METRO, Suara Muhammadiyah – Kiai Ahmad Dahlan mendirikan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan pada tahun 1918. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto mendedah akar kata Hizbul Wathan, yakni Hizbun dan al-Wathan.
Kata Hizbun, menurut Agung, ada 3 maknanya; partai, tentara, dan pembela. Sementara, al-Wathan artinya negeri atau tanah air.
“Hizbul Wathan lebih cocok diartikan sebagai Pembela Tanah Air,” ujarnya.
Pada tahun 1918 itu, Kiai Dahlan mendirikan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dengan sokongan jiwa nasionalisme yang sangat tinggi.
“Yang ingin agar anak-anak muda yang dibina oleh Muhammadiyah memiliki kecintaan yang luar biasa atas tanah dan air yang dimiliki,” katanya.
Spirit itulah yang mesti dijadikan revitalisasi dan peneguhan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan. Demikian disampaikan saat pembukaan Tanwir ke-1 Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan di Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Metro, Kota Metro, Lampung, Kamis (8/10).
“Kalau Hizbul Wathan hanya berkutat pada pembinaan-pembinaan yang sifatnya klasik, terbatas kepada latihan baris-berbaris, tali-temali, semaphore, mendirikan tenda, kalau sebatas hanya itu, mungkin minat anak muda itu akan semakin menurun terhadap Hizbul Wathan,” bebernya.
Di situlah relevansi revitalisasi dan peneguhan kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan. Yang hal demikian berkelindan dengan tema Tanwir ke-1 “Meneguhkan Kepanduan Berkemajuan.”
“Itulah inti dari revitalisasi yang harus dilakukan oleh Kepanduan Hizbul Wathan, bagaimana menciptakan Kepanduan yang berkemajuan,” ujarnya.
Kata berkemajuan di situ kata Agung dimaknai harus senantiasa friendly (ramah) dengan kemajuan yang ada saat ini; baik dengan teknologi, informasi, media sosial, dan lain sebagainya.
“Sehingga karenanya itu kunci untuk melakukan revitalisasi bagi Hizbul Wathan,” terangnya.
Bersamaan dengan itu, Agung mendorong Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan perlu melakukan proses regenerasi kepengurusan. Di masa awal, Hizbul Wathan para pengurusnya notabene berasal dari kalangan para senior.
“Sekarang para seniornya masih, tetapi yang muda sudah mulai banyak bertumbuhan,” imbuhnya, lebih lanjut menekankan perlu mempercepat proses regenerasi tersebut.
“Sehingga yang memimpinkan Hizbul Wathan itu tenaga muda yang masih enerjik,” ujarnya, menggarisbawahi lebih lanjut pentingya melakukan revitalisasi tersebut.
“Tentu Pembela Tanah Air tidak cukup dengan slogan NKRI Harga Mati, tetapi harus ada upaya-upaya rasa serius bagaimana menumbuhkan rasa kecintaan kepada Tanah Air dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya sebatas slogan, tapi bisa diimplementasikan dalam berbagai macam pembinaan yang melatih mental, disiplin, kecintaan, dan lain sebagainya,” terangnya. (Cris)

