YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam waktu dekat, Muhammadiyah akan melaksanakan Tanwir yang dirangkaikan dengan Milad ke-114 di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis-Sabtu (19-21/11). Tema yang diusung yaitu “Bersama Satukan Bangsa.”
“Sebelum ini, kita sudah menyelenggarakan Tanwir di tempat Muhammadiyahnya yang masih kecil, yakni di Kupang,” ujar Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman.
Kenapa Kupang dipilih Muhammadiyah melaksanakan Tanwir di Universitas Muhammadiyah Kupang tahun 2024 lalu yang mengusung tema “Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua?”
“Kupang dan seluruh Nusa Tenggara Timur itu menjadi provinsi yang toleransinya luar biasa,” bongkar Agus, Sabtu (10/10) saat Resepsi Milad ke-105 LKSA Yatim Putra Muhammadiyah (YPM) Lowanu Yogyakarta.
Bukti konkretnya apa? Universitas Muhammadiyah Kupang mayoritas mahasiswa beragama Kristen. “Mahasiswa kita di Kupang itu sekitar 70% adalah mahasiswa yang bukan beragama Islam,” singkapnya.
Namun, ketika Muhammadiyah melaksanakan Tanwir di City of Coral atau Kota Karang tersebut, justru respons masyarakat setempat adalah menyambut dan mendukung acara itu sangat baik.
“Semuanya saling mendukung, bahkan kemarin teman-teman kita yang bukan beragama Islam ikut menyukseskan kepanitiaan tanwir itu,” beber Agus.
Lebih-lebih lagi, ada orang non-muslim justru menyerahkan dan menghibahkan tanahnya ke Muhammadiyah dengan catatan untuk dibangunkan gedung sekolah.
“Setelah kita bikinkan sumber air, barang-barang (persekolahan) di situ terus dipakai,” lanjutnya.
Karena itu, di Nusa Tenggara Timur (NTT) muncul istilah Krismuha (Kristen-Muhammadiyah). Kemunculan istilah itu lahir dari penelitian Abdul Mu’ti dan Fakar Riza Ul Haq sebagai gambaran orang-orang Kristen yang memahami dan mendukung gerakan Muhammadiyah.
“Kami Kristen tapi saya Muhammadiyah. Kenapa? Karena merasa bersama-sama membangun bareng. Istilah kita, saya Kristen tapi dibesarkan di Muhammadiyah,” ujarnya.
Itulah manifestasi otentik spirit dakwah Islam bernapaskan rahmatan lil ‘alamin, Islam sebagai agama rahmat bagi alam semesta. “Maka kehadiran Muhammadiyah harus mencerahkan kepada siapa pun,” tegasnya.
Dan setelah Kupang, kini giliran Kota Lima Dimensi itu yang mendapat jatah sebagai tuan rumah Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah. Kenapa harus memilih kota tersebut?
“Kita pindah ke Palu yang Muhammadiyahnya juga masih kecil. Mudah-mudahan bersamaan dengan Tanwir nanti kita bisa meresmikan rumah sakit kita di sana sebagai bagian dari kontribusi Muhammadiyah kepada umat dan bangsa. Semoga Tanwir berjalan dengan baik,” pungkas Agus. (Cris)

