Ranting Itu Penting, Juara Harus Jadi Inspirasi

Suara Muhammadiyah

11 August 2026

134
Istimewa

Istimewa

JEPARA, Suara Muhammadiyah - Ahad, 9 Agustus 2026, menjadi puncak rangkaian Awarding Cabang, Ranting, dan Masjid Unggulan Muhammadiyah Jawa Tengah 2026. Tidak sekadar menjadi seremoni pemberian penghargaan, kegiatan yang berlangsung di Gedung Dakwah Umar Hasyim, Blimbingrejo, Nalumsari, Jepara, tersebut menjadi momentum untuk meneguhkan kembali pentingnya cabang, ranting, dan masjid sebagai denyut utama gerakan Muhammadiyah di tengah masyarakat.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan Pengajian Akbar yang sekaligus menjadi Pengajian Rutin Triwulan Hari Bermuhammadiyah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jepara putaran ke-10.

Hadir dalam kegiatan tersebut Dr. H. Agus Taufikurrahman, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pembinaan Kesehatan Umum, Kesejahteraan Sosial, dan Resiliensi Bencana. Hadir pula Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Tafsir, Ketua Umum PDM Jepara Fachrurrozi, serta jajaran pimpinan Muhammadiyah dan peserta CRM dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Ketua Umum PDM Jepara, Fachrurrozi, dalam sambutannya mengapresiasi suasana kegiatan yang berlangsung penuh semangat, antusiasme, dan kegembiraan.

Menurutnya, suasana tersebut merupakan cerminan Muhammadiyah sebagai gerakan yang mampu menghadirkan kebahagiaan bagi umat. Ia menegaskan bahwa kegembiraan dalam berorganisasi bukan sekadar suasana, tetapi menjadi energi penting untuk terus bergerak dan memberikan manfaat.

Salah satu pesan utama yang disampaikannya adalah “Ranting Itu Penting.”. Menurutnya,, ranting merupakan basis utama gerakan Muhammadiyah karena berada langsung di tengah masyarakat. Dari rantinglah aktivitas dakwah, pendidikan, sosial, pelayanan umat, hingga berbagai gerakan kemasyarakatan dapat tumbuh dan berkembang.

“Ranting itu penting karena di situlah denyut kehidupan Muhammadiyah di tengah masyarakat,” tegasnya.

Fachrurrozi juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada PWM Jawa Tengah atas pembinaan terhadap cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah. Ia menilai kegiatan CRM memiliki manfaat lebih luas karena tidak hanya menjadi ajang penilaian, tetapi juga mempertemukan dan memperkenalkan berbagai potensi daerah.

Salah satunya adalah Blimbingrejo dan Pondok Pesantren Modern Asyifa Muhammadiyah yang dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengalaman dan pembelajaran bagi warga Muhammadiyah dari berbagai daerah.

Lebih jauh, Fachrurrozi menegaskan bahwa esensi Awarding CRM bukan semata-mata tentang siapa yang menjadi juara. Hal yang jauh lebih penting adalah tumbuhnya semangat guyub, rukun, dan bekerja bersama untuk membangun Muhammadiyah.

Ia berharap penguatan cabang, ranting, dan masjid terus dilakukan sehingga Muhammadiyah semakin maju serta mampu memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.

Di akhir sambutannya, ia berharap Muhammadiyah Jawa Tengah dapat menjadi pelopor dan role model bagi Muhammadiyah di daerah lain di Indonesia.

“Mari membangun Muhammadiyah dengan kegembiraan, kebersamaan, dan semangat guyub-rukun. Perkuat cabang, ranting, dan masjid karena di situlah denyut kehidupan Muhammadiyah di tengah masyarakat.”

Sementara itu, Ketua PWM Jawa Tengah, Tafsir, memberikan arahan sekaligus menutup rangkaian CRM Unggulan Muhammadiyah Jawa Tengah 2026.

Tafsir memberikan apresiasi kepada PRM Blimbingrejo dan PCM Nalumsari atas prestasi yang telah diraih. Secara khusus, ia mengapresiasi Blimbingrejo yang mendapatkan kesempatan menjadi tuan rumah karena sebelumnya telah meraih prestasi sebagai ranting berprestasi tingkat nasional. Namun, menurutnya, menjadi juara bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Juara adalah amanah.

Penghargaan yang diterima harus diikuti dengan tanggung jawab untuk berbagi pengalaman, memberikan pelayanan, menjadi tuan rumah yang baik, serta menghadirkan manfaat bagi warga Muhammadiyah lainnya.

Ia menegaskan bahwa setiap amanah persyarikatan, termasuk menjadi tuan rumah kegiatan besar, harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab sebagai bagian dari perjuangan Muhammadiyah.

Dalam arahannya, Tafsir juga menyoroti pentingnya pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), cabang, dan ranting yang kreatif, realistis, inovatif, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, AUM unggulan tidak harus selalu berbentuk perguruan tinggi atau rumah sakit yang membutuhkan biaya besar. Muhammadiyah dapat mengembangkan amal usaha berdasarkan potensi lokal dan kebutuhan nyata masyarakat.

