YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Majelis Pengurus Wilayah Pemuda Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Rapat Kerja dan Sarasehan di Gedung AR A UMY pada Selasa (19/5).
Kegiatan ini menghadirkan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Zuly Qodir serta Ketua Majelis Pengurus Wilayah Pemuda ICMI DIY, Bachtiar Dwi Kurniawan.
Dalam pengantarnya, Bachtiar menyoroti melemahnya suara intelektual di tengah dominasi kekuasaan yang semakin menguat. Menurutnya, dunia saat ini tidak lagi dipandu oleh moralitas dan etika, melainkan oleh siapa yang paling kuat.
“Suara-suara second opinion, bahkan dari kampus, dari intelektual dan cendekiawan, seperti angin lalu,” ujarnya.
Bachtiar mengajak peserta untuk menjadi intelektual organik sebagaimana konsep yang diperkenalkan Antonio Gramsci, yaitu cendekiawan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga terlibat langsung dalam mengartikulasikan gagasan demi kepentingan masyarakat.
Ia juga mengkritik kecenderungan sebagian akademisi yang lebih berorientasi pada publikasi jurnal internasional tanpa memiliki kepekaan terhadap persoalan nyata di tengah masyarakat.
Sementara itu, Zuly Qodir menegaskan bahwa gelar akademik dan jumlah publikasi bukan satu-satunya tolok ukur seorang cendekiawan.
Ia mencontohkan Kuntowijoyo dan Sartono Kartodirdjo sebagai intelektual besar Indonesia yang kontribusi pemikirannya diakui luas, meskipun tidak dikenal melalui publikasi jurnal internasional bereputasi.
“Kalau Anda berani mengatakan Kuntowijoyo bukan intelektual, Anda terlalu berani,” tegasnya.
Zuly juga menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “prostitusi akademik”, yakni praktik membayar reviewer demi meraih jabatan guru besar. Menurutnya, praktik tersebut mencederai martabat dunia akademik.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kritik tidak dapat disamakan dengan kebencian. Kritik yang disampaikan berdasarkan data dan fakta lapangan merupakan bagian dari tanggung jawab intelektual.
“Mengkritik itu tidak sama dengan membenci. Kalau saya mengkritik berdasarkan fakta lapangan, itu tidak sama dengan saya sedang membenci pemimpin negara,” ujarnya.
Ia juga menyinggung sejumlah kebijakan pemerintah yang menurutnya perlu ditinjau ulang, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan koperasi desa, yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.
Mengutip pemikiran Edward Said, Zuly mengingatkan bahwa intelektual sejati harus siap berjalan di jalan sunyi, tanpa silau terhadap pujian, jabatan, maupun materi.
“Berada di jalan sunyi, memberikan perhatian kepada kegelisahan yang ada di hati rakyat. Itulah tugas seorang cendekiawan,” pungkasnya.
Sarasehan ditutup dengan rapat komisi untuk merumuskan program kerja Pemuda ICMI DIY ke depan. Kegiatan ini diikuti kader muda ICMI dari berbagai perguruan tinggi di DIY.

