JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa berlaku ihsan dalam kehidupan. Juga melarang untuk berbuat kerusakan. Di sinilah letak distingtif antara hamba Allah yang beriman, yakni menonjolkan atensi khusus kepada alam semesta.
Demikian Abdul Mu’ti menegaskan. Dllanjutkan lagi, orang yang berbuat kerusakan, merupakan tipikal orang munafik. “Mereka itu ketika diingatkan untuk jangan berbuat kerusakan, mereka menjawab, kami tidak membuat kerusakan di muka bumi, tapi kami justru membuat perbaikian di muka bumi,” katanya, menukil Qs al-Baqarah ayat 11.
Itulah jawaban pongah orang munafik. Namun, tegas Qur’an di Qs al-Baqarah ayat 12, seketika meluruhkan jawaban tersebut. “Sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.”
Demikian juga ayat 27, yang mengemukakan orang fasik itu sebagai orang yang berbuat kerusakan di muka bumi, selain memutus perjanjian dengan Allah.
“Ekspresi keimanan kita kepada Allah adalah sikap kita melestarikan alam semesta, menjaga ekosistem dalam kehidupan di dunia, dan kepedulian kita terhadap masa depan generasi umat manusia,” jelas Mu’ti dalam ceramah Tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (20/2).
Tampak jelas, sensitivitas kepada alam semesta, menjadi ciri khas orang beriman. “Itu sebagai wujud kepatuhan kepada Allah, bukan menyembah alam semesta,” tegas Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Persoalan paling elementer, di tengah ciptaan Allah yang begitu rupanya itu; langit, bumi, matahari, bulan. Namun, “Manusia dilarang untuk menyembang langit dan bumi, dan dilarang untuk menyembah matahari dan bulan,” tegas Mu’ti sekali lagi.
Dalam kaitannya sikap kepada pelestarian lingkungan, niscaya dilandasi nilai-nilai dasar yang substansial. Pertama, semua yang mewujud adalah ciptaan Allah. Karena itu fondasi utamanya diletakkan di sini yaitu terkait tauhid.
“Kita meyakini Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, menciptakan semua yang maujud di alam semesta ini,” ujarnya.
Kedua, alam semesta memiliki hukum-hukumnya sendiri. Para ahli menyebutnya sebagai hukum alam (natural law), tetapi dalam Islam disebut dengan Sunnatullah.
“Alam semesta itu merupakan makhluk hidup yang dia bukan menjadi objek, tetapi sebagai subjek,” terang Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah itu.
Di sinilah pentingnya umat Islam berperilaku baik kepada alam. Yang hal demikian itu, akan berimplikasi kepada denyut nadi kehidupan umat manusia di muka bumi.
“Ada hukum kausalitas (sebab-akibat) yang melekat pada prinsip ekosistem, di mana semua yang ada di alam semesta ini saling bergantung satu dengan yang lainnya,” bebernya.
Bersamaan dengan itu, pemahaman hal ihwal Sunnatullah menjadi amat fundamental. Prinsip dasarnya melekat satu paket dengan konteks keseimbangan (tawazun).
“Jika ekosistem tidak seimbang, maka mesti ada masalah ekologis di alam semesta ini,” urainya, mencontohkan berupa berbagai bencana atau musibah. Yang pangkal ini bersumber dari perilaku destruktif manusia.
“Allah menunjukkan akibat perbuatan manusia itu, sebagian berupa musibah, sebagian berupa bencana,” ulasnya, menandaskan pentingnya memandang alam bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek. “Kita berusaha untuk melestarikan alam,” tukasnya. (Cris)

