YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Bulan Ramadhan meniscayakan bulan penempaan. Dalam pandangan Haedar Nashir, pada bulan ini, segenap umat Islam di persada buana secara kolektif dilatih oleh Tuhan untuk olah jiwa dan olah pikir.
"Tentu mengalami proses pendalaman yang luar biasa," tegasnya dalam Pengajian dan Iftar Bersama PP Muhammadiyah di SM Tower Malioboro Yogyakarta, Rabu (18/3).
Puasa, kata para ulama dikategorisasikan sebagai riyadhah sanawiyyah, olah jiwa tahunan. Di mana selama 1 bulan lamanya, dilatih untuk menahan diri.
"Bukan untuk tidak boleh selamanya," tegas Haedar. Tetapi, lebih jauh lagi, ruang dan kesempatan untuk mengambil jarak dari urusan-urusan dunia.
"Semua itu agar kita tidak larut di dalamnya," tekan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Tetapi, Haedar mengingatkan agar jangan sampai anti dunia. Melainkan, lewat pengejawantahan ritus ibadah selama Ramadhan, meniscayakan menaklukkan tembok hawa nafsu duniawi yang melampaui takaran.
"Lalu kita menjadi tawasuth (tengahan) dalam urusan dunia," sambung Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah tersebut.
Yang dari situlah dijadikan bentang sajadah panjang dunia sebagai penyemai benih kebaikan secara menyemesta. "Itu untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat," tandasnya. (Cris)
