Semut atau Manusia? Perdebatan An-Naml 18

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
53
Foto oleh jcomp di magnific

Foto oleh jcomp di magnific

Semut atau Suku Manusia? Menyingkap Perdebatan Terjemahan Surat An-Naml Ayat 18

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Dalam khazanah literatur suci, Al-Qur’an sering kali menyajikan kisah-kisah yang melampaui batas logika manusia biasa, membawa kita ke ambang batas antara keajaiban dan realitas. Salah satu fragmen paling memikat sekaligus memicu perdebatan intelektual yang panjang adalah kisah Nabi Sulaiman di sebuah lembah yang dipenuhi oleh makhluk-makhluk kecil: naml.

Surat 27 ayat 18 mengunci sebuah momen dramatis. Namun, di balik teks aslinya, tersimpan sebuah spektrum interpretasi yang luas. Mari kita membedah bagaimana kata sederhana seperti "semut" dapat membuka pintu pemahaman yang begitu dalam mengenai cara kita memandang wahyu.

Ketegangan intelektual ini dimulai ketika kita meletakkan dua terjemahan dari pakar besar secara berdampingan. Di satu sisi, kita memiliki Syed Abul A'la Maududi, seorang pemikir yang cenderung mempertahankan kemurnian narasi tradisional. Dalam pandangannya, ayat ini berbunyi:

"Sulaiman pernah dalam perjalanan bersama mereka hingga ketika mereka sampai di sebuah lembah semut, salah seekor semut berkata, 'Wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar Sulaiman dan bala tentaranya tidak menginjakmu tanpa mereka sadari.'"

Maududi membawa kita pada imajinasi visual yang nyata: jutaan serangga kecil yang panik di bawah derap kaki raksasa pasukan Sulaiman. Namun, di sisi lain, Muhammad Ali menawarkan sudut pandang yang mengejutkan melalui pendekatan rasional-historisnya:

"Hingga ketika mereka sampai ke Lembah Naml, seorang penduduk Naml (Namlite) berkata, 'Wahai kaum Naml, masuklah ke rumah-rumahmu, agar Sulaiman dan bala tentaranya tidak melindasmu padahal mereka tidak menyadari.'"

Perbedaan ini bukan sekadar permainan kata. Jika Maududi berbicara tentang zoologi, Muhammad Ali berbicara tentang antropologi. Yang satu melihat mukjizat komunikasi antar-spesies, sementara yang lain melihat sebuah suku manusia bernama Naml yang tinggal di sebuah lembah strategis.

Secara linguistik, jika kita mencoba bersikap netral dan tetap menggunakan istilah aslinya tanpa prasangka, kita akan mendapati sebuah kalimat: "Hingga ketika Sulaiman dan pasukannya sampai ke lembah Naml, dan seekor Naml berkata..."

Dalam bahasa Arab, Naml adalah kata kolektif (generik) yang merujuk pada semut sebagai sebuah spesies atau kelompok besar. Sementara itu, Namla merujuk pada satu individu. Jika kita mengikuti logika kebahasaan yang paling alami, hampir semua kamus Arab akan menunjuk pada serangga kecil yang rajin itu. Namun, di sinilah letak sandungannya: Bagaimana mungkin seekor serangga bisa memiliki kecanggihan kognitif untuk mengenali identitas seorang raja (Sulaiman) dan bahkan menganalisis niat psikologis pasukannya—bahwa mereka mungkin menginjak tanpa sengaja?

Pertanyaan ini membawa kita pada dua jalur pemahaman: jalur Mukjizat dan jalur Dramatisasi. Bagi para ulama klasik, kesulitan membayangkan semut berbicara bahasa Arab sebenarnya sudah tuntas dengan sebuah konsep cerdas: Al-Qur’an adalah sebuah "retelling" atau penceritaan ulang yang fasih (eloquent).

Pikirkanlah begini: Ketika Al-Qur’an mengutip dialog nabi-nabi terdahulu seperti Musa yang berbicara bahasa Ibrani kuno atau Isa yang berbicara bahasa Aram, Al-Qur’an menyajikannya dalam bahasa Arab yang sangat puitis dan tinggi. Apakah mereka benar-benar berbicara bahasa Arab di zaman itu? Tentu tidak. Al-Qur’an sedang melakukan "dramatisasi" atas pesan yang mereka sampaikan.

Begitu pula dengan semut di Lembah Naml. Kita tidak perlu membayangkan seekor semut berdiri dengan pengeras suara kecil dan berpidato dalam tata bahasa Arab yang sempurna. Secara saintifik, semut berkomunikasi melalui feromon, getaran, dan sinyal kimia yang sangat kompleks. Al-Qur’an mengambil esensi dari komunikasi biologis tersebut—yakni peringatan akan bahaya—dan menuangkannya ke dalam narasi manusia agar kita bisa menangkap urgensi dan keagungan momen tersebut.

Al-Qur’an bukan sekadar catatan kronologis seperti buku harian militer yang mencatat setiap detail secara kaku. Al-Qur’an adalah karya seni ilahi yang menggunakan bahasa untuk menggerakkan jiwa. Jadi, ketika semut itu "berkata," yang sedang kita saksikan adalah representasi dari insting pertahanan diri yang diberikan Tuhan kepada makhluk-Nya, yang kemudian ditangkap oleh kepekaan luar biasa Nabi Sulaiman.

