BANYUMAS, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional tanggal 25 April 2026 MDMC Banyumas bersama tim Komunitas Relawan Psikososial UMP mengadakan pelatihan atau simulasi terjadinya bencana di SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto.
Dalam kegiatan mitigasi bencana ini diikuti oleh siswa siswi anggota Hizbul Wathan SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto. Hal ini perlu dilakukan karena bencana bisa datang tanpa kita duga seperti gempa bumi, banjir, kebakaran, atau bahkan bencana kecil seperti tersengat listrik. Karena itu, kita perlu membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan agar tetap aman.
Dalam pelatihan, peserta mendapatkan materi tentang pengenalan bencana, simulasi evakuasi, pertolongan pertama, serta komunikasi darurat. Guru berperan sebagai koordinator, sementara siswa dilatih untuk bertindak cepat dan tertib saat terjadi keadaan darurat.
Kegiatan ini diisi oleh pemateri dari MDMC Banyumas Gilang dan Budi,komunitas relawan psikososial Dena Rizkita Sari dan peninjau dari Psikologi UMP Dr. Ugung Dwi Ario Wibowo. Sebelum acara dimulai diisi sambutan dari Kepala Sekolah Imam Suyanto,S.Ag dan pembina komunitas Nia Anggri Noveni,S.Psi,MA. Adapun poin-poin yang disampaikan dalam materi sebelum peragaan adalah mitigasi bencana, simulasi bencana dan psikologi kebencanaan.
Kegiatan ini dianggap penting dilakukan karena sekolah adalah tempat berkumpulnya banyak orang, terutama anak-anak, sehingga rentan terhadap dampak bencana. Pelatihan mitigasi bencana di sekolah bukan hanya melatih kesiapsiagaan, tetapi juga membangun budaya aman dan tangguh sejak dini. Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk 1) memberikan pengetahuan dasar tentang jenis-jenis bencana (gempa bumi, banjir, kebakaran, dll). 2) Melatih keterampilan evakuasi dan pertolongan pertama. 3) Menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama dalam menjaga keselamatan. 4) Membentuk tim siaga bencana sekolah yang terorganisir.
Dengan kegiatan tersebut akan diperoleh manfaat antara lain 1) Meningkatkan rasa aman dan percaya diri siswa. 2) Meminimalisir kepanikan saat bencana nyata terjadi. 3) Membentuk karakter disiplin, tanggap, dan peduli. 4) Menjadikan sekolah sebagai pusat edukasi kebencanaan bagi masyarakat sekitar.
Oleh karena itu pelatihan mitigasi bencana di sekolah sebenarnya bukan sekadar rutinitas, melainkan investasi jangka panjang untuk keselamatan generasi muda. Dengan membiasakan simulasi dan pengetahuan kebencanaan, sekolah dapat menjadi benteng pertama dalam melindungi anak-anak dari risiko bencana. (Eka)
