Pandangan Islam Multidimensi
Oleh: Prof Dr H Haedar Nashir, M,Si.
Sebagian muslim baik tokoh maupun warga sering bias dalam memandang kehidupan hanya karena melihat persoalan secara sempit dan subjektif. Ketika ada perbuatan-perbuatan buruk manusia baik individu maupun kelompok di bidang politik, ekonomi, budaya, pengelolaan sumberdaya alam, dan urusan duniawi lainnya lantas lahir pandangan-pandangan atau opini-opini yang menegasikan kehidupan dunia. Akibatnya tumbuh anjuran-anjuran subjektif untuk memusuhi dunia politik, menegasikan ekonomi, menolak pengelolaan sumberdaya alam, dan pandangan-pandangan buruk lainnya tentang kehidupan. Kemudian tumbuh sikap anti dunia dan kehidupan.
Pada saat yang sama golongan lain begitu proaktif dalam mengurus politik, ekonomi, sumber daya alam, dan berbagai aspek kehidupan lainnya sehingga mereka menguasai dunia. Golongan kecil menguasai kelompok besar karena kuat dan proaktif dalam mengurus kehidupan. Umat Islam meski besar secara jumlah masih tertinggal dalam banyak aspek, sehingga posisinya menjadi objek atau “maf’ul bihi” dalam kompetisi kehidupan di ranah lokal, nasional, dan global. Hidup sekadar ingin baik tetapi tidak maju dan menguasai kehidupan. Praktik hidup banyak larangan dan penegasian dalam menghadapi kehidupan tanpa landasan dan perspektif yang kokoh berbasis ajaran Islam yang berkemajuan. Kenapa menjadi paradoks seperti itu?
Perspektif Islam
Islam sebagai agama akhir zaman mengatur seluruh aspek kehidupan untuk diurus oleh kaum muslim sebagai khalifah di muka bumi. Aspek aqidah, ibadah, akhlak, dan mu’amalah-dunyawiyah merupakan satu kesatuan yang saling terkait dalam keutuhan ajaran Islam yang integral. Islam memandang kehidupan dunia dan akhirat sebagai satu mata rantai dalam kehidupan kaum beriman, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashash: 77).
Kesadaran akan kelangsungan hidup di dunia dan di akhirat itu meniscayakan sikap bertaqwa dan berpikir yang mendalam (tanadhar) dengan berbuat amal kebajikan sebagai bekal utama kehidupan (QS Al-Hasyr: 18). Tanadhar atau kesadaran akan masa depan dengan berbuat yang terbaik untuk bekal akhirat hanya dapat dilakukan di dunia, tidak ada tempat lain. Karenanya urus dunia dengan membangunnya yang membawa maslahat, serta jauhi mafsadat atau yang menimbulkan kerusakan di muka bumi. Di sinilah manusia diberi akal agar mampu memilih dan memilahnya, yang melahirkan ilmu pengetahuan dan segala perangkat hidup yang disebut teknologi ciptaan manusia. Teknologi pun harus dipergunakan sebaik-baiknya dan jangan disalahgunakan, sehingga manusia dengan akal-budi dan ajaran agama membentuk akhlak mulia sebagai pedoman berbuat dan berperilaku utama.
Islam merupakan agama yang mengajarkan kemajuan hidup bagi seluruh umat manusia. Alam dengan seluruh isinya harus diurus dan dibangun secara optimal, tetapi jangan dirusak (QS Al-Qashash: 77; Hud: 61; Al-Baqarah: 11, 30;). Kaum muslim bahkan diangkat sebagai umat pilihan atau khayra ummah karena kehadirannya memiliki tugas suci mendakwahkan Islam (QS Ali Imran: 110). Tugas mulia itu guna melanjutkan misi kerisalahan Nabi untuk menjadi rahmatan lil-‘alamin (QS Al-Anbiya: 107).
Kemajuan hidup bagi kaum muslimin maupun umat manusia secara umum tidak hanya pesan normatif dan imperatif dari ajaran Islam, tetapi diwujudkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad bersama kaum muslimin dalam membangun peradaban hidup yang cerah dan mencerahkan yang melahirkan era kejayaan Islam di panggung sejarah berabad-abad lamanya. Pandangan kemanusiaan dalam perspektif Islam tidak berdasarkan humanisme tetapi berlandaskan ketuhanan atau humanisme-teosentris.
Pandangan integral inilah yang menjadi ciri khas sebagai core-value (nilai inti) sekaligus distinctive (pembeda) dari Ajaran Islam yang melahirkan dunia antroposen yang terintegrasi dengan ketuhanan (iman, takwa, tauhid) untuk melahirkan pencerahan dalam kehidupan umat manusia dan alam semesta dalam visi utama rahmatan lil-‘alamin.