Lalu, bagaimana dengan pendapat Muhammad Ali bahwa Naml adalah sebuah suku manusia? Argumen ini sebenarnya muncul dari keinginan untuk "menyelamatkan" Al-Qur’an dari tuduhan dongeng atau ketidakmungkinan logika. Jika Naml adalah manusia (Namlite), maka keberatan tentang semut yang berbicara akan hilang dengan sendirinya. Manusia tentu bisa mengenali Sulaiman, dan manusia tentu bisa berteriak memperingatkan kaumnya untuk masuk ke dalam rumah.

Namun, argumen ini memiliki kelemahan yang justru dibongkar oleh Maududi. Jika mereka adalah manusia, mengapa mereka harus takut diinjak-injak "tanpa disadari"? Pasukan sebesar milik Sulaiman biasanya akan sangat berhati-hati agar tidak membantai penduduk sipil secara tidak sengaja di sebuah lembah. Frasa "tanpa mereka sadari" jauh lebih masuk akal jika ditujukan kepada serangga kecil yang keberadaannya memang sering luput dari pandangan mata manusia saat berjalan.

Satu detail kecil namun krusial dalam ayat selanjutnya adalah reaksi Sulaiman: "Maka dia tersenyum seraya tertawa karena mendengar perkataan semut itu." Sulaiman tidak tertawa karena sombong. Dia tersenyum karena dia diberikan mukjizat untuk memahami bahasa alam. Dia menarik pelajaran moral yang luar biasa dari sana. Bayangkan seorang penguasa besar, raja dari segala raja, yang memimpin pasukan manusia, jin, dan burung, bersedia berhenti sejenak hanya karena seekor makhluk yang paling remeh memberikan peringatan.

Ini adalah kritik tajam bagi kekuasaan manusia. Sulaiman menunjukkan bahwa kekuatan besar tidak boleh melindas yang lemah, meskipun itu "tidak sengaja." Kepekaannya terhadap suara semut adalah simbol dari keadilan yang absolut—keadilan yang menjangkau hingga ke sela-sela bebatuan lembah.

Pada akhirnya, haruskah kita memilih antara semut atau suku manusia? Secara tekstual dan konteks alami bahasa Arab, interpretasi "semut" jauh lebih kuat dan konsisten. Namun, pelajaran terbesarnya bukanlah pada identitas biologis subjeknya, melainkan pada cara kita membawa rasionalitas dalam memahami wahyu.

Kita tidak boleh terjebak dalam literalisme yang kaku yang menolak sains, namun kita juga tidak boleh terlalu alergi pada mukjizat sehingga mencoba merasionalkan segala sesuatu hingga kehilangan keajaibannya. Al-Qur’an sering kali mengambil cerita-cerita yang sudah akrab di telinga masyarakat saat itu—sebagai bagian dari memori kolektif mereka—untuk kemudian menyuntikkan nilai-nilai moral dan etika yang baru.

Jika kita memahami kisah ini sebagai sebuah dramatisasi ilahi atas interaksi antara seorang Nabi dengan alam semesta, maka masalah "semut berbicara bahasa Arab" akan menguap. Yang tersisa adalah sebuah pemandangan indah: interaksi harmonis antara pemimpin yang bijaksana dan rakyatnya, hingga ke tingkat makhluk mikroskopis sekalipun.

Pelajaran bagi kita adalah pentingnya menjaga keseimbangan. Memahami Al-Qur'an memerlukan akal sehat, namun juga memerlukan hati yang terbuka terhadap kemahakuasaan Tuhan. Mengubah semut menjadi suku mungkin terdengar modern, namun itu mungkin justru mengaburkan kedalaman makna mukjizat tentang seorang pemimpin yang mampu mendengar suara-suara yang tak terdengar oleh orang lain.

Mari kita biarkan semut itu tetap menjadi semut. Karena di dalam kecilnya tubuh mereka, tersimpan pengakuan atas kebesaran pencipta yang mampu membuat seorang raja berhenti melangkah demi keselamatan sebuah lubang kecil di tanah. Itulah etika lingkungan dan kemanusiaan yang sesungguhnya, yang telah dibisikkan dari Lembah Naml ribuan tahun yang lalu.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Dinamika Identitas Muhammadiyah Menghadirkan Islam Berkemajuan di Dunia Oleh: Bayu Madya Chandra, S....

Suara Muhammadiyah

23 August 2025

Wawasan

Menjadi Kartini Yang Berkemajuan Penulis: Dr. Hasbullah, M. Pd. I, Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PN....

Suara Muhammadiyah

22 April 2026

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Persoalan mengenai aturan berpa....

Suara Muhammadiyah

24 April 2026

Wawasan

Dinamika Geopolitik Global dan Tantangan Dunia Islam  Oleh: A. Junaedi Karso, Guru Besar FISIP....

Suara Muhammadiyah

21 February 2025

Wawasan

Jamane Wis Akhir: Dalam Kehidupan Manusia Oleh: Rumini Zulfikar, Penasehat PRM Troketon "Bumi ini ....

Suara Muhammadiyah

15 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah