Sarapan Soto Bu Cip Yogya
Oleh: Khafid Sirotudin
Puluhan deretan kendaraan bermotor roda dua berjejer rapi di tepi Jalan S. Parman 58 Patang puluhan, Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Beberapa mobil terlihat parkir di kanan kiri jalan depan warung soto Bu Cip. Agus –sang juru parkir profesional yang sudah belasan tahun bekerja– mengatur dan membantu menata kendaraan agar rapi dan tidak mengganggu jalan umum. “Maju sikik goyang kanan…mundur kiri…terus…aman (maju sedikit ke kanan, mundur ke kiri, cukup)”, sapanya sambil “mbagekke” (menyapa) kami.
Sejak pagi, silih berganti orang datang dan pergi dengan satu tujuan dan satu menu: Sarapan Soto Bu Cip. Warung soto yang melegenda sejak tahun 1980-an ini sudah menjadi “jujugan” (sasaran/tempat yang sering dikunjungi) warga dan orang tua wali murid Madrasah Muallimin Muhammadiyah untuk sarapan. Cak Nun, Butet dan tokoh-tokoh kesohor Yogyakarta konon sering sarapan di warung ini.
Buka jam 06.00 WIB, waktu tutupnya ketika persediaan habis. “Kalau Sabtu-Ahad biasanya jam 10.00, Senin-Jumat jam 12.00-13.00”, ungkap Ngadiono, putra kedua Bu Cipto Sudarmo.
“Mboten mbika cabang pak (tidak buka cabang pak)”, tanya saya sambil duduk lesehan diatas tikar dan trotoar karena tidak kebagian tempat duduk.
“Mboten pak sak madyo kemawon, sak palilahe Gusti Allah (Tidak pak sudah cukup sesuai rejeki yang diberikan Allah)” jawabnya.
Penamaan Warung Soto Bu Cip lahir secara alamiah. Nama sebenarnya Wagiyem bersuami Paimin. Namun “asmo tuwo” (nama dewasa setelah menikah) berganti Cipto Sudarmo. Sebuah tradisi lama Jawa yang merubah nama setelah menikah. Mirip dengan kebiasaan sebagian muslim Jawa yang pergi menunaikan ibadah haji, pulangnya berganti nama dan bergelar H (Haji) atau Hj (Hajah).
Bapak dan Ibu Cipto Sudarmo berasal dari Wonosari Gunung Kidul. Merantau ke Yogyakarta dan memulai usaha warungan pada tahun 1960-an. Awalnya membuka warung nasi ramesan (aneka lauk pauk). Keduanya telah tiada dan sekarang warung sotonya dikelola oleh dua anak dan menantunya. Sebuah warisan usaha kuliner keluarga yang mampu “nguripi” (menghidupi) turun temurun.
Bersyukur pagi ini saya bisa ngobrol santai dengan Ngadiono (62 tahun) dan juru parkir Agus setelah menuntaskan sarapan semangkok soto, 4 gorengan dan 2 kerupuk. Lebih bersyukur lagi ditraktir cak David Sekretaris LHKP dan ditemani mas Adim punggawa MPI PP Muhammadiyah. Sebagai sesama pegiat literasi, Cak David juga menghadiahi sebuah buku yang baru terbit akhir 2025 lalu “Saatnya Ekonomi Restoratif”.
Ramah dan Gemar Berbagi
Dari ngobrol santai dengan Ngadiono saya bisa mendapatkan informasi faktual “bloko suto” (apa adanya) tentang warung soto Bu Cip. Beberapa usaha kuliner skala UMKM yang bertahan lama dan pernah kami temui, sebagian pemilik biasa melakukan ritual atau laku spiritual tertentu agar dagangannya laris. Mulai dari penamaan warung/rumah makan hingga pemberian rajah. Rajah adalah jimat berupa tulisan atau gambar khusus, seringkali berupa huruf dan angka Arab yang dirangkai, yang diyakini memiliki kekuatan magis untuk pengasihan, perlindungan, keselamatan.
Saya sama sekali tidak melihat rajah di Warung Soto Bu Cip. Ketika saya tanyakan hal tersebut ke Ngadiono: “Apa rahasianya warung ini bisa laris dan bertahan hingga 40 tahun lebih?”. “Mboten wonten (Tidak ada) rahasia”, jawabnya datar. Kemudian dia menjelaskan, “Ibu selalu menjaga kualitas bumbu dan rasa. Ibu menerima masukan, saran dan kritik tentang rasa soto dari setiap konsumen dengan senang hati. Jika ada pelanggan yang ‘tanduk’ (menambah), ibu biasanya menambahi irisan daging ‘luwih kathah’ (lebih banyak) dari biasanya”. Ngadiono juga menyampaikan bahwa semua makanan minuman di warung soto Bu Cip dimasak menggunakan arang sebagai bahan bakar. “Menawi ngagem kompor gas raose benten (Kalau memakai kompor gas rasanya berbeda”, jelasnya.
“Trus nopo malih sik panjenengan ngertosi saking Bu Cip (Lalu apalagi yang anda ketahui dari Bu Cip?)”, tanya saya.
“Ibu niku tiyange supel, apal kalih asmo lan kesenengane tiyang sik dugi mriki (Bu Cip orangnya ramah, hafal dengan nama dan kebiasaan pelanggan yang sering datang ke warung)” jelasnya lebih lanjut. Misalnya, ada pelanggan yang tidak suka diberi kol, ada yang gemar dikasih tauge lebih banyak, dan lain-lain.
Dari sarapan soto Bu Cip pagi ini, saya mendapatkan pelajaran penting tentang bisnis kuliner skala UMKM. Bahwa rasa syukur, jujur, gemar berbagi, ramah, kerelaan menerima masukan atau kritik dari pelanggan, tidak serakah, kesederhanaan dan konsisten menjaga kualitas rasa makanan minuman adalah sebuah value (nilai) utama agar usaha kuliner bisa melegenda. Anda pengin sarapan yang membahagiakan banyak orang ketika bertandang ke Yogyakarta? Warung Soto Bu Cip bisa dicoba.
Yogyakarta, 7 Februari 2026
Khafid Sirotudin, Ketua LP-UMKM PWM Jawa Tengah

