Seni Menahan Diri: Membangun Takwa di Persimpangan Ketaatan

Publish

21 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
79
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Seni Menahan Diri: Membangun Takwa di Persimpangan Ketaatan

Oleh: Roehan Ustman Pengasuh PP Ibnul Qoyyim Yogyakarta, Anggota Muhammadiyah Gunungkidul

Seringkali kita terjebak dalam miskonsepsi bahwa Ramadan hanyalah tentang menahan lapar dan dahaga. Padahal, jika kita menilik Al-Qur'an, kata Ramadan hanya disebutkan satu kali. Menariknya, ia tidak langsung disandingkan dengan kata "puasa", melainkan dengan peristiwa turunnya Al-Qur'an (unzila fihil-qur'an). 

Ramadan sejatinya adalah bulan tadabbur. Al-Qur'an hadir sebagai kompas: petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk tersebut, serta pembeda antara yang hak dan yang batil. Sebelum perintah puasa tiba, kita diminta untuk menyelami makna keberadaan kita melalui ayat-ayat-Nya. 

Mengapa Ramadan sering terasa berat? Karena kita menjalaninya sebagai beban fisik, bukan sebagai kebutuhan jiwa. Padahal, Allah memberikan keringanan bagi mereka yang sakit atau dalam perjalanan, semata-mata agar agama ini tidak menyulitkan. 

Akhir dari ayat puasa pun ditutup dengan ajakan untuk bersyukur—bersyukur atas petunjuk-Nya, atas kesempatan melakukan kebaikan melalui tilawah, dan atas malam-malam penuh sujud. 

Puasa adalah seni menahan diri. Namun, menahan di sini bukan sekadar diam, melainkan persiapan untuk melompat ke level takwa yang kontinu (dilambangkan dengan fi’il mudhari’ dalam Al-Qur'an yang berarti terus-menerus).

• Menahan berarti mengendalikan diri.
• Mengendalikan adalah wujud kesabaran.
• Kesabaran adalah jalan ketaatan.
• Ketaatan adalah keberanian untuk memilih: menuruti syahwat atau mengikuti perintah Ilahi.

Bila kita bedah lapisan maknanya lebih dalam maka;
• Menahan adalah Mengendalikan Diri: Di tengah dunia yang serba instan, puasa melatih kita untuk menjadi "tuan" atas diri sendiri. Kita menahan yang halal (makan dan minum) demi membuktikan bahwa kita tidak disetir oleh perut maupun keinginan rendah. Jika yang halal saja bisa kita kendalikan, maka menjauhi yang haram seharusnya menjadi lebih ringan.

• Mengendalikan adalah Wujud Kesabaran: Sabar bukan berarti lemah. Sabar adalah kekuatan untuk tetap tenang di bawah tekanan godaan. Ia adalah napas panjang saat menghadapi amarah dan keteguhan hati saat syahwat memanggil. Di sinilah mentalitas pejuang dibentuk.

• Kesabaran adalah Jalan Ketaatan: Ketaatan sejati tidak lahir dari paksaan, melainkan dari kesabaran dalam mencintai proses peribadatan. Kita taat karena kita sadar bahwa setiap aturan Tuhan adalah pagar pelindung bagi kemuliaan jiwa kita sendiri.

• Ketaatan adalah Persimpangan Pilihan: Setiap detik dalam puasa adalah momen krusial di persimpangan jalan. Kita terus-menerus dihadapkan pada dua pilihan: menuruti ego yang egois (hawa) atau mengikuti perintah Ilahi yang membebaskan. Ketaatan adalah keputusan sadar untuk memilih cahaya di atas kegelapan diri. 

Dengan memahami urutan ini, puasa bukan lagi soal "menunggu waktu berbuka", melainkan proses restorasi jiwa. Kita sedang menyetel ulang sistem kendali diri agar tidak mudah goyah oleh badai dunia di luar Ramadan. 

Ramadan: Dari Menahan ke Memenangkan 

Jika kita memahami bahwa puasa adalah proses menahan, maka kita sedang membangun fondasi kendali diri. Di titik inilah kita berhenti menjadi budak bagi keinginan kita sendiri. Saat kita mampu mengendalikan dorongan paling dasar (lapar dan haus), kita sebenarnya sedang memegang kendali penuh atas kemudi hidup kita. 

Namun, kendali ini butuh bahan bakar bernama kesabaran. Sabar bukan sekadar menunggu, melainkan kemampuan menjaga ritme hati agar tetap stabil saat badai keinginan menerjang. Dari kesabaran yang tangguh inilah lahir ketaatan yang tulus. Ketaatan bukan lagi soal "harus", tapi soal "pilihan sadar". 

Setiap kali kita memilih untuk taat di persimpangan antara hawa nafsu dan perintah Ilahi, kita sedang melakukan muhasabah nyata. Kita membandingkan: mana yang membawa manfaat abadi, dan mana yang hanya nikmat sesaat. 

Ramadan bukan tentang seberapa kuat kita menahan lapar selama 30 hari, tapi seberapa hebat kita berlatih di "ruang simulasi" ini agar di 11 bulan berikutnya, kita keluar sebagai pemenang yang memiliki kontrol penuh atas diri, jiwa, dan ketaatan kepada-Nya. 

Ramadan adalah "kawah candradimuka" selama satu bulan, tempat Tuhan mendidik orang beriman. Setelah itu, 11 bulan berikutnya adalah panggung pembuktian di mana kita harus mendidik diri sendiri hingga ajal menjemput. 

Melalui Qiroatul Qur’an, kita tidak hanya mengejar khatam, tapi mengejar tadabbur. Kita melakukan muhasabah: membandingkan diri dengan standar langit—apakah perintah sudah dijalankan? Apakah larangan sudah ditinggalkan? Apakah hati kita masih bergetar saat mendengar janji-Nya? 

Melalui Qiyamul Lail dan I’tikaf, kita pasrah sepasrah-pasrahnya. Dalam ruku dan sujud, kita memohon agar kebaikan yang ada terus bertambah, dan yang buruk dibuang jauh-jauh. Kita mengetuk pintu ampunan agar dosa dihapus tanpa sisa. 

Jika Ramadan hanya dianggap sebagai bulan "berhenti makan", ia akan selalu menjadi beban yang melelahkan. Namun, jika ia dipandang sebagai bulan latihan, maka kita akan menyadari bahwa esensi ketakwaan yang sesungguhnya justru ada di luar Ramadan—di kehidupan sehari-hari kita yang nyata.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Keseimbangan dalam Bederma Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Bed....

Suara Muhammadiyah

17 January 2024

Wawasan

Memahami Al-Qur`an Lewat Generasi Awal Kaum Muslimin (1) Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu B....

Suara Muhammadiyah

3 May 2024

Wawasan

Ashabul Kahfi (3): Menemukan Hakikat Tauhid di Balik Pintu Gua Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakult....

Suara Muhammadiyah

6 February 2026

Wawasan

Refleksi Milad 59 dan Revitalisasi Fungsi Kokam Oleh: Badru Rohman, Kokam Sukoharjo Sejak awal ber....

Suara Muhammadiyah

2 October 2024

Wawasan

Outlook Microfinance Muhammadiyah 2024 Oleh: Agus Yuliawan, Direktur Eksekutif Induk Baitut Tamwil ....

Suara Muhammadiyah

29 December 2023