Sinergi Dakwah, Habib Umar Kunjungi PP Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

12 October 2026

657
Foto Istimewa

Foto Istimewa

JAKARTA, Suara Muhammadiyah — Ulama terkemuka dari Tarim, Yaman, sekaligus pimpinan Darul Musthafa, Habib Umar bin Hafiz, bersama delegasi Majelis Muwasholah Ulama Muslimin melakukan kunjungan silaturahmi ke Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Senin (12/10). Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk mempererat ukhuwah Islamiyah dan menjajaki kerja sama strategis di bidang pendidikan Islam, penguatan dakwah, serta bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina.

Rombongan diterima oleh jajaran PP Muhammadiyah yang dipimpin Ketua PP Muhammadiyah, Buya Dr. Anwar Abbas. Turut hadir Dr. Imam Ad-Daruqutni, Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah; Dr. Saiful Bahri; Dr. M. Choirin; serta Ustaz Fahmi Salim dari Majelis Tabligh PP Muhammadiyah.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat persaudaraan. Kedua pihak mendiskusikan titik temu antara tradisi keilmuan dan tarbiyah Darul Musthafa dengan visi Islam Berkemajuan Muhammadiyah, sekaligus membahas peluang kolaborasi yang memberikan manfaat langsung bagi umat Islam, khususnya masyarakat Palestina yang terus menghadapi dampak perang dan pendudukan.

Dalam pemaparannya melalui penerjemah, Habib Umar bin Hafiz menjelaskan bahwa metode tarbiyah Darul Musthafa bertumpu pada integrasi tiga fondasi utama agama: Islam, iman, dan ihsan. Islam menjadi landasan pengamalan syariat, iman memperkokoh tauhid dan akidah, sedangkan ihsan menekankan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan pembinaan spiritual agar seorang Muslim semakin dekat kepada Allah SWT.

Menurutnya, pendidikan Islam tidak cukup hanya menyampaikan pengetahuan dan membentuk kecakapan intelektual. Pendidikan juga harus menghadirkan keteladanan (qudwah) dari orang-orang saleh, membangun budaya saling menasihati (tadzkir), serta membiasakan peserta didik menjalani kehidupan berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW.

Pembiasaan tersebut antara lain mencakup salat berjamaah dengan menjaga ketepatan mengikuti imam sejak takbiratul ihram, membaca dan mengkaji Al-Qur'an melalui halaqah, mengikuti majelis keilmuan, menghidupkan zikir harian pagi dan petang, serta menerapkan adab-adab Nabi dalam aktivitas keseharian.

Habib Umar juga memperkenalkan kitab Maqashid Halaqatit Ta'lim sebagai salah satu rujukan manhaj pembelajaran Darul Musthafa yang dapat dipelajari dan dipertimbangkan untuk memperkaya pengembangan pendidikan serta pembinaan keislaman di lingkungan Muhammadiyah.

Gagasan tersebut membuka ruang dialog produktif mengenai penguatan dimensi spiritual, akhlak, dan pembiasaan ibadah dalam sistem pendidikan Islam modern, tanpa mengabaikan kebutuhan pengembangan ilmu pengetahuan dan kompetensi peserta didik.

Dalam pembahasan mengenai dakwah, Habib Umar menekankan bahwa penggunaan sarana modern tidak bertentangan dengan prinsip dakwah bil hikmah. Kemajuan teknologi, media digital, dan internet justru dapat menjadi wasilah yang efektif untuk memperluas penyebaran ilmu, selama digunakan sesuai dengan nilai-nilai syariat.

Ia menilai bahwa berbagai sarana modern dapat dimanfaatkan untuk melayani agama dan umat. Dalam praktiknya, Darul Musthafa juga memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan kitab, menghadirkan kajian, serta menyelenggarakan halaqah dan pembelajaran keilmuan.

Prinsip ini memiliki titik temu dengan orientasi Islam Berkemajuan Muhammadiyah, yang memanfaatkan ilmu pengetahuan, organisasi modern, dan teknologi untuk memperluas pelayanan umat. Tradisi keilmuan, pembinaan ruhani, dan inovasi kelembagaan dapat saling melengkapi dalam membangun dakwah yang mencerahkan sekaligus relevan dengan tantangan zaman.

Aksi Nyata untuk Palestina

Isu Palestina menjadi salah satu pembahasan penting dalam pertemuan tersebut. Habib Umar menegaskan bahwa kepedulian terhadap penderitaan umat Islam merupakan bagian dari tanggung jawab ukhuwah. Penindasan terhadap rakyat Palestina dipandang sebagai manifestasi kezaliman yang menuntut respons moral, spiritual, dan kemanusiaan.

Ia menggarisbawahi tiga bentuk ikhtiar yang perlu berjalan beriringan: doa dan dukungan spiritual, penyaluran bantuan melalui jalur yang amanah, serta program konkret yang menjawab kebutuhan masyarakat terdampak.

Bantuan materi, menurut penjelasannya, perlu disalurkan melalui pihak-pihak tepercaya dengan memperhatikan keamanan dan kondisi di lapangan agar bantuan dapat diterima oleh mereka yang membutuhkan. Dukungan juga perlu menjangkau kebutuhan nonmateri, terutama akses pendidikan bagi anak-anak dan mahasiswa Palestina yang masa depannya terancam oleh perang.

