MAGELANG, Suara Muhammadiyah – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menegaskan bahwa pemerintah terus menyiapkan generasi muda agar siap menghadapi perubahan teknologi. Salah satu langkah yang ditempuh ialah memperkuat kemampuan Artificial Intelligence (AI) dan coding, disertai pembinaan karakter serta etika digital.
Hal itu disampaikan Abdul Mu'ti saat menghadiri Silaturahim Keluarga Besar Muhammadiyah (SKBM) yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Borobudur, Ahad (5/7). Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Magelang.
Abdul Mu'ti menjelaskan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menetapkan AI dan coding sebagai mata pelajaran pilihan bagi siswa kelas V sekolah dasar hingga kelas XII. Kurikulum sudah disiapkan dan pelatihan guru terus berjalan. Jika tenaga pendidik telah mencukupi, kedua mata pelajaran itu akan diarahkan menjadi mata pelajaran wajib.
“Anak-anak perlu menguasai teknologi digital dan kecerdasan buatan, tetapi pada saat yang sama juga harus memiliki etika dan keadaban dalam memanfaatkannya,” ujarnya.
Selain AI dan coding, pemerintah juga menyiapkan kebijakan menjadikan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai kelas III sekolah dasar pada 2027. Kebijakan ini diharapkan dapat memperluas akses peserta didik terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang banyak menggunakan bahasa Inggris.
Dalam kesempatan itu, Abdul Mu'ti juga menyoroti penggunaan media sosial di kalangan anak. Ia menyebut pemerintah bersama sejumlah kementerian tengah menyiapkan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun untuk mengurangi dampak negatif ketergantungan gawai terhadap perkembangan intelektual dan kemampuan bersosialisasi.
Sambut Tanwir Muhammadiyah
Tanwir Muhammadiyah yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang akan menjadi forum penting untuk mematangkan berbagai agenda strategis menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-49 pada 2027. Sejumlah isu mendasar, mulai dari perubahan Anggaran Dasar (AD) hingga penyusunan arah gerakan Muhammadiyah untuk 25 tahun ke depan, akan menjadi pembahasan utama.
Abdul Mu'ti, mengatakan sedikitnya terdapat tiga agenda pokok yang akan dibahas dalam Tanwir. Pertama, penyempurnaan Anggaran Dasar Muhammadiyah. Kedua, penyusunan Program Strategis Muhammadiyah periode 2027–2052. Ketiga, penyusunan risalah mengenai arah Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berkiprah di tingkat internasional.
Ia menjelaskan, seluruh hasil pembahasan Tanwir nantinya akan disampaikan kepada peserta Muktamar sebagai bahan kajian sebelum dibahas dan diputuskan dalam forum permusyawaratan tertinggi Muhammadiyah. Langkah tersebut diharapkan memberi kesempatan kepada peserta untuk mempelajari materi secara lebih mendalam sekaligus menyampaikan masukan yang konstruktif bagi kemajuan persyarikatan.
Selain agenda organisasi, Abdul Mu'ti mengungkapkan persiapan penyelenggaraan Muktamar juga terus dipercepat. Pembangunan Gedung Muktamar Aisyiyah ditargetkan selesai dalam dua hingga tiga bulan mendatang. Sementara pembangunan Gedung Muktamar Muhammadiyah saat ini telah mencapai sekitar 60 persen dan diproyeksikan rampung sebelum pelaksanaan Muktamar pada November 2027.
Ia juga mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk mulai mempersiapkan diri menyambut Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-49 yang akan digelar di Sumatera Utara pada November 2027. Menurutnya, Muktamar bukan sekadar agenda organisasi, tetapi momentum untuk memperkuat konsolidasi dan merumuskan arah gerakan Muhammadiyah menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Sementara itu, Ketua PCM Borobudur menegaskan bahwa SKBM bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat konsolidasi gerakan Muhammadiyah, sekaligus menyegarkan semangat dakwah agar tetap relevan dan berkemajuan.
Ia menyampaikan, sekitar 4.000 jamaah hadir dalam kegiatan tersebut. Selain pengajian akbar, panitia juga menggelar bazar UMKM sebagai bagian dari upaya menggerakkan perekonomian warga. (*)

