YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyalurkan 20 ekor kambing kurban kepada masyarakat yang berada di wilayah terdampak konflik sumber daya alam, konflik agraria, dan krisis ekologis di berbagai daerah di Indonesia. Program ini merupakan bagian dari komitmen Muhammadiyah untuk menghadirkan solidaritas kemanusiaan sekaligus menunjukkan keberpihakan kepada kelompok-kelompok masyarakat yang mengalami ketidakadilan ekologis dan tekanan terhadap ruang hidupnya.
Wilayah penerima distribusi hewan kurban meliputi Pracimantoro, Wonogiri (Jawa Tengah), Wadas, Purworejo (Jawa Tengah), Pakel, Banyuwangi (Jawa Timur), Rempang (Kepulauan Riau), serta Sagea, Halmahera Tengah (Maluku Utara). Daerah-daerah tersebut dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian publik karena menghadapi berbagai persoalan terkait konflik agraria, proyek ekstraktif, pembangunan skala besar, maupun kerusakan lingkungan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Ketua LHKP PP Muhammadiyah menyampaikan bahwa penyaluran hewan kurban ini bukan sekadar pelaksanaan ibadah ritual keagamaan, melainkan juga bentuk nyata kepedulian sosial dan keberpihakan Muhammadiyah kepada masyarakat yang sedang memperjuangkan hak atas tanah, lingkungan hidup yang sehat, serta keberlanjutan ruang hidup mereka.
"Iduladha mengajarkan makna pengorbanan, solidaritas, dan keberpihakan kepada mereka yang lemah dan mengalami ketidakadilan. Muhammadiyah ingin hadir membersamai masyarakat yang selama ini menghadapi tekanan akibat konflik agraria dan krisis ekologis," ujarnya.
Menurut LHKP PP Muhammadiyah, konflik sumber daya alam yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia tidak hanya menyangkut persoalan hukum dan ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan kemanusiaan, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan. Masyarakat terdampak kerap menghadapi hilangnya akses terhadap sumber penghidupan, kerentanan sosial, kriminalisasi, hingga ancaman terhadap keberlangsungan budaya dan ruang hidup komunitas mereka.
Di Wadas, misalnya, masyarakat menghadapi konflik yang berkaitan dengan rencana penambangan batu andesit untuk pembangunan Bendungan Bener. Di Rempang, warga menghadapi tekanan relokasi akibat proyek strategis nasional. Sementara di Sagea, Halmahera Tengah, masyarakat menghadapi ancaman kerusakan lingkungan akibat ekspansi industri tambang nikel yang berdampak pada kawasan karst dan sumber-sumber air. Adapun di Pakel, Banyuwangi, dan Pracimantoro, Wonogiri, masyarakat terus menghadapi berbagai persoalan tata kelola sumber daya alam serta ancaman terhadap keberlanjutan lingkungan hidup.
Sebagai bagian dari pelaksanaan program tersebut, Sekretaris LHKP PP Muhammadiyah bersama tim turun langsung ke wilayah penerima manfaat di Jawa Tengah. Pada Jumat, 29 Mei 2026, kunjungan dilakukan ke Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, untuk memastikan penyaluran hewan kurban berjalan dengan baik sekaligus berdialog dengan masyarakat mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi. Keesokan harinya, Sabtu, 30 Mei 2026, kunjungan dilanjutkan ke Desa Wadas, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Dalam kedua kunjungan tersebut, Sekretaris LHKP PP Muhammadiyah menegaskan bahwa kehadiran Muhammadiyah di tengah masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui advokasi kebijakan dan pendampingan sosial, tetapi juga melalui aksi-aksi kemanusiaan yang memberikan manfaat langsung kepada warga. Momentum Iduladha dimaknai sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial, mempererat persaudaraan kemanusiaan, serta menunjukkan kepedulian kepada masyarakat yang tengah menghadapi tantangan dalam mempertahankan ruang hidup dan kelestarian lingkungan.
Kunjungan dan penyaluran hewan kurban tersebut mendapat sambutan hangat dari pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga setempat. Pemerintah Desa Pracimantoro maupun Pemerintah Desa Wadas menyampaikan apresiasi atas perhatian dan kepedulian LHKP PP Muhammadiyah yang hadir secara langsung untuk bertemu dan berdialog dengan masyarakat. Kehadiran Muhammadiyah dinilai sebagai bentuk dukungan moral yang penting sekaligus memperkuat semangat gotong royong dan solidaritas sosial di tengah berbagai persoalan yang dihadapi warga.
