Refleksi Milad ke-95 Nasyiatul ‘Aisyiyah: Srikandi Penjaga Peradaban

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
460

Refleksi Milad ke-95 Nasyiatul ‘Aisyiyah: Srikandi Penjaga Peradaban

Oleh: Abd Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute, Wakil Ketua LHKP PP Muhammadiyah

Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, ketika teknologi berkembang melampaui imajinasi manusia, ketika arus informasi mengalir tanpa batas, dan ketika nilai-nilai kemanusiaan sering kali tergerus oleh pragmatisme, bangsa ini membutuhkan sosok-sosok penjaga peradaban. Penjaga yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral, matang secara spiritual, dan peduli terhadap nasib sesama. Dalam konteks itulah, tema Milad ke-95 Nasyiatul ’Aisyiyah, “Srikandi Penjaga Peradaban”, menemukan relevansinya yang sangat mendalam.

Selama hampir satu abad perjalanan sejarahnya, Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) bukan sekadar organisasi perempuan muda. Ia adalah ruang kaderisasi, sekolah kepemimpinan, sekaligus taman peradaban yang melahirkan perempuan-perempuan tangguh dengan visi keislaman dan kebangsaan yang kuat. Dari rahim organisasi ini lahir perempuan-perempuan yang tidak hanya aktif di ruang domestik, tetapi juga hadir di ruang publik sebagai pendidik, aktivis sosial, akademisi, birokrat, pegiat kemanusiaan, hingga penggerak transformasi masyarakat.

Istilah “Srikandi” dalam tema milad ini bukan sekadar simbol heroisme perempuan. Dalam khazanah budaya Nusantara, Srikandi melambangkan keberanian, keteguhan, kecerdasan, dan kemampuan menjaga nilai-nilai luhur di tengah perubahan zaman. Ketika disandingkan dengan frasa “penjaga peradaban”, maknanya menjadi semakin luas, bukan hanya pelengkap sejarah, melainkan penentu arah sejarah itu sendiri.

Peradaban tidak dibangun hanya dengan gedung-gedung megah atau kemajuan teknologi. Peradaban dibangun oleh manusia-manusia yang memiliki integritas. Sejarah menunjukkan bahwa runtuhnya sebuah bangsa sering kali bukan karena kemiskinan sumber daya alam, melainkan karena krisis moral dan hilangnya keteladanan. Karena itu, tugas menjaga peradaban sejatinya adalah tugas menjaga nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, ilmu pengetahuan, dan akhlak.

Di sinilah peran penting perempuan muda Muhammadiyah menjadi sangat strategis. NA memiliki warisan panjang dalam membangun perempuan berkemajuan. Perempuan yang tidak terjebak dalam dikotomi antara religiusitas dan modernitas. Perempuan yang mampu berdiri teguh dalam identitas keislamannya sekaligus adaptif terhadap perkembangan zaman. Mereka tidak anti terhadap perubahan, tetapi juga tidak hanyut oleh perubahan.

Dalam era digital hari ini, tantangan perempuan muda semakin kompleks. Media sosial sering kali menghadirkan standar hidup semu yang menekan mental generasi muda. Budaya instan melahirkan generasi yang mudah lelah, mudah marah, dan kehilangan daya tahan menghadapi persoalan hidup. Di sisi lain, kekerasan terhadap perempuan, eksploitasi digital, intoleransi, hingga degradasi etika publik terus menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa.

Karena itu, menjadi “Srikandi Penjaga Peradaban” berarti hadir sebagai agen pencerahan. NA harus menjadi penjaga literasi, penjaga empati, dan penjaga akhlak sosial di ruang-ruang publik. Mereka harus mampu memanfaatkan teknologi bukan sekadar untuk eksistensi diri, tetapi untuk menyebarkan ilmu, memperkuat solidaritas sosial, dan membangun optimisme kebangsaan.

NA sesungguhnya telah lama menanamkan fondasi itu. Spirit dakwah organisasi ini tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga dakwah sosial yang membela kaum lemah, memperjuangkan pendidikan perempuan, menguatkan kesehatan keluarga, dan memberdayakan ekonomi masyarakat. Dalam banyak situasi kebangsaan, kader-kader NA hadir di garis depan pelayanan kemanusiaan. Mereka bergerak dalam sunyi, bekerja tanpa banyak sorotan, tetapi memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Milad ke-95 ini juga menjadi momentum penting untuk merefleksikan arah masa depan gerakan perempuan muda Islam. Tantangan abad ke-21 membutuhkan kepemimpinan perempuan yang visioner. Perempuan yang mampu berdialog dengan perubahan global tanpa kehilangan akar nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Perempuan yang mampu membangun kolaborasi lintas generasi dan lintas komunitas demi menghadirkan peradaban yang lebih adil dan berkeadaban.

Lebih dari itu, tema ini mengingatkan bahwa menjaga peradaban dimulai dari hal-hal sederhana: menjaga keluarga dari kekerasan, menjaga ruang digital dari kebencian, menjaga pendidikan dari intoleransi, serta menjaga kehidupan sosial dari sikap individualisme yang berlebihan. Perempuan muda memiliki posisi sentral dalam proses itu, sebab mereka bukan hanya calon pemimpin masa depan, tetapi juga pendidik generasi masa depan.

Pada usia ke-95 tahun, NA telah membuktikan dirinya sebagai organisasi yang terus relevan melintasi zaman. Ia tidak sekadar menjaga tradisi gerakan, tetapi juga terus beradaptasi dengan kebutuhan generasi baru. Semangat tajdid yang diwarisi dari Muhammadiyah membuat organisasi ini tetap hidup, dinamis, dan responsif terhadap tantangan sosial kontemporer.

Akhirul kalam, Milad ke-95 ini bukan hanya perayaan usia organisasi. Ia adalah peneguhan komitmen bahwa perempuan muda harus terus menjadi cahaya peradaban. Sebab bangsa yang besar bukan hanya ditentukan oleh kekuatan ekonominya, tetapi juga oleh kualitas perempuan-perempuan mudanya. Dan selama masih ada Srikandi-Srikandi yang menjaga nurani bangsa, harapan tentang masa depan Indonesia yang berkemajuan akan selalu menyala.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Kitalah Sang Nabi Itu Oleh: Bahrus Surur-Iyunk, Ketua Pimda 225 Tapak Suci Putera Muhammadiyah Sume....

Suara Muhammadiyah

18 September 2025

Wawasan

Filantropi Islam untuk Bumi: Dari Amal Sesaat Menuju Penjaga Kehidupan Oleh: Khilmi Zuhroni, Ketua ....

Suara Muhammadiyah

29 April 2026

Wawasan

Bukber: Antara Silaturahmi dan Simbolisme Sosial Soleh Amini Yahman. Psikolog, Dosen UMS, Redaktur ....

Suara Muhammadiyah

2 March 2026

Wawasan

Rukun Islam Ibarat Sebuah Bangunan Rumah Oleh Bahrus Surur-Iyunk, Penulis Buku Cendekiawan Melintas....

Suara Muhammadiyah

5 August 2025

Wawasan

Membaca Realitas: Posisi Pemuda sebagai Pelopor Perubahan Oleh: Agusliadi Massere Dalam catatan se....

Suara Muhammadiyah

25 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah