bulan sebelumnya.

Menurutnya, Ramadhan adalah momentum tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa, sekaligus peneguhan kalimah tauhid agar manusia tidak menuhankan selain Allah, baik harta, jabatan, keluarga, maupun hawa nafsu. Dalam konteks sosial, dia juga menekankan pentingnya zakat fitrah sebagai sarana membersihkan harta dan menumbuhkan kepedulian.

Zamah mengatakan bahwa kegembiraan sejati Ramadhan lahir dari hati yang bersih dan merdeka dalam iman. “Kegembiraan yang hakiki itu ketika hati kita mampu mengatakan tidak pada dosa dan kompromi,” pungkasnya, seraya menegaskan bahwa tradisi Ramadhan boleh dirayakan, tetapi kesungguhan hati tetap menjadi kunci utama kualitas ibadah puasa.***(FA)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Hadirkan Peserta dari Berbagai Instansi BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Halal Center Universita....

Suara Muhammadiyah

9 April 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Tim pengabdian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bersama Ta....

Suara Muhammadiyah

15 March 2025

Berita

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah - Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PB....

Suara Muhammadiyah

13 February 2026

Berita

PALANGKARAYA, Suara Muhammadiyah - Ketua LAZISMU Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Budianor, me....

Suara Muhammadiyah

19 June 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Jakarta Utara menyelenggara....

Suara Muhammadiyah

27 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah