YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Sebanyak 55 santri MA Dimsa Sragen bersama lima guru pendamping melakukan kunjungan edukatif ke Grha Suara Muhammadiyah, Yogyakarta. Perjalanan tersebut ditempuh dengan memanfaatkan transportasi umum, menempuh puluhan kilometer dari Kabupaten Sragen menuju Kota Yogyakarta sebagai bagian dari pembelajaran luar kelas mengenai jurnalistik dan literasi.
Kunjungan ini bertujuan mengenalkan para santri pada dunia media, khususnya peran pers Islam dalam menyebarluaskan nilai-nilai keislaman dan kemajuan bangsa. Dalam kesempatan tersebut, para santri mendapatkan pemaparan mengenai sejarah panjang Suara Muhammadiyah sebagai media dakwah yang telah hadir lebih dari satu abad.
Kepala MA Dimsa Sragen, Fuad Ibrahim, dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran media dalam mengawal gerakan Islam Berkemajuan. Menurutnya, konsistensi dalam menyebarkan informasi yang mencerahkan menjadi salah satu faktor penting bagi kemajuan umat.
“Dalam mengawal Islam Berkemajuan ini, Suara Muhammadiyah menjadi garda terdepan. Selama lebih dari 100 tahun, Suara Muhammadiyah konsisten mempublikasikan kabar-kabar persyarikatan dan berbagai gagasan tentang kemajuan,” ujarnya.
Pada sesi materi, para santri diajak memahami perkembangan media dari masa ke masa, mulai dari media cetak hingga era digital yang ditandai dengan hadirnya algoritma, kecerdasan buatan, teknologi luar angkasa, dan derasnya arus informasi melalui berbagai platform media sosial. Mereka juga dikenalkan pada posisi Suara Muhammadiyah sebagai salah satu media tertua di Indonesia yang telah menggunakan bahasa Indonesia jauh sebelum momentum bersejarah Sumpah Pemuda tahun 1928.
Ganjar Sri Husodo, Redaktur Majalah Suara Muhammadiyah menekankan pentingnya budaya membaca dan menulis di tengah dominasi media sosial. Menulis, dijelaskan sebagai aktivitas yang dapat dimulai dari hal sederhana seperti membuat buku harian. Kebiasaan tersebut menjadi modal penting untuk membangun budaya positif untuk menghadapi tantangan masa depan.
“Kalau pekerjaan kita hanya scroll media sosial, ke depannya akan sulit bagi kita menjadi generasi emas,” pesannya kepada para santri.
Selain itu, para santri juga diajak untuk tidak bersikap antipati terhadap buku. Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, buku tetap menjadi sumber pengetahuan yang mampu memperkaya wawasan, memperkuat nalar, dan membentuk karakter pembelajar sepanjang hayat.
Setelah berlangsung kurang lebih selama 1 jam, paparan meteri pun diakhiri dengan sesi tanya jawab. Ada tiga penanya yang kemudian mendapat hadiah buku dari tuan rumah. Kunjungan ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat literasi, memperkuat budaya membaca dan menulis, serta menginspirasi para santri untuk berkontribusi melalui karya-karya jurnalistik yang membawa manfaat bagi kehidupan. (diko)

