Refleksi Haji dan Hijrah: Spirit Al-Ma'un untuk Pendidikan Tinggi Berkemajuan
Penulis: Prof. Dr. Siska Desy Fatmaryanti, M.Si. Guru Besar UM Purworejo, Anggota Majelis Pauddasmen PDA Purworejo
Di hamparan Padang Arafah, jutaan manusia berkumpul tanpa sekat status sosial, kebangsaan, maupun jabatan. Di tempat yang disebut Rasulullah SAW sebagai inti ibadah haji itu, setiap orang berdiri sebagai hamba yang sama di hadapan Allah SWT. Tidak ada profesor, rektor, menteri, atau pengusaha. Yang ada hanyalah manusia yang sedang menghitung kembali perjalanan hidupnya dan memohon ampunan atas segala kekurangannya.
Bagi seorang akademisi, haji bukan sekadar perjalanan spiritual individual. Haji juga menghadirkan ruang kontemplasi untuk memaknai kembali tugas keilmuan, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. Terlebih ketika pelaksanaan ibadah haji berlanjut dengan datangnya 1 Muharam, momentum yang mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah.
Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat. Hijrah adalah transformasi peradaban. Di Madinah, Rasulullah SAW tidak hanya membangun masjid sebagai pusat ibadah, tetapi juga membangun sistem pendidikan, persaudaraan sosial, tata kelola ekonomi, dan pemerintahan yang berkeadaban. Hijrah menghasilkan perubahan yang nyata dan berdampak bagi masyarakat.
Karena itulah Allah SWT berfirman:
"Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah: 105)
Ayat ini menegaskan bahwa Islam tidak berhenti pada niat dan simbol. Islam menuntut amal, karya, dan kebermanfaatan. Ukuran kemuliaan bukanlah apa yang kita miliki, tetapi apa yang kita kerjakan untuk kemaslahatan umat.
Nilai inilah yang terasa begitu kuat selama pelaksanaan ibadah haji. Seorang haji yang mabrur bukanlah orang yang sekadar menyelesaikan seluruh rukun dan wajib haji, tetapi yang mengalami transformasi akhlak dan pengabdian setelah kembali ke tengah masyarakat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga." (HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa salah satu tanda haji mabrur adalah meningkatnya kualitas ibadah, akhlak, dan manfaat sosial seseorang setelah pulang dari Tanah Suci.
Refleksi tersebut menjadi sangat relevan dengan arah pembangunan pendidikan tinggi Indonesia saat ini. Melalui Keputusan Menteri Nomor 358/M/KEP/2026, pemerintah menetapkan 12 Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi yang menekankan keterhubungan kampus dengan dunia usaha, dunia industri, dunia kerja, serta kebutuhan masyarakat. Kampus sedang menghadapi tuntutan besar untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menghasilkan ijazah, melainkan harus melahirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa.
Sesungguhnya, orientasi kebermanfaatan bukanlah konsep baru dalam Islam. Muhammadiyah sejak awal berdirinya telah menjadikan kemajuan umat dan kemaslahatan masyarakat sebagai orientasi gerakan. Dalam Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) ditegaskan bahwa Muhammadiyah bekerja untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya tentu tidak dapat dibangun hanya melalui ceramah dan retorika. Ia memerlukan pendidikan yang berkualitas, ilmu pengetahuan yang berkembang, serta inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat. Karena itulah KH Ahmad Dahlan menjadikan pendidikan sebagai salah satu instrumen utama dakwah tajdid Muhammadiyah.
Menarik untuk dicermati bahwa surat Al-Ma'un yang menjadi inspirasi gerakan Muhammadiyah sesungguhnya mengajarkan paradigma dampak. Dalam surat tersebut, Allah SWT tidak mengkritik orang yang tidak beribadah, melainkan orang yang mengabaikan anak yatim dan tidak peduli terhadap kaum miskin. Artinya, kualitas keberagamaan seseorang diukur melalui dampak sosial yang dihasilkan oleh keimanannya.
Paradigma Al-Ma'un ini sangat relevan bagi perguruan tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA). Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Penelitian tidak boleh berhenti menjadi laporan yang tersimpan di rak perpustakaan. Inovasi tidak boleh berhenti pada seminar dan publikasi. Semua harus bermuara pada kemanfaatan bagi umat dan bangsa.
Sebagai dosen yang menekuni pengembangan pembelajaran berbasis Technology, Pedagogy and Content Knowledge (TPACK), saya menyaksikan bagaimana perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial, dan transformasi digital telah mengubah lanskap pendidikan secara drastis. Informasi kini tersedia dalam genggaman. Namun, teknologi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Artificial Intelligence dapat menghasilkan jawaban dalam hitungan detik, tetapi tidak dapat menggantikan nilai-nilai keikhlasan, empati, integritas, dan tanggung jawab sosial.
Di sinilah perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki peran strategis. Kampus harus mampu melahirkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus memiliki kesadaran profetik. Generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
Momentum 1 Muharam seharusnya menjadi ajakan bagi seluruh insan akademik untuk melakukan hijrah intelektual. Hijrah dari budaya administratif menuju budaya inovasi. Hijrah dari orientasi angka menuju orientasi kebermanfaatan. Hijrah dari sekadar mengejar reputasi menuju membangun peradaban.
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)
Hadis ini dapat menjadi kompas moral bagi dunia pendidikan tinggi. Kampus yang unggul bukan hanya kampus yang memiliki gedung megah, laboratorium modern, atau peringkat internasional yang tinggi. Kampus yang unggul adalah kampus yang kehadirannya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Di Tanah Suci, jutaan jamaah haji bergerak menuju tujuan yang sama: mencari ridha Allah SWT. Di dunia pendidikan, kita pun memiliki tujuan yang sama: menghadirkan ilmu yang mencerahkan dan memajukan kehidupan.
Semoga haji mengajarkan kita tentang ketulusan pengabdian. Semoga Muharam mengingatkan kita tentang pentingnya transformasi. Dan semoga perguruan tinggi Muhammadiyah terus menjadi pelopor lahirnya ilmu yang berkemajuan, sebagaimana cita-cita besar Persyarikatan: menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.
Karena pada akhirnya, baik dalam perjalanan haji maupun perjalanan akademik, yang akan dikenang bukanlah gelar yang disandang, melainkan manfaat yang ditinggalkan.