“Jangan terpaku hanya pada bentuk-bentuk AUM yang membutuhkan biaya besar. Manfaatkan potensi lokal, kekuatan jaringan, dan kebutuhan masyarakat sebagai dasar pengembangan gerakan,” menjadi salah satu pesan penting dalam arahannya.

Bapak Tafsir juga menegaskan bahwa kekuatan Muhammadiyah terletak pada kebersamaan dan jaringan persyarikatan. Karena itu, AUM, cabang, ranting, dan seluruh unsur organisasi harus mampu saling membantu, menopang, dan memperkuat.

Muhammadiyah, lanjutnya, juga harus mampu beradaptasi dengan kultur masyarakat secara kreatif tanpa kehilangan prinsip sebagai gerakan reformisme dan modernisme.

Karena itu, Muhammadiyah perlu berani mencari bentuk-bentuk gerakan baru yang relevan dengan perkembangan zaman, memanfaatkan potensi lokal, memperkuat sinergi, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pesan penguatan gerakan kemudian semakin diperdalam dalam pengajian yang disampaikan Dr Agus Taufiqurrahman.

Agus mengingatkan bahwa menghadiri majelis ilmu merupakan bagian dari ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah sekaligus jalan menuju kebaikan.

Menurutnya, pengajian tidak boleh hanya dimaknai sebagai kehadiran dalam sebuah acara. Pengajian harus menjadi ruang untuk “sinau Islam sing bener”, belajar Islam dengan benar berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Ilmu yang diperoleh dari pengajian, kata dia, harus mampu meningkatkan pemahaman agama, memperkuat keimanan, dan selanjutnya diwujudkan dalam amal nyata kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, semakin sering seseorang mengikuti majelis ilmu seharusnya semakin bertambah pula pemahaman keislaman, kualitas iman, dan amal kebaikannya.

Agus kemudian menghubungkan pentingnya ilmu dan amal dengan penguatan cabang dan ranting Muhammadiyah, khususnya Ranting Muhammadiyah Blimbingrejo yang telah meraih prestasi.

Menurutnya, prestasi tidak seharusnya berhenti pada penghargaan. Prestasi harus menjadi keteladanan dan inspirasi bagi ranting-ranting lainnya.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa ranting yang belum menjadi juara bukan berarti ranting tersebut tidak baik. Setiap ranting memiliki potensi, perjuangan, kondisi, dan amal masing-masing.

Karena itu, CRM hendaknya tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga menjadi sarana evaluasi, berbagi pengalaman, mengambil inspirasi, dan melakukan perbaikan bersama.

Pada akhirnya, kekuatan ranting tidak hanya ditentukan oleh penghargaan yang diperoleh, tetapi oleh kualitas manusia yang menggerakkannya.

Ranting yang hidup harus dibangun oleh orang-orang yang berilmu, memahami Al-Qur’an dan Sunnah, serta mampu menerjemahkan ilmu tersebut menjadi amal dan kemanfaatan bagi masyarakat.

Puncak CRM Muhammadiyah Jawa Tengah 2026 di Jepara akhirnya bukan sekadar tentang piala, penghargaan, atau siapa yang menjadi juara.

Ada pesan yang jauh lebih besar yang mengemuka: Muhammadiyah harus terus menghidupkan cabang, ranting, dan masjid sebagai pusat gerakan yang dekat dengan masyarakat.

Fachrurrozi mengingatkan bahwa ranting itu penting. Tafsir menegaskan bahwa juara adalah amanah dan pengembangan AUM harus berani kreatif, realistis, serta inovatif. Sementara Agus mengingatkan bahwa gerakan Muhammadiyah harus dibangun dengan ilmu yang benar, iman, dan amal nyata.

Ketiga pesan tersebut bermuara pada satu semangat: Muhammadiyah harus terus bergerak, beradaptasi, bersinergi, dan memberikan manfaat.

Sebab, ukuran keberhasilan Muhammadiyah pada akhirnya bukan hanya seberapa banyak penghargaan yang diraih, tetapi seberapa hidup gerakannya, seberapa kuat kebersamaannya, dan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.

Dari Blimbingrejo, pesan itu kembali diteguhkan: ranting harus hidup, cabang harus kuat, masjid harus makmur, AUM harus inovatif, dan seluruh gerakan harus dibangun dengan ilmu, kegembiraan, kebersamaan, serta semangat berkemajuan. (Dina)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Riau (Umri), Rabu (13/9/2023) menggelar sil....

Suara Muhammadiyah

14 September 2023

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Pemerintah Kabupaten (Pemkab.) Solok menyambangi Universitas Muhamma....

Suara Muhammadiyah

24 January 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Hidup sederhana tak pernah menghentikan langkah Mohamad Arief ....

Suara Muhammadiyah

22 September 2025

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah– Dalam suasana hangat Jambore Pelajar dan Lingkungan Eco Bhinnek....

Suara Muhammadiyah

26 August 2025

Berita

PONOROGO, Suara Muhammadiyah – Prestasi gemilang kembali diukir oleh Pondok Pesantren Tahfidzu....

Suara Muhammadiyah

2 December 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah