Sikap Positif Hadapi Musibah
Bangsa Indonesia mengawali tahun 2026 dalam suasana duka akibat bencana banjir di Aceh, Sumatra utara, Sumatra Barat, dan daerah lainnya. Suatu musibah berat yang tentu tidak dikehendaki oleh siapapun dan mesti dihadapi bersama dengan sikap positif.
Sikap positif dalam menghadapi bencana sebagai suatu musibah ialah menerimanya dengan sabar disertai ikhtiar yang optimal untuk mengatasi dan mencari solusi. Bagi kaum beriman, hidup dan mati, anugerah dan musibah, serta segala hal yang terjadi di dunia ini tidaklah lepas dari Kuasa Dzat Yang Maha Esa, sebagaimana firman Allah yang artinya: "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah" (QS Al-Hadid: 22).
Di tengah bencana, spirit bangkit mesti dibangun oleh seluruh pihak. Bukan malah menebar keriuhan, kekalutan, dan suasana pesimis. Bangsa ini harus tangguh dan bangkit dalam menghadapi bencana seberat apapun. Kami menaruh hormat kepada saudara-saudara korban terdampak bencana yang masih terus berjuang mengatasi kesulitan dengan kesabaran dan semangat kebersamaan yang tinggi.
Kami juga memberi apresiasi tinggi kepada seluruh anggota TNI, Polri, aparat pemerintahan, para sukarelawan, dan seluruh anak bangsa yang tetap gigih membantu saudara-saudara korban terdampak dalam keadaan yang penuh tantangan, kesulitan, dan pengorbanan yang luar biasa. Kita sungguh mampu mengatasi musibah besar ini jika seluruh anak bangsa bersatu dalam ikatan persaudaraan yang utuh dan penuh kasih sayang satu sama lain.
Refleksi dan muhasabah diri tentu diperlukan, terutama setelah jeda. Mari belajar hikmah dalam menghadapi musibah dan dinamika kehidupan. Dari aspek spiritualitas alangkah bijaksana bilamana segenap elite dan warga bangsa melakukan introspeksi mendalam sekaligus menata jiwa keruhanian dan sikap luhur dalam kehidupan. Apakah ada jejak langkah yang salah dan keliru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga kita diuji Tuhan Yang Maha Kuasa. Pada saat yang sama mengabaikan nilai-nilai luhur kehidupan seperti kebenaran, kebaikan, kepantasan, kemanusiaan, kemaslahatan, dan hal-hal utama lainnya dalam kehidupan.
Sebab-sebab lahir pun bisa dicari kemudian, ketika suasana sudah reda dan kondisi darurat bencana sudah tertangani dengan sebaik-baiknya. Sejauh hal-hal yang menyangkut urusan keduniawian yang berdimensi profan, ke depan dapat dikaji secara objektif dengan berbagai sudut pandang yang komprehensif, bagaimana mencegah terjadinya bencana besar yang bersifat non-alami.
Pasca darurat bencana, dari aspek ilmu pengetahuan dapat dilakukan kajian-kajian mendalam tentang masa depan tata ruang dan ekosistem Indonesia dari berbagai aspek. Kajian-kajian hendaknya dilakukan secara multidisipliner dan multiperspektif berbasis epistemologi ilmu pengetahuan yang kokoh dan objektif. Bukan kajian selintas yang dangkal berdasarkan persepsi-persepsi subjektif maupun tendensi-tendensi yang bersifat politis, yang hasilnya sepihak dan sesuai selera sendiri.
Lihatlah keadaan di lapangan, betapa tidak mudah dan sangat berat mengatasi dampak bencana. Semua pihak mengerahkan segala kemampuan hingga melampaui takaran. Kita yang jauh hanya melihat sekilas dan berdasarkan informasi media yang tidak jarang serpihan-serpihan. Apalagi melalui media sosial yang sering memproduksi informasi yang memancing amarah.
Jadi, kedepankanlah sikap dan pola pikir yang positif dan konstruktif dalam menghadapi bencana maupun dalam hidup berbangsa-bernegara ketika ada masalah. Tunjukkan sikap empati, simpati, peduli, dan berbagi yang lahir dari hati irfani yang hidup dalam jiwa yang otentik dan tidak merasa paling benar sendiri!
Sumber: Majalah SM Edisi 2 Tahun 2026