Humanisme yang terintegrasi dengan teosentrisme maka peradaban profetik yang seimbang antara habluminallah dan habluminannas secara utuh dan komprehensif yang melampaui peradaban sekuler. Nilai kemajuan dalam pondasi dan bingkai Islam substansinya menyatu dengan nilai kebaikan, kebenaran, dan keutamaan hidup bersendikan Wahyu Allah dan uswah hasanah Nabi Muhammad untuk menjadi rahmat bagi semesta alam sampai akhir zaman. Karenanya umat Islam semestinya mempunyai spirit, etos, pemikiran, sikap, dan tindakan yang berwawasan kemajuan dalam mengurus kehidupan dunia untuk kebahagiaan sejati di akhirat. Jika umat Islam anti dunia maka siapakah yang akan mewujudkan risalah Nabi akhir zaman untuk membangun peradaban Islam?
Pandangan Muhammadiyah
Muhammadiyah memandang Islam sebagai agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan dengan pandangan yang utuh dan integral. Islam secara terminologi menurut Tarjih Muhammadiyah ialah “Agama (ad Dinul Islami) yang dibawa oleh nabi Muhammad saw ialah apa yang diturunkan Allah dalam Al-Qur’an dan yang tersebut dalam Sunnah yang maqbulah berupa perintah dan larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan di akhirat.”. Islam sebagai Ad-Din (Agama) yang menyangkut seluruh aspek kehidupan: Aqidah, Ibadah, Akhlak, dan Muamalah Dunyawiyah. Islam yang dibawa Nabi Muhammad adalah agama yang sempurna dan risalah terakhir yang diturunkan kepada umat manusia (QS Al-Maidah: 3). Karenanya dengan Islam setiap muslim dan umat Islam harus mengurus dunia hingga kiamat tiba dengan bekal iman, ilmu, dan amal shaleh yang utama. Manusia jangan rakus dunia tanpa nilai utama, sebaliknya tidak anti dunia hanya karena ada sisi buruk kehidupan, semuanya mesti disikapi dengan sikap tengahan dan berbasis kerisalahan (QS Al-Qashash: 70, Ar-Ra’d: 11; Al-Anbiy: 107).
Pandangan Muhammadiyah berbasis Muqaddimah tentang tauhid, kemanusiaan, dan kemasyarakatan direinterpretasi dan direaktualisasikan menghadapi masalah dan dimensi kehidupan lainnya ke dalam orientasi baru “gerakan pencerahan” yang mengandung praksis kemanusiaan yang membebaskan, memberdayakan, mencerdaskan, memajukan. Sekaligus mencerahkan kehidupan secara utuh antara aspek lahir dan batin, rasionalitas dan spiritualitas, individu dan kolektif, personal dan sistem impersonal, dunia dan akhirat.
Pandangan berdimensi vertikal (ketuhanan) dan horizontal (kemanusiaan dengan segala aspek dan lingkungannya) merupakan humanisme Islam berwawasan “profetik-antroposentris”, yakni orientasi kemanusiaan berbasis nilai-nilai Ilahi yang teraktualisasi secara fungsional dalam memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan di muka bumi. Kuntowijoyo (2005) memperkenalkan tiga dimensi paradigma Islam yang berwawasan atau berperspektif profetik (kesalahan, kenabian) yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi. Ketiga matra dan proses keagamaan tersebut merupakan penjabaran atau pemaknaan sistem nilai dari “ta’muruna bil-ma’ruf”, “tanhauna ‘an al-munkar”, dan “tu'minu billah” dalam Surat Ali Imran ayat ke-110 yang menjadi ayat inspiratif lahirnya Muhammadiyah tahun 1912.
Muhammadiyah secara teologis memandang kehidupan sebagai sesuatu yang luhur, berharga, dan bermakna sesuai fungsi dan tujuan hidup muslim selain sebagai abdullah (QS Adz-Dzariyat: 56) juga sebagai khalifah di muka bumi (QS Al-Baqarah: 30; Hud: 61). Masalah maupun musibah dalam kehidupan merupakan matarantai dengan anugerah dan jalan hidup yang digariskan Tuhan untuk dihadapi dan dipecahkan. Bukan untuk menjadikan umat Islam meratapinya dan lantas menjadi anti kehidupan. Umat Islam dan warga Muhammadiyah mesti positif-konstruktif dalam menghadapi kehidupan dengan segala aspek dan siklusnya untuk didekati dengan pandangan yang mendalam, luas, dan multi perspektif.
Letakkanlah segala anugerah dan masalah kehidupan yang kompleks dalam dimensi iman, tauhid, dan habluminallah yang terhubung langsung dengan habluminannas, ilmu, ihsan, dan amal shaleh yang bermakna. Pandangan keagamaan dan keilmuan niscaya dijadikan perspektif yang holistik-integratif dengan pendekatan bayani, burhani, dan irfani yang lahir dari dasar nilai-nilai Ajaran Islam yang utuh, menyeluruh, dan berkemajuan guna meraih kebahagiaan hidup sejati di dunia dan akhirat. Jangan mengembangkan pikiran-pikiran negatif, buruk, dan gelap tentang kehidupan dengan mengatasnamakan Islam, yang sejatinya hanya pandangan subjektif bias dari Islam!
Sumber: Majalah SM Edisi 13 Tahun 2024

