Sejarah Kejahatan Amerika Serikat yang Selalu Berulang, Masihkah Dunia Percaya kepada Negeri Paman Sam?

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
279
Presiden Venezuela Nicolás Maduro

Presiden Venezuela Nicolás Maduro

Sejarah Kejahatan Amerika Serikat yang Selalu Berulang, Masihkah Dunia Percaya kepada Negeri Paman Sam? 

Oleh: Buya Anwar Abbas 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah melancarkan serangan besar-besaran ke negara Venezuela dan menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan isterinya dan membawanya ke negara lain. Ini benar-benar merupakan sebuah tragedi dan pelanggaran besar yang kesekian kalinya yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap negara lain yang berdaulat.

Tindakan ini jelas-jelas harus dilawan dan dikutuk. Kita tahu jika Amerika serikat ingin hendak menyerang kedaulatan suatu negara mereka akan menebar fitnah sehingga dunia bersimpati dan mendukungnya. Hal itu terlihat secara jelas ketika Amerika Serikat di bawah Presiden George W. Bush tidak senang dengan kepemimpinan Saddam Husein dari Iraq yang tidak mau tunduk kepada mereka , lalu Amerika serikat dengan sekutunya Inggeris menuduh Saddam Hussein telah membuat senjata pemusnah massal dengan mengembangkan senjata kimia, biologi dan nuklir serta punya hubungan dekat dengan al Qaeda.

Tuduhan-tuduhan itulah yang dijadikan dasar oleh Washington dan London tahun 2003 untuk menginvasi Irak sehingga presiden Saddam Husein terguling. Tetapi anehnya ketika Saddam Hussein diadili yang mereka jadikan dasar tuduhan mereka bukan lagi karena Saddam telah membuat senjata pemusnah dan terorisme tapi atas tuduhan telah melakukan kejahatan terhadap rakyatnya sendiri sehingga Saddam Hussein dijatuhi hukuman mati.

Lalu apa yang terjadi kemudian. Beberapa laporan intelijen dari amerika serikat sendiri dan juga dari inggeris pasca invasi menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara Saddam Husein dengan al qaeda. Bahkan Tony Blair perdana menteri inggeris ketika itu yang mendukung Amerika serikat menginvasi Iraq mengakui bahwa intelijen yang menyatakan Saddam Hussein memiliki program senjata pemusnah massal (WMD) ternyata salah dan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Jahatnya lagi Tony Blair tidak mau menyesali keputusannya dan tidak mau meminta maaf atas kesalahannya. Dari hal di atas terlihat secara jelas bagaimana buruk dan busuknya politik kedua negara tersebut karena yang mereka incar sebenarnya dibalik invasi tersebut adalah bagaimana mereka bisa menguasai dan mengendalikan cadangan minyak yang sangat besar yang dimiliki oleh iraq. Untuk mengamankan pasokan serta memperkuat posisi strategis mereka di Timur Tengah maka Amerika Serikat dan Inggeris berkesimpulan bahwa mereka harus menyingkirkan Saddam Hussein.

Hal serupa tampaknya juga sekarang sedang terjadi dan menimpa negara Venezuela dengan presidennya Maduro dengan tuduhan Nicolás Maduro telah memimpin organisasi perdagangan narkotik internasional.

Tuduhan ini telah ditolak dan dibantah oleh Maduro berkali-kali tetapi Donald Trump tampaknya tidak mau mendengar dan telah menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk menyerang Venezuela dan menangkap Maduro karena Amerika tahu venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia bahkan lebih besar dari Arab Saudi dan Kanada. Juga di samping itu Venezuela dikenal kaya dengan sumber daya alam lain seperti gas alam, emas, dan mineral lainnya, serta memiliki potensi pariwisata alam yang besar dan indah. Untuk bisa menguasai sumberdaya alam yang sebesar itu Amerika serikat berkesimpulan mereka harus menjatuhkan Maduro sebagai Presiden dan menggantinya dengan yang lain.

Jadi sejatinya apa yang dilakukan Amerika serikat terhadap Venezuela dan Presidennya Maduro adalah dalam rangka bagaimana mereka bisa menguasai sumberdaya alam venezuela yang kaya raya tersebut. Oleh karena Presiden mereka Maduro tidak mau tunduk dan patuh kepada Amerika Serikat maka cara satu-satunya yang harus mereka lakukan adalah menyerang dan menangkap Maduro bahkan kalau perlu membunuhnya seperti yang telah mereka lakukan terhadap Saddam Husein di Iraq dan Muammar Khaddafi di Libya.

Pertanyaannya sekarang apakah dunia masih akan percaya kepada negara teroris dan penjajah tersebut. Hanya orang yang telah kehilangan akal sehat sajalah yang akan dapat menerima alasan Donald Trump tersebut.

Buya Anwar Abbas, Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan, Wakil Ketua Umum MUI


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Anak Saleh (35)Oleh: Mohammad Fakhrudin/Warga Muhammadiyah "Anak saleh bukan barang instan. Dia dip....

Suara Muhammadiyah

20 March 2025

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan. Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Mari kita lanjutkan perjalanan ....

Suara Muhammadiyah

6 November 2024

Wawasan

Pesantren Muhammadiyah dalam Lanskap Pendidikan Nasional Oleh: M. Saifudin, Pengasuh Ponpes Modern ....

Suara Muhammadiyah

24 December 2025

Wawasan

Oleh: Ns. Andri Praja Satria, M.Sc, M.Biomed (Dosen di Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Muhamm....

Suara Muhammadiyah

30 January 2024

Wawasan

Oleh: Prima Trisna Aji, Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang Menje....

Suara Muhammadiyah

3 June 2025