Sinta Apriliana Sari: Apoteker Adalah Penjaga Kualitas Hidup

Suara Muhammadiyah

1 August 2025

921
Istimewa

Istimewa

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Influencer sekaligus apoteker inspiratif Sinta Apriliana Sari menjelaskan bahwa peran apoteker pada abad ke-21 saat ini telah berevolusi secara signifikan. Tidak lagi seperti zaman dahulu yang hanya berkutat di meja resep.

”Saat ini apoteker menjadi bagian integral dalam sistem pelayanan kesehatan yang berfokus pada pasien,” ucap Sinta saat acara seminar nasional bertajuk "Pharmacy Practice in the 21st Century: Challenges, Innovations, and Future Outlook" yang pada Kamis (31/07/2025).

Pelaksanaan seminar ini dalam rangka memperingati dies natalis ke-8 Himpunan Mahasiswa Farmasi (Himprofar) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.

Kompleksitas penggunaan obat, regulasi yang belum optimal, dan keterbatasan akses terhadap data pasien, kata Sinta, masih menjadi tantangan besar dalam praktik farmasi modern.  "Apoteker hari ini dituntut aktif dalam tim medis, memantau terapi, memberi edukasi, hingga terlibat dalam pengambilan keputusan klinis," jelas Sinta.

Di samping itu, Sinta juga menjabarkan ada beberapa tantangan utama yang akan dihadapi apoteker saat ini. Di antaranya risiko interaksi obat akibat polifarmasi, minimnya kolaborasi antarprofesi, birokrasi yang rumit, dan kesenjangan layanan farmasi di negara berkembang. "Tantangan ini diperparah dengan belum kuatnya wewenang apoteker secara klinis serta tekanan etika antara tuntutan bisnis dan keselamatan pasien," terangnya.

Oleh karena itu, menawarkan solusi berupa strategi peningkatan kompetensi, pemanfaatan teknologi adaptif seperti telepharmacy dan e-resep, pentingnya integrasi data pasien lintas profesi. "Kita harus mendorong sistem kesehatan yang kolaboratif, digital, dan tetap berfokus pada kemanusiaan," tuturnya.

Tidak kalah menarik, Sinta juga menyoroti inovasi-inovasi yang sedang berkembang dalam praktik kefarmasian. Misalnya saja seperti 3D printed medicine, penggunaan wearable devices, hingga pemanfaatan artificial intelligence untuk deteksi interaksi obat dan penyesuaian dosis.

Menurutnya, apoteker jangan hanya cukup dengan ilmu yang ada, tetapi perlu terus belajar dan beradaptasi agar tetap relevan di tengah disrupsi teknologi. “Pada abad 21 ini, apoteker bukan hanya penjaga obat, tetapi penjaga kualitas hidup pasien. Kita adalah jembatan antara ilmu, teknologi, dan kemanusiaan,” pungkasnya.***(FK)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Program Studi Program Doktor (S3) Pendidikan Agama Islam (PAI)....

Suara Muhammadiyah

7 September 2025

Berita

CIREBON, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) kembali meneguhkan komitmennya ....

Suara Muhammadiyah

30 September 2025

Berita

TABANAN, Suara Muhammadiyah — Pagi itu suasana sekolah di Kabupaten Tabanan tampak berbeda. Ba....

Suara Muhammadiyah

5 June 2026

Berita

BANDONGAN, Suara Muhammadiyah - Tabligh Akbar Milad ke-113 Muhammadiyah berlangsung meriah berkat ko....

Suara Muhammadiyah

30 November 2025

Berita

LAMPUNG TIMUR, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PDIPM) Lampun....

Suara Muhammadiyah

27 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah