Sebuah Pesan untuk Bu Ida
Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasihat PRM Troketon, Pedan, Klaten
"Bahwa dalam rumah tangga ibarat kita menaiki tangga satu demi satu ke tangga yang lebih tinggi dan ujungnya nanti ketika menghadap Sang Khalik."
Suatu hari penulis (Gus Zul) duduk di dapur rumah sambil menunggu azan zuhur, sekalian persiapan untuk berangkat kerja sambil menikmati secangkir kopi dan snack. Tiba-tiba di luar ada suara kendaraan berhenti di depan rumah penulis.
Setelah penulis menengok di depan rumah, ternyata ada seorang ibu muda. Bagi penulis, melihat seorang ibu muda tersebut masih asing karena belum pernah ketemu.
Seorang ibu muda, sebut saja Bu Ida.
Bu Ida: Setelah memarkirkan sepeda motornya, lantas menuju teras rumah penulis (Gus Zul).
Bu Ida: Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bapak! Apakah ini benar rumahnya Bapak Rumini, ya?
Gus Zul: Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Nggih, betul, Bu. Gus Zul melihat Bu Ida agak bengong, mungkin kaget. Kok antara nama dan orang berbeda begitu. Namanya perempuan, tetapi kok laki-laki.
Gus Zul: Monggo, silakan duduk, Bu. Maaf, ini dengan Ibu siapa dan dari mana, ya?
Bu Ida: Oh, begini, Pak. Kenalkan, nama saya Bu Ida. Saya asli Jambi, Pak, dan orang tua saya juga dari Kampung Kedung Kelang sini, Pak. Nama bapak saya Pak Sardi, Pak!
Gus Zul: Oh, nggih, Bu.
Bu Ida: Begini, Pak, kedatangan saya ke sini yang pertama silaturahmi, yang kedua saya diminta Pak Wagiya, kalau saya sudah sampai di Kampung Kedung Kelang supaya menemui panjenengan, Pak. Karena Pak Wagiya bilang kalau Pak Wagiya semasa tinggal di Kampung Kedung Kelang banyak bertukar pikiran dengan Bapak dalam hal urusan baik agama, budaya, maupun yang lainnya.
Gus Zul: Oh, nggih, leres, Bu. Kala itu Pak Wagiya tinggal di sini kurang lebih dua tahunan, Bu, sebelum kembali ke Trenggalek, Bu. Dan Pak Wagiya itu orangnya baik dan beliau itu tertib administrasi, Bu. Karena pada waktu Pak Wagiya tinggal di sini, saya menjabat Ketua RT.
Di Talak dan Menalak
Setelah ngobrol agak lama, Bu Ida lantas mengatakan sesuatu yang sangat privasi dalam urusan rumah tangganya.
Bu Ida: Sebelumnya mohon maaf, ya. Ini saya mau menceritakan tentang kondisi rumah tangga saya. Begini, Pak, saya itu tiba-tiba ditalak oleh suami saya, Pak, dan langsung beliau memberikan talak tiga untuk saya!
Gus Zul: Saya turut prihatin dan ikut mendoakan semoga ujian yang menimpa jenengan ada titik penyelesaiannya, ya, Bu.
Bu Ida: Terima kasih, Pak. Yang membuat saya penasaran itu begini, kok tiba-tiba suami saya menalak saya, Pak?
Gus Zul: Apa Bu Ida melakukan kesalahan yang fatal dalam hal ini, menjaga marwah seorang istri dan keluarga, Bu?
Bu Ida: Saya tidak melakukan kesalahan atau berbuat salah, Pak, dan saya serahkan sama Allah di kala di penghujung malam. Saya mohon dan munajat pada Allah, Pak, agar diberi yang terbaik, Pak. Alhamdulillah, dengan menunaikan salat tahajud dan sinar terang dalam hidup ini, dan saya sudah mantap untuk menerima keadaan ini, dalam hal ini yaitu ditalak suami saya, dan saya sudah mengurusnya lewat pengacara saya, Pak.
Gus Zul: Baik, semoga semuanya dimudahkan, Bu!
Bu Ida: Begini, Pak. Akhir-akhir ini saudara dekat (anaknya bibi saya), saudara saya itu bilang pada saya. Kalau saudara saya itu (Sandy) ada rasa pada saya dan si Sandy itu merasa nyaman dengan saya. Dan saya kemarin juga minta konsultasi sama tokoh agama di sana, itu mengatakan boleh menikah dengan si Sandy, Pak. Kalau menurut Bapak gimana, Pak?
