Silaturrahmi Sesungguhnya, Lebih dari Bersua

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
262
Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA

Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA

KEDIRI, Suara Muhammadiyah – Syahdan, Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama kali di Gua Hira, vibrasi yang dirasakan Nabi berupa ketakutan yang luar biasa seraya berujar, “Laqad khosyitu 'ala nafsi".

Perkataan Nabi itu disampaikan kepada Khadijah r.a. “Saya betul-betul khawatir bencana akan menimpaku,” ujar Nabi. Mengapa Nabi begitu amat khawatir?

“Karena Nabi punya pengalaman ketika ada di Gua Hira itu didatangi Malaikat Jibril,” beber Muhammad Saad Ibrahim, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sementara, Nabi sendiri sudah sering bertahan di dalam gua tersebut.

“Tapi pengalaman yang paling dirasakan sangat luar biasa ketika turun iqra' bismi rabbikalladzî khalaq yang lima ayat itu (Qs al-Alaq, red),” ujarnya, Ahad (19/4) saat Halal Bi Halal PDM Kota Kediri di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kota Kediri, Jawa Timur.

Atas peristiwa itu, Nabi menemui Khadijah dan menceritakan pengalamannya. “Saya benar-benar takut bencana akan menimpaku,” gundah Nabi. Khadijah memberikan penguatan hati kepada suaminya tersebut.

“Allah tidak akan memberikan bencana kepadamu selama-lamanya,” ucap Khadijah, yang dikemukakan alasan logisnya: menyambung silaturrahmi. Sehingga orang-orang yang melakukan silaturrahim itu menurut hadis tadi ada jaminan dari Allah, tentang keselamatannya,” ulas Saad.

Mengorbitkan kata silaturrahmi, Saad sebut berpokok pangkal dari kata shilah. Kata shilah sendiri derivasinya mencakup berasal dari akar washala-yashilu-silatan yang makna fundamentalnya menyambung, menjalin hubungan. Di sisi lain, kata rahim sendiri, maknanya hubungan kekerabatan, khususnya garis perempuan.

"Silaturahim pada awalnya adalah terminologi untuk membangun hubungan dari keluarga garis perempuan yang saat itu dipandang lemah. Maka silaturrahmi mengandung dua makna utama: relationship dan protection," paparnya.

Ditambahkan sekali lagi oleh Saad, silaturrahmi bukan sekadar pertemuan fisik (face to face), melainkan juga ikatan batin yang mendalam. Ia mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk membangun empati terhadap sesama, terutama mereka yang menderita.

"Yang jauh lebih penting dari tatap muka adalah batin kita. Harus ada rasa empati. Kalau ada orang lapar, kita harus bergerak. Itulah silah dalam konteks relasi yang sesungguhnya," pungkasnya. (Cris/Naf)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PALANGKARAYA, Suara Muhammadiyah - SD Muhammadiyah Pahandut (SDMP) hari ini resmi menginjak usia dua....

Suara Muhammadiyah

26 May 2026

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan Tabligh....

Suara Muhammadiyah

24 September 2023

Berita

MUI Mengajak Solidaritas dan Dukungan YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Krisis kemanusiaan yang luar....

Suara Muhammadiyah

15 September 2023

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Pembinaan akhlak anak tidak hanya berlangsung di rumah dan sekolah, tet....

Suara Muhammadiyah

28 April 2026

Berita

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah – Warga Dusun Prigi, Kalurahan Sidoharjo, Kapanewon Tepus, Kab....

Suara Muhammadiyah

11 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah