Saat Rasa Aman Menipis
Oleh: Nur Amalia, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UHAMKA
Kenaikan harga emas yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir patut dibaca tidak semata sebagai gejala pasar, melainkan sebagai isyarat sosial yang mengandung makna lebih dalam. Dalam sejarah peradaban, emas kerap menjadi simbol perlindungan nilai. Ketika banyak orang kembali melirik emas, hal itu sering kali mencerminkan menurunnya rasa aman dan meningkatnya kebutuhan akan kepastian.
Dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia hari ini, sinyal tersebut terasa dekat dengan realitas sehari-hari. Aktivitas ekonomi tetap berjalan, namun beban hidup dirasakan semakin berat. Daya beli tidak runtuh, tetapi melelahkan. Banyak keluarga menata ulang prioritas, mengencangkan ikat pinggang, dan memilih sikap lebih berhati-hati. Fenomena ini bukanlah kepanikan massal, melainkan kewaspadaan sosial yang tumbuh dari pengalaman konkret.
Secara global, emas dikenal sebagai safe haven asset, yaitu aset yang cenderung menguat di tengah ketidakpastian. Ketegangan geopolitik, inflasi yang fluktuatif, serta arah kebijakan ekonomi dunia yang belum sepenuhnya stabil mendorong masyarakat global mencari pegangan yang lebih aman. Dampak dari situasi ini turut dirasakan di dalam negeri, berkelindan dengan dinamika ekonomi nasional dan kondisi psikologis masyarakat.
Namun demikian, penting untuk ditegaskan bahwa kenaikan harga emas tidak serta-merta menandakan kehancuran ekonomi. Ia lebih tepat dibaca sebagai indikator meningkatnya kehati-hatian publik. Negara masih berjalan, institusi masih berfungsi, dan masyarakat tetap berikhtiar menjalani kehidupan. Yang sedang diuji bukan hanya kekuatan ekonomi, tetapi juga ketahanan sosial dan kedewasaan dalam menyikapi perubahan.
Dalam pandangan Islam, situasi yang menekan tidak seharusnya disambut dengan kepanikan, melainkan dengan sikap tawazun (keseimbangan) dan ta‘aqqul (kejernihan berpikir). Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak larut dalam ketakutan berlebihan, sekaligus tidak lalai dalam menghadapi kenyataan. Kewaspadaan yang sehat selalu disertai ketenangan dan kepercayaan kepada Allah SWT.
Fase-fase sulit dalam kehidupan sosial sering kali hadir tanpa hiruk-pikuk, tetapi melalui kelelahan yang perlahan. Di sinilah nilai kesederhanaan, kesabaran, dan solidaritas menemukan relevansinya. Banyak orang mulai belajar memilah kebutuhan, membatasi diri dari kebisingan informasi, serta merawat ketenangan batin. Bukan menimbun karena takut, tetapi menata kehidupan karena kesadaran.
Sejarah umat manusia menunjukkan bahwa masa tekanan sering menjadi ruang pendewasaan. Dari situ lahir cara hidup yang lebih bijak, lebih berimbang, dan lebih berorientasi pada kemaslahatan bersama. Selama kejernihan berpikir, etika sosial, dan nilai keimanan tetap dijaga, fase ini bukan akhir dari harapan, melainkan proses menuju tatanan yang lebih matang.
Sikap yang Perlu Dijaga Umat di Tengah Keadaan yang Tidak Ringan
Pertama, menjaga kejernihan akal dan ketenangan hati dalam membaca realitas.
Kedua, menata kehidupan secara proporsional, sederhana, dan bertanggung jawab.
Ketiga, memperkuat ikhtiar yang disertai doa dan tawakal kepada Allah SWT.
Keempat, merawat solidaritas sosial dan empati, agar tekanan zaman tidak memudarkan nilai kemanusiaan.
Afirmasi Penguatan
Aku menghadapi zaman ini dengan iman dan kesadaran.
Aku berikhtiar dengan sungguh-sungguh, tanpa panik dan tanpa putus asa.
Aku percaya, setiap kesulitan mengandung pelajaran dan jalan keluar.
Dengan pertolongan Allah SWT, aku melangkah tenang, menjaga martabat, dan menumbuhkan harapan.