Gus Zul: Kalau secara agama yang saya ketahui, tidak apa-apa, boleh. Tapi dalam kultur budaya dalam kehidupan di Jawa itu agak mengalami perubahan hubungan keluarga, Bu. Istilah bebasan, basa begini, Bu, "Jadi wolak-walik alias bubrah." Yaitu saat ini jenengan di posisi saudara tua, nanti kalau sudah menikah, bahasanya dengan suamimu yang masih saudara akan berubah, Bu! Maka saran saya, jenengan berpikir secara jernih dan minta petunjuk, Bu, seperti dalam Surah Al-An'am ayat 124. Mohon agar hajat jenengan dikabulkan dan diberi yang terbaik seperti di bawah ini.
وَاِذَا جَآءَتۡهُمۡ اٰيَةٌ قَالُوۡا لَنۡ نُّـؤۡمِنَ حَتّٰى نُؤۡتٰى مِثۡلَ مَاۤ اُوۡتِىَ رُسُلُ اللّٰهِؔۘؕ اَللّٰهُ اَعۡلَمُ حَيۡثُ يَجۡعَلُ رِسٰلَـتَهٗ ؕ سَيُصِيۡبُ الَّذِيۡنَ اَجۡرَمُوۡا صَغَارٌ عِنۡدَ اللّٰهِ وَعَذَابٌ شَدِيۡدٌۢ بِمَا كَانُوۡا يَمۡكُرُوۡنَ
Wa izaa jaaa'athum Aayatun qooluu lan nu'mina hatta nu'taa misla maaa uutiya Rusulul laah; Allahu a'almu haisu yaj'alu Risaalatah; sa yusiibul laziina ajramuu saghaarun 'indal laahi wa 'azaabun shadiidum bimaa kaanuu yamkuruun.
"Dan apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata, 'Kami tidak akan percaya (beriman) sebelum diberikan kepada kami seperti apa yang diberikan kepada rasul-rasul Allah.' Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan azab yang keras karena tipu daya yang mereka lakukan."
Bu Ida: Dan si Sandy juga sudah menceraikan istrinya, Pak!
Gus Zul: Sepengetahuan saya, si Sandy itu aparat. Itu prosesnya panjang dan harus ada persetujuan di kesatuannya, Bu!
Bu Ida: Betul, Pak.
Gus Zul: Ya, semoga pilihan jenengan itu sesuai apa yang diharapkan Allah, bukan nafsu dan ego semata, Bu.
Sebuah Pesan
Gus Zul: Mendengar cerita Ibu tadi, bolehkah saya memberikan saran atau pesan untuk Bu Ida?
Bu Ida: Boleh, Pak!
Gus Zul: Saran saya, coba ayat yang saya sampaikan dibaca dan dipahami serta minta kepada Allah di tengah kalimat Rasulullahi ... ... Allahu a'lamu itu jenengan minta sebanyak-banyaknya segala hajatnya agar dikabulkan oleh Allah. Yang kedua adalah, tolong jika Bu Ida mau menikah, selesaikan urusan dengan mantan suami Ibu, dan tidak kalah pentingnya adalah selesaikan masa idahnya. Dan tolong membangun komunikasi yang baik dengan keluarga Anda (anak-anak) dan keluarga kerabat terdekat.
Bu Ida: Ya, Pak. Saya setelah melakukan salat istikharah dan salat tahajud sudah ada gambaran yang terang (jelas, Pak). Aamiin, Pak. Terima kasih, Pak, sudah memberikan pencerahannya.
Gus Zul: Ya, sama-sama, Bu.
Bu Ida: Pak, jenengan itu MU, ya, Pak?
Gus Zul: Iya, Bu. Kenapa, Bu? Karena Gus memakai kaos Jambore Jatam Pertama.
Bu Ida: Tidak apa-apa, Pak. Cara Bapak menyampaikan hal-hal itu dan Bapak saya juga Muhammadiyah, Pak. Saya dulu sering ikut kajian Muhammadiyah, diajak Bapak saya, Pak. Tapi setelah bersuami, saya ikut suami saya, Pak, NU.
Gus Zul: Tidak apa-apa, Bu. Tujuannya sama, hanya jalan yang berbeda, Bu. Yang penting tetap menjaga ukhuwah, Bu.
Gus Zul: Sebelumnya mohon maaf, ya, Bu. Sehubungan ini saya berangkat kerja, nanti bisa disambung lain hari, ya, Bu.
Bu Ida: Oh, ya, Pak. Mohon maaf, kenapa tidak bilang dari tadi, Pak?
Gus Zul: Ya sudah, mari kita memohon pada Allah agar kita semuanya, lebih-lebih Bu Ida, diberi kemampuan, kemudahan, dan dilindungi Allah dalam segala hal. Serta diberi keberkahan dunia akhirat. Al-Fatihah.
Setelah selesai berdoa dan tamu pulang, penulis lantas persiapan kerja dan dalam perasaan Allah memberikan ilmu yang berharga lewat Bu Ida. Karena setiap tempat itu adalah madrasah, setiap peristiwa itu adalah guru, dan guru sejatinya adalah dirimu sendiri.

