YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Bulan November 2026 mendatang, Muhammadiyah akan melangsungkan Tanwir dan Milad ke-114 di Palu, Sulawesi Tengah dengan mengusung tema “Bersama Satukan Bangsa.” Demikian disampaikan Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
“Kita pilih Palu karena setelah dari Kupang, kita ingin memberi support kepada masyarakat Palu setelah dulu mengalami musibah besar gempa, di samping Muhammadiyah juga terus membuat amal usaha di sana,” ujar Haedar di sela-sela peluncuran logo Tanwir dan Milad ke-114 di Kantor PP Muhammadiyah, Cik Ditiro, Kota Yogyakarta, Sabtu (12/9).
Menggarisbawahi konteks Tanwir di situ, kata Haedar sebagai persidangan tertinggi di bawah Muktamar. “Ini Tanwir terakhir menjelang nanti Muktamar di bulan November juga tahun 2027 di Medan,” sebutnya. Apa yang di bahas dalam Tanwir tersebut?
“Dan dalam Tanwir besok itu, kita akan membahas program-program Muhammadiyah 25 tahun ke depan,” katanya.
Menurut Haedar, sejak tahun 2000, Muhammadiyah memiliki program strategis yang dirancang dalam jangka 5-25 tahun. Kenapa mengambil program itu? Banyak hal yang mendasarinya, tetapi yang mengerucut karena hidup dalam kontinuitas yang terus berdinamika.
“Dan kita belajar dari pengalaman bahwa misalkan pendidikan. Pendidikan itu tidak mungkin terpotong-potong setiap pergantian pemerintahan. Harus ada sesuatu yang strategis ke depan, biarpun pergantian pemerintahan,” katanya. “Dia harus menjadi aksi pembangunan,” menambahkan.
Sisi lain, tema yang di usung itu, sebut Haedar, secara normatif dan juga realitas empirik, Indonesia punya modal dasar untuk terus bersatu dalam keragaman. Namun, kenyataannya, sebutnya, selalu ada dinamika dalam kehidupan kebangsaan.
“Dari di kondisi itu sering terjadi perbedaan pandangan yang tajam. Yang tajam yang mestinya kita bisa berdialog, kita bisa mencari titik temu, mencari moderasi,” tekan Haedar.
Dalam konteks politik pun demikian. Kendati tidak ada oposisi, kenyataannya di lapangan menunjukkan, kontroversi politik selalu terjadi. Juga menyangkut soal ekonomi, menjadi masalah kompleks saat ini.
“Maka kita ingin lewat Tanwir ini membawa pesan untuk bangsa bahwa modal sosial bersatu kita itu tidak cukup dengan hal-hal yang given atau sudah tersedia, tetapi itu perlu didinamisasi dalam menghadapi berbagai dinamika perbedaan,” bebernya.
Di situlah berlaku fungsi kepemimpinan, mesti terejawantah tersistem dari tingkat pusat sampai bawah, baik di pemerintahan maupun di organisasi kemasyarakatan. Supaya apa? “Konsepsi menyatukan bangsa di tengah keragaman itu menjadi platform bersama, bukan pikiran sendiri-sendiri,” tegas Haedar. (Cris)

