YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Saad Ibrahim, menegaskan bahwa kebanggaan terhadap Muhammadiyah harus berakar kuat pada nilai keimanan dan dijalankan dalam kerangka amanah, bukan sebagai sarana membangun eksistensi personal.
Penegasan tersebut disampaikan dalam tausiyah pada kegiatan Halal Bi Halal dan Konsolidasi Program Majelis Tabligh PP Muhammadiyah yang berlangsung di Aula Buya Yunahar Ilyas, Pusdiklat Tabligh Institute Muhammadiyah (11/4).
Saad mengajak agar menjadikan momentum pasca-Ramadhan sebagai ruang muhasabah kolektif. Menurutnya, indikator keberhasilan seorang Muslim bukan sekadar panjangnya usia, tetapi sejauh mana usia tersebut diisi dengan amal saleh yang berkelanjutan dan berdampak.
Dalam perspektif yang lebih luas, Saad menyoroti pentingnya membangun kebanggaan kolektif (collective pride) terhadap Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan. Namun, ia menegaskan bahwa kebanggaan tersebut tidak boleh berdiri secara otonom sebagai fanatisme kelembagaan.
"Kebanggaan harus senantiasa dikaitkan dengan iman, sehingga menjadi energi spiritual yang menggerakkan dakwah, bukan sekadar identitas simbolik", ujarnya.
Saad juga mengingatkan bahwa eksistensi sebuah entitas besar, termasuk Muhammadiyah, tidak dapat dilepaskan dari kemampuannya menjaga kesinambungan gerakan. Ia menekankan pentingnya perencanaan strategis yang matang, terutama dalam menghadapi fase kepemimpinan yang terbatas.
Oleh karena itu, Majelis Tabligh didorong untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program-program yang telah berjalan, sekaligus merumuskan proyeksi ke depan guna memastikan keberlanjutan dakwah. Dalam konteks ini, konsep legacy menjadi penting, yakni meninggalkan warisan kelembagaan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga bernilai ideologis dan strategis.
Selain aspek internal, Ia juga menaruh perhatian pada pentingnya memperkuat kohesi sosial di tengah umat Islam. KH. Saad Ibrahim menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak boleh berjalan sendiri dalam membangun peradaban umat. Sebaliknya, diperlukan upaya membangun sinergi dengan berbagai elemen umat Islam, khususnya dalam hal-hal yang memiliki kesamaan orientasi.
"Perbedaan yang tidak bersifat prinsipil, hendaknya tidak menjadi penghalang dalam membangun kerja sama. Justru, kemampuan mengelola perbedaan secara dewasa menjadi kunci dalam memperkuat posisi umat di tengah tantangan global," terang Saad.
Ia juga menyinggung tantangan besar yang dihadapi umat Islam di era kontemporer. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi informasi, dan keterbukaan global telah mengubah lanskap dakwah secara signifikan.
"Di era di mana seluruh ideologi dan keyakinan diuji secara terbuka, dakwah tidak lagi cukup disampaikan secara normatif, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan rasional dan kontekstual masyarakat," jelasnya.
Lebih jauh, Saad menekankan pentingnya membangun ketahanan mental dan spiritual dalam menjalankan dakwah. Ia mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi Muhammadiyah tidak ringan, baik dalam bentuk dinamika internal maupun tekanan eksternal.
Namun demikian, kekuatan utama gerakan terletak pada keyakinan terhadap pertolongan Allah SWT. Dengan landasan tersebut, setiap kader diharapkan memiliki sikap sabar, tangguh, dan istiqamah dalam menghadapi berbagai ujian perjuangan.
Dalam konteks praksis, Ia juga menggarisbawahi bahwa keberhasilan Muhammadiyah tidak hanya diukur dari besarnya amal usaha atau capaian institusional, tetapi dari sejauh mana gerakan ini mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Muhammadiyah, menurutnya, harus terus hadir sebagai solusi atas persoalan umat, seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, dan keterbelakangan pendidikan.
"Dengan demikian, dakwah tidak berhenti pada tataran retorika, tetapi terwujud dalam aksi nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat," tandasnya. (Indra)