Perwakilan pemerintah desa menyampaikan bahwa program penyaluran hewan kurban ini tidak hanya memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat penerima, tetapi juga menunjukkan kepedulian nyata terhadap kondisi masyarakat yang berada di wilayah terdampak konflik sumber daya alam dan krisis lingkungan hidup. Oleh karena itu, pemerintah desa dan masyarakat menyampaikan penghargaan atas komitmen Muhammadiyah yang terus hadir membersamai warga melalui berbagai program kemanusiaan dan pemberdayaan.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Sekretaris LHKP PP Muhammadiyah juga menyaksikan secara langsung berbagai bentuk ekspresi dan aspirasi masyarakat yang masih terlihat di ruang-ruang publik. Berbagai poster, spanduk, mural, dan tulisan yang dipasang warga menjadi penanda bahwa persoalan konflik agraria dan lingkungan hidup masih menjadi perhatian penting bagi masyarakat setempat.
Di Pracimantoro, Wonogiri, sejumlah poster dan spanduk bertuliskan “Tolak Pabrik Semen” masih tampak terpasang di beberapa lokasi. Slogan tersebut menjadi simbol perjuangan masyarakat yang menyuarakan kekhawatiran terhadap potensi dampak aktivitas industri semen terhadap kawasan karst, sumber mata air, lahan pertanian, serta keberlanjutan lingkungan hidup yang menjadi penopang kehidupan warga. Bagi masyarakat, kawasan karst bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup yang memiliki fungsi ekologis penting bagi keberlangsungan generasi sekarang maupun yang akan datang.
Sementara itu, di Desa Wadas, berbagai poster dan media kampanye warga masih memperlihatkan semangat masyarakat dalam mempertahankan ruang hidup mereka. Salah satu slogan yang banyak dijumpai selama kunjungan adalah “Wadas Melawan: Jaga Alam, Jaga Masa Depan.” Slogan tersebut mencerminkan tekad masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan, mempertahankan sumber-sumber kehidupan seperti tanah dan mata air, serta memastikan keberlanjutan ruang hidup bagi generasi mendatang. Pesan-pesan tersebut menjadi bagian dari identitas kolektif masyarakat dalam menyuarakan aspirasi mereka terhadap masa depan lingkungan dan wilayah tempat tinggalnya.
Keberadaan berbagai slogan dan ekspresi masyarakat tersebut menunjukkan bahwa konflik sumber daya alam yang terjadi di Wonogiri maupun Wadas tidak semata berkaitan dengan aspek ekonomi dan pembangunan, tetapi juga menyangkut hubungan masyarakat dengan tanah, lingkungan hidup, budaya lokal, dan masa depan komunitas mereka. Dalam dialog bersama warga, LHKP PP Muhammadiyah mendengarkan berbagai pengalaman, harapan, dan pandangan masyarakat serta menegaskan pentingnya penyelesaian konflik yang mengedepankan dialog, keadilan sosial, penghormatan terhadap hak-hak warga, dan keberlanjutan ekologis.
Melalui penyaluran kurban ini, LHKP PP Muhammadiyah berharap semangat Iduladha dapat memperkuat solidaritas sosial sekaligus mempertegas pentingnya keadilan ekologis sebagai bagian dari nilai Islam Berkemajuan. Muhammadiyah menilai bahwa menjaga lingkungan hidup, melindungi masyarakat terdampak, serta mengupayakan tata kelola sumber daya alam yang adil merupakan bagian penting dari misi keislaman dan kemanusiaan.
LHKP PP Muhammadiyah juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat kepedulian terhadap persoalan konflik agraria dan krisis lingkungan hidup yang terus meningkat di berbagai daerah. Dibutuhkan kebijakan pembangunan yang lebih berkeadilan, partisipatif, dan berpihak pada keselamatan manusia serta keberlanjutan ekologis.
"Kurban bukan hanya tentang distribusi daging, tetapi juga tentang menghadirkan empati sosial dan membangun keberpihakan terhadap mereka yang selama ini berada di garis depan mempertahankan ruang hidup," tutupnya.