Dalam diskusi tersebut, Habib Umar dan delegasi menyampaikan peluang kerja sama yang dapat dikembangkan bersama Muhammadiyah melalui dua program prioritas.

Pertama, program halaqah Al-Qur'an di Masjid Al-Aqsa.

Program di bawah naungan Waqf Al-Musthafa ini, sebagaimana dipaparkan dalam pertemuan, menyelenggarakan majelis tadarus Al-Qur'an dengan target 12.000 kali khatam setiap bulan. Program tersebut juga melibatkan warga Baitul Maqdis yang memperoleh santunan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Dukungan finansial ini diharapkan turut memperkuat ketahanan sosial masyarakat setempat, menjaga keberlangsungan kegiatan keagamaan, serta membantu warga mempertahankan keterikatan mereka dengan Masjid Al-Aqsa.

Muhammadiyah ditawari peluang untuk menjadi sponsor atau mewakafkan dana bagi satu atau beberapa halaqah secara khusus. Halaqah yang didukung tersebut dapat menggunakan nama Persyarikatan Muhammadiyah sebagai bentuk kontribusi kelembagaan dalam mendukung kegiatan Al-Qur'an dan ketahanan masyarakat Baitul Maqdis.

Kedua, program pendidikan daring bagi pelajar dan mahasiswa Gaza.

Delegasi juga memaparkan inisiatif pendidikan jarak jauh melalui kerja sama dengan lembaga dan universitas di Yordania. Program ini ditujukan untuk menjaga keberlanjutan pendidikan pelajar dan mahasiswa Palestina yang kehilangan akses belajar akibat perang.

Dalam pemaparan tersebut, skema pembelajaran dirancang dengan memperhatikan keamanan peserta, termasuk perlindungan identitas, serta memungkinkan mereka mengikuti pendidikan formal hingga memperoleh ijazah atau sertifikat sesuai ketentuan program dan lembaga penyelenggara.

Muhammadiyah diharapkan dapat berkontribusi dalam bentuk pembiayaan, fasilitas pendidikan, maupun dukungan kelembagaan agar semakin banyak pelajar Palestina memperoleh kembali akses terhadap pendidikan.

Kedua program ini menegaskan pentingnya mengarahkan solidaritas kepada langkah-langkah yang terukur dan berdampak langsung. Dukungan untuk Palestina tidak cukup berhenti pada pernyataan dan kampanye simpati, tetapi harus diwujudkan melalui pembiayaan pendidikan, penguatan kehidupan masyarakat, dan program berkelanjutan yang menjawab kebutuhan nyata.

Dalam pernyataan Habib Umar bin Hafiz menegaskan bahwa agenda utama perjumpaan tersebut adalah memperkuat persatuan umat Islam dan memperluas kerja sama dalam pelayanan terhadap agama dan umat.

“Pembicaraan kita berkisar pada tugas-tugas besar kita dalam mempersatukan umat Muhammad ﷺ semampu kita, serta saling tolong-menolong dalam memberikan pelayanan dan khidmat bagi syariat ini dan bagi umat ini,” ujarnya.

Ia menyampaikan harapan agar pintu-pintu kerja sama yang terbuka dapat melibatkan berbagai organisasi dan lembaga Islam, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia.

Habib Umar turut menyampaikan penghargaan kepada pimpinan dan seluruh jajaran Muhammadiyah atas sambutan yang diberikan. Ia berharap dapat mengunjungi kantor pusat Muhammadiyah di Yogyakarta pada kesempatan mendatang.

“Kami sangat senang dengan arah tujuan, ketulusan, serta tekad kuat mereka untuk memberikan manfaat bagi umat ini dengan cara yang mempersatukan,” ungkapnya.

Ia menutup pernyataannya dengan doa agar Allah SWT menyempurnakan taufik, menjaga keikhlasan, menghimpun umat di atas keridaan-Nya, serta mempertemukan mereka bersama rombongan Nabi Muhammad SAW di akhirat kelak.

Kunjungan Habib Umar bin Hafiz dan delegasi Majelis Muwasholah Ulama Muslimin ke PP Muhammadiyah menegaskan pentingnya membangun hubungan antarlembaga Islam yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Pertemuan ini mempertemukan kekuatan tradisi keilmuan dan tarbiyah dengan pengalaman Muhammadiyah dalam pendidikan, pelayanan sosial, dakwah, dan gerakan kemanusiaan.

Ke depan, peluang kerja sama yang dibahas dapat ditindaklanjuti melalui komunikasi kelembagaan, pematangan skema program, verifikasi mitra pelaksana, serta penyusunan mekanisme pendanaan dan evaluasi yang transparan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Program Wirausaha Merdeka (WMK) Universitas Muhammadiyah Makassar (Un....

Suara Muhammadiyah

24 September 2024

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah – Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta menggandeng SD Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

22 July 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sebanyak 15 UMKM dari berbagai jenis usaha mendapatkan pelatihan fo....

Suara Muhammadiyah

21 February 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Rezeki kerap dipahami oleh sebagian umat Islam sebatas hasil dar....

Suara Muhammadiyah

22 April 2026

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Bertempat di Gedung Kantor Muhammadiyah Ranting Mertoyudan Kab Magela....

Suara Muhammadiyah

3 March 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah